Meski Ekonomi Bali Bertumbuh Baik, Kualitas Wisman Justru Menurun

MENARAnews.com, Denpasar (Bali) – Ditengah pertumbuhan ekonomi Bali yang kian membaik pada triwulan II 2019, sayangnya tak diikuti pula dengan kualitas wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Bali. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, menyebutkan adanya penurunan kualitas wisman menjadi salah satu tantangan ekonomi Bali ke depan, saat mengunjungi kantor Ombudsman Bali untuk membicarakan outlook ekonomi Bali 2019.

“Jumlah wisman ke Bali terus menurun, kualitas wisman juga menurun, terlihat dari turunnya spending wisman baik dari data Disparda maupun data superwisman Bali,” katanya di Denpasar, Selasa (24/9/2019).

Trisno menjelaskan penurunan kualitas wisman di Bali sejalan dengan terus meningkatnya jumlah kunjungan wisman China.

Apalagi wisman asal China ini memiliki spending power dan length of stay terendah di antara negara utama wisman di Bali.

“Berdasarkan hasil superwisman setiap tahun, kemacetan dan sampah selalu menjadi faktor yang dijadikan alasan wisman,” tegasnya.

Ia menyebutkan, spending wisman Australia tertinggi mencapai Rp 16.651.430, disusul spending wisman Eropa Rp 14.193.473. Sementara spending wisman China paling rendah hanya Rp 8.814.685 saja.

“Semakin berkembangnya tujuan destinasi negara lain, mendorong semakin meningkatnya kunjungan wisman ke negara tersebut. Sehingga Bali perlu terus berbenah, termasuk dalam hal promosi untuk semakin menarik wisman,” jelasnya.

Beberapa pesaing Bali, adalah negara tetangga dari Indonesia yaitu Thailand, Vietnam, Filiphina, dan Malaysia.

Beberapa keunggulan negara tetangga ini, adalah transportasi dan fasilitas umum yang lebih baik.

Kemudian kuliner lebih murah, kondisi lebih tenang, lingkungan lebih natural, biaya lebih murah. Pantai lebih bersih, fasilitas umum lebih baik, dan sebagainya.

Trisno menyebutkan prospek pertumbuhan ekonomi Bali 2019 antara 5,7-6,1 persen berada di bawah 2018 sebesar 6,35 persen.

“Faktor penahan, seperti tingginya harga tiket pesawat dan penerapan bagasi berbayar juga mengambat,” jelasnya. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, memberikan saran pengembangan pariwisata Bali ke depan lebih difokuskan pada pengembangan wisata minat khusus.

Sejalan dengan itu, pengembangan zonasi destinasi wisata merupakan upaya mendorong pemerataan pengembangan destinasi wisata.

Faktor pendukung, kata dia, bandara internasional, pelabuhan untuk cruise, rumah sakit bertaraf internasional, dan tersedianya infrastruktur MICE.

Kemudian tersedianya destinasi wisata minat khusus seperti wisata sport, wisata kesehatan, dan wisata yang memadukan atraksi budaya dan pertanian.

“Strateginya mendorong pengembangan wisata minat khusus berupa MICE, medical tourism, dan sport tourism,” tegasnya.

Kemudian pengembangan desa wisata, pemasaran, standar industri pariwisata termasuk sertifikasi SDM, dan informasi pariwisata.

Baginya, bandara sangat penting mengingat 90 persen wisatawan ke Bali melalui jalur udara.

Sehingga pengembangan Bandara Internasional Ngurah Rai 2019-2023 harus dilakukan. Khususnya untuk perpanjangan runway, apron, dan penambahan terminal penumpang.

“Sebab ketergantungan akses melalui udara dan keterbatasan infrastruktur juga menjadi tantangan perekonomian Bali,” sebutnya. (DI)

 

Editor: N. Arditya