Soroti Polemik Perpindahan Agama, GKI Denpasar Gelar Dialog Lintas Agama

MENARAnews, Denpasar (Bali) – Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Denpasar menggelar dialog kebangsaan bertajuk “Merajut Perbedaan Dalam Persatuan”.

Acara ini menghadirkan narasumber para pemuka agama dari enam agama yang ada di Denpasar. Dialog kebangsaan yang diwakili oleh tiap pemuka agama di Denpasar tersebut berdiskusi dan berbagi tentang apa yang diajarkan dalam kitab suci agama-agama terkait sikap menghargai/penghormatan kepada orang lain yang berbeda kepercayaan. Sekaligus menanggapi terkait fenomena “pindah agama” yang belakangan ini sedang ramai di pertelevisian, dilihat dari sudut pandang pemuka agama.

Koordinator acara, Phebe Amadea mengatakan, dialog lintas agama ini baru dilakukan pertama kali dan pemilihan tajuk “Merajut Perbedaan Dalam Persatuan” dalam forum dialog ini berkaitan dengan polemik perpindahan agama yang menjadi isu hangat di Indonesia.

“Tema ini diangkat selain karena sedang menjadi isu hangat di masyarakat namun juga untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat meski berbeda agama tetapi tetap satu,” ungkapnya, Jumat (16/8/2019).

Narasumber dengan masing-masing agama menyampaikan pandangannya terkait perbedaan agama dan perpindahan agama secara bergiliran. Diawali dari perwakilan Kristen oleh Pdt. I Ketut Sudiana. M.th dari Musyawara Pelayanan Umat Kristen (MPUK) Denpasar.

“Perbedaan itu indah. Mari kita lakukan yang baik-baik dengan sesama sebagai bukti sebuah kebenaran untuk membangun Indonesia,” ucapnya dalam dialog.

Dilanjutkan oleh perwakilan Buddha, Pandita Herman Sudanto Wijaya, SE. dari Perwakilan Umat Budha Indonesia (WALUBI) Denpasar.

“Tugas pemuka agama adalah merangkul umatnya untuk tetap menjaga toleransi. Ada 4 pilar kebangsaan yang harus kita pertahankan yakni NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 1945. Mabuk agama tidak hanya menghancurkan agama sendiri, tapi juga agama lain bahkan menghancurkan persatuan kesatuan Indonesia,” ucapnya dalam dialog.

Disambung oleh perwakilan Islam, Drs. H. Saefudin dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Denpasar.

“Berbeda agama demikian juga berpindah agama itu sebuah keniscayaan. Jika itu terjadi tetaplah berbasis pada kerukunan, karena kita adalah indonesia,” ucapnya dalam dialog.

Perwakilan Katolik oleh Romo Paskalis Nyoman dari Keuskupan Denpasar.

“Jangan kita saling menghakimi sesama kita. Kita ini beragam. Kita tidak hanya sekedar ada bersama. Tetapi saling menghidupi. Keberadaan kita bermakna untuk bangsa dan negara kita,” ucapnya dalam dialog.

Perwakilan Konghucu oleh Js. Drs. Putu Shantiro dari Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Denpasar.

“Indonesia sangat beragam. Kita akan bermakna di mata Tuhan apabila kita melaksanakan firmannya. Takwa kepadanya bukan karena formalitas agamannya,” ucapnya dalam dialog.

Perwakilan Hindu oleh I Nyoman Kenak,SH dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Denpasar.

“Kita semua adalah saudara, janganlah dipandang dari perbedaan itu sendiri, seperti tema dialog saat ini “Merajut Perbedaan Dalam Persatuan”, semoga tidak hanya menjadi sebuah slogan,” ucapnya dalam dialog

Acara yang diadakan oleh Panitia Semester II GKI Denpasar ini diharapkan dapat mewujudkan persatuan di Indonesia terutama dalam menghadapi dan menghargai perbedaan dalam hal Agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Diakhir dialog, para narasumber melakukan penandatanganan prasasti secara simbolis sebagai sikap merajut perbedaan dalam persatuan. (DI)

 

Editor: N. Arditya