BI KPw Bali, Lakukan MoU Pengembangan Klaster Ayam Pedaging Dengan Kabupaten Badung

MENARAnews.com, Denpasar(Bali) – Bank Indonesia (BI) KPw Provinsi Bali melakukan MoU dengan Kabupaten Badung, Bali. Mou, terkait pengembangan klaster ayam pedaging dengan pendampingan selama 3 tahun, menyeluruh dari hulu ke hilir. Pemilihan Ayam pedaging dipilih, karena mengingat penciptaan ekonomi masyarakat di sektor hilir jauh lebih beragam hasil produk pengembangannya dibandingkan ayam petelur, itu disampaikan,Kepala BI KPw Bali Causa Iman Karana di Badung, Bali, Senin,(6/5/2019).

“Terkait kerjasama yang akan dilakukan dengan Kabupaten Badung dalam pengembangan klaster ayam pedaging berupa kolaborasi bantuan antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali dengan Pemerintah Kabupaten Badung kepada kelompok ternak, dimana bantuan sarana prasarana lebih banyak diberikan oleh Kabupaten Badung, sementara dukungan pendampingan dan batuan teknologi tepat guna oleh Bank Indonesia,” jelasnya.

Dilanjutkan, sebelumnya kelompok yang direkomendasikan oleh Pemerintah Kabupaten Badung untuk menerima bantuan dan pendampingan sebanyak 3 kelompok.

“3 kelompok direkomendasikan oleh Pemerintah Kabupaten Badung untuk menerima bantuan dan pendampingan seperti, Desa Blakiuh dan Desa Taman, dan terpilih KTT Jaya Perkasa Mandiri dari Desa Taman, Kec. Abiansemal, Kab. Badung dengan anggota 24 orang,” ujarnya.

Disampaikan, tercatat, ayam Pedaging dan Petelur merupakan salah satu komoditi penyumbang inflasi daerah. Inflasi kelompok daging ayam ras secara (m t m) di Provinsi Bali pada akhir triwulan I, II, III, IV 2018 masing-masing adalah sbb: -1,97%, 4,57%, -9,43%, dan 8,14%, serta tw I 2019 serta -1,65%.

“Selama ini pengembangan ayam pedaging dan petelur masih bergantung terhadap perusahaan besar sebagai pengendali DOC (Day Old Chicken) dan Pakan. Khusus di Provinsi Bali terutama di Kabupaten Badung memiliki permintaan akan komoditi daging ayam ras dan telur ayam ras cukup tinggi. Hal ini mengingat Kabupaten badung sebagai sentra pariwisata Bali mengelola permintaan komoditas daging ayam yang cukup tinggi meliputi hotel, restoran, catering dan masyarakat, sehingga mempengaruhi fluktuasi harga komoditas daging ayam dan telur ayam. Selain itu juga, penciptaan ekonomi masyarakat di sektor hilir jauh lebih beragam hasil produknya dengan pengembangannya dibandingkan ayam petelur,” papanya

Menurut Iman Karana, jika dilihat pengembangan klaster telah terbukti berhasil untuk Kabupaten lain dengan sistem pendampingan yang sangat baik.

“Saat ini, Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali membina klaster UMKM yang terdiri dari kelompok Volatile Food yaitu 2 peternakan sapi, 2 pertanian padi, 2 pertanian bawang merah-putih, dan 1 pertanian cabai.Selain itu, pembinaan juga dilakukan untuk produk komoditas ekspor di 5 kabupaten, antara lain kopi arabika Kintamani, kakako Jembrana, tenun, dan silver; serta kelompok pariwisata dan syariah,” pungkasnya. (DI)

Editor: N. Arditya