Kamis, 28 Mei 2015~01:46 WIB

Pause
  • 1

  • 2

  • 3

  • 4

  • 5

  • 6

  • 7

MENARAnews, Medan - Puluhan wartawan melakukan aksi di depan Biro Rektor USU terkait penganiyaan wartawan orbit ketika melakukan peliputan demo Mahasiswa USU kemarin (21/5).

Wartawan Orbit yang melakukan peliputan aksi dikeroyok dan dipukul menggunakan tongkat bambu oleh Satpam USU. Wartawan pun meminta agar Pj Rektor USU bertanggung jawab atas tindakan ini. Namun saat berdemo, tak satupun perwakilan dari universitas yang menjumpai para wartawan. 

Wahyudi mengatakan saat ini Pj Rektor USU dan pejabat lainnya tidak ada di tempat. Bahkan Humas USU juga tidak memberikan keterangan apa-apa terkait kriminalisasi terhadap wartawan.

Dalam orasinya, Ari (Sindo Radio) meminta agar satpam yang melakukan tindakan represif diproses secara hukum. "Proses hukum harus dijalankan, kami wartawan adalah profesi yang dilindungi hukum", ujarnya.

Sempat terjadi sedikit kericuhan ketika ada oknum yang merekam demo dari dalam usu dan coba memprovokasi wartawan yang berdemo. namun kondisi ini dapat dikendalikan massa aksi.

Sementara itu, pihak USU terkesan seolah buang badan atas peristiwa penganiyaan wartawan yang sedang bertugas. Dilihat dari tidak ada satupun perwakilan USU yang datang untuk mengkonfirmasi. Hal tersebut menjadi perhatian para wartawan yang melakukan aksi massa.

Karena tak mendapatkan tanggapan dari USU, wartawan melanjutkan demo ke Polresta Medan untuk menjumpai kapolres terkait kasus ini. Wartawan meminta Kapolresta Medan menindak secara hukum kasus kekerasan terhadap wartawan Orbit tersebut. (yug)

{relatednews}

MENARAnews, Medan (Sumut) -  Kericuhan dan aksi pemukulan oleh petugas keamanan USU berlanjut pada pengaduan hukum ke Polresta Medan. Dua wartawan Harian Orbit, Jamalum Berutu dan Irvan Rumapea yang mengalami pemukulan, sore ini (21/5) bersama tim hukum harian Orbit mendatangi Polresta Medan untuk membuat pengaduan.

Kedua korban menyebutkan, pemukulan terjadi pada saat wartawan tersebut hendak mengambil foto pada saat mulai terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dan petugas keamanan USU.

“Saya dikejar dan dikerumuni enam petugas sekuriti,” terang Jamalum Berutu.

Naas, Irvan yang berusaha membantu ikut dipukuli dengan rotan dan kayu yang dibawa oleh petugas keamanan USU. Akibatnya, kedua wartawan tersebut mengalami luka dan memar. Bahkan, wartawan lain juga ditengarai ikut mendapat makian dari petugas keamanan tersebut. Turut beredar kabar bahwa petugas juga merusak motor yang dibawa oleh mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa.

Pengaduan yang dibuat oleh pihak harian Orbit hari ini telah terdaftar di Polresta Medan dengan nomor STTLP/1285/K/V/2015/SPKT Resta Medan. Sejumlah pihak juga menyayangkan aksi kekerasan terhadap wartawan yang terjadi di lingkungan intelektual tersebut. (AK)

{relatednews}

MENARAnews, Medan (Sumut) -  Puluhan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan unjuk rasa di depan Gedung Biro Rektor, Kamis (21/5). Sebelum memulai aksi, mahasiswa yang tergabung dari beberapa fakultas bergerak dari sekretariat Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) menuju biro rektor, pagi pukul 11.00 WIB.

MENARAnews, MEDAN – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 pada 01-05 Agustus mendatang di Jawa Timur, Perwakilan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera bagian Barat menggelar Pra Muktamar di Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar Medan pada 16-18 Mei.

MENARAnews, Jakarta - Tepat 17 tahun silam, insiden berdarah di tengah kerusuhan Semanggi terjadi. Mahasiswa Trisakti menggelar aksi demonstrasi di depan Istana Merdeka, menagih janji pemerintah untuk mengusut kasus itu pada Selasa (12/5).

MENARAnews, Medan (Sumut) - Di saat kas Pemrov Sumut kosong dan berhutang pada sejumlah rekanan pemborong senilai ratusan milyar, ternyata pemerintahan dibawah komando Gatot Pujonugroho ini memberi "hadiah" kepada Kapolda Sumut, sebuah mobil mewah berharga fantantis, Rp.1,92 Milyar lebih.

MENARAnews, Amuntai (Kalsel) - Kepala Balai Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kalimantan Selatan Amin Amanullah mengatakan sebanyak 20 persen tenaga kerja Indonesia tidak bisa baca tulis sehingga sangat rentan menjadi sasaran hal-hal yang tidak diinginkan.

Hide Main content block

News