Resmi Dibangun, Bendungan Sidan Bali Ditargetkan Rampung 2021

MENARAnews.com, Denpasar (Bali) – Pembangunan Bendungan Sidan di perbatasan tiga kabupaten yakni Badung, Bangli, dan Gianyar secara resmi dimulai, ditandai dengan ground breaking (peletakan batu pertama) yang dilakukan Gubernur Bali Wayan Koster, Kamis (4/4/2019). Proyek Bendungan Sidan yang bernilai Rp 786,32 miliar ini ditarget selesai tahun 2021 mendatang.

Koster mengatakan bendungan Sidan ini bakal memenuhi suplai air baku di Bali. Apalagi saat ini Bali masih defisit air baku.

“Tujuannya untuk menyediakan air baik untuk keperluan irigasi pertanian, khusus ya untuk kebutuhan masyarakat air minum karena Bali masih kekurangan air bersih,” jelas Koster.

Secara umum, Bendungan Sidan yang merupakan proyek strategis pemerintah pusat, dibangun di atas lahan seluas 82,73 hektaer di 5 desa bertetangga pada 3 kaupaten di Bali. Pertama, wilayah Desa Bilok Sidan, Kecamatan Petang, Badung. Kedua, wilauah Desa Buahan Kaja, Kecamatan Payangan, Gianyar. Ketiga, kawasan Desa Langgahan, Kecamatan Kintamani, Bangli. Keempat, kawasan Desa Mengani, Kecamatan Kintamani, Bangli. Kelima, kawasan Desa Bunutin, Kecamatan Kintamani, Bangli.

Bagian terluas bangunan fisik Bendungan Sidan berada di Desa Belok Sidan, yakni mencapai 27,06 hektare. Sedangkan luas fisik bendungan di kawasan Desa Buahan Kaja mencapai 25,23 hektare. Menyusul kemudian di kawasan Desa Bunutin (luasnya mencapai 17,74 hektare), di Desa Mengani (seluas 15,89 hektare), dan di kawasan Desa Langgahan (hanya 0,77 hektare).

Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Bendungan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida, I Gusti Putu Wandira, mengatakan pembebasan lahan bendungan sedang berproses. Menurut IGP Wandira, masalah harga lahan sudah masuk dalam penilaian harga dari Tim Appraisal (tim independen penaksir harga).

“Tim Appraisal masih bekerja. Nanti setelah keluar berapa harga satuannya, akan kami sosialisasikan kembali kepada masyarakat,” papar Wandira saat ditemui di Kantor BWS Bali Penida, Selasa kemarin (16/4/2019).

Meskipun pembebasan lahan masih berproses, kata Wandira, masyarakat setempat sudah memberikan izin pengerjaan Bendungan Sidan, khususnya untuk membuka akses jalan, sehingga memudahkan alat berat menjangkau lokasi. Akses jalan yang telah dibangun itu panjangnya mencapai 3 kilometer, dengan lebar 7 meter.

Akses jalan masuk menuju Bendungan Sidan itu dibuat dari jalur Banjar Selantang, Desa Bilok Sidan, Kecamatan Petang. Akses jalan menuju lokasi Bendungan Sidan tersebut sudah dimulai sejak November 2018 lalu.

“Sekarang akses jalan sudah terbuka menuju lokasi bendungan. Besok (hari ini) kami akan dilaksanakan peletakan batu pertama. Rencananya, Pak Gubernur Koster secara simbolis yang meletakkan batu pertama proyek Bendungan Sidan,” tegas Wandira.

Selain Bendungan Sidan, pada saat hampir bersamaan juga dibangun Bendungan Tamblang di wialayah Buleleng Timur. Proyek Bendungan Tambang senilai Rp 700 miliar yang ditarget rampung tahun 2022 ini, dibangun di atas lahan seluas 58,79 hektare di empat desa bertetangga kawasan Kecamatan Kubutambahan dan Kecamatan Sawan, Buleleng.

Keempat desa yang dijadikan areal Bendungan Tamblang tersebut, masing-masing Desa Bila (Kecamatan Kubutambahan), Desa Bontihing (Kecamatan Kubutambahan), Desa Sawan (Kecamatan Sawan), dan Desa Bebetin (Kecamatan Sawan). Dari luas lahan bendungan mencapai 58,79 hektare yang dibebaskan itu, terbanyak berada di Desa Sawan, Kecamatan Sawan seluas 38,59 hektare. Menyusul kemudian di Desa Bila (Kecammatan Kubutambahan) seluas 12,2 hektare, di Desa Bontihing (Kecamatan Kubutambahan) seluas, 6,49 hektare, dan di Desa Bebetin (Kecamatan Sawan) seluas 1,49 hektare.

Bendungan Tamblang dengan luas genangan 358.585 meter persegi dan tinggi mencapai 68 meter ini diperkirakan mampu menampung air hingga 7 juta meter kubik. Air yang dialirkan ke Bendungan Tamblang bersumber dari Tukad Daya di Desa Tamblang, Kecamatan Kubutambahan. Bendungan Tamblang diproyeksikan untuk penyediaan air baku dengan debit 510 liter per detik. Di samping itu, Bendungan Tamblang juga akan menjadi objek wisata dan airnya sekaligus untuk mengairi persawahan di dua kecamatan wilayah Buleleng Timur.

Sementara itu, penggarapan Bendungan Tamblang di Buleleng Timur masih menunggu hasil indentifikasi berupa peta bidang lahan yang dibebaskan, dari Badan Pertanahan Negara (BPN) Buleleng. Setelah data fisik diterbitkan, proses akan dilanjutkan dengan pembayaran ganti rugi atas lahan yang dibebaskan.

“Permohonan kami ke BPN sudah ditindaklanjuti. BPN sudah membentuk tim, mungkin pekan depan mereka sudah mulai bekerja. Harapan kami, dua pekan ke depan sudah ada hasil indentifikasi itu,” terangnya

Ketika hasil indentifikasi sudah keluar lengkap dengan data fisik berupa peta bidang lahan yang dibebaskan, kata Wandira, maka proses berikutnya adalah penentuan nilai ganti rugi. Dalam tahap ini, BWS Bali Penida akan melibatkan tim appraisal untuk menilai harga ganti rugi yang layak terhadap lahan yang dibebaskan.

“Apakah nanti menunjuk langsung tim appraisal atau ditenderkan, ini tergantung dari nilai kontraknya,” tegas Wandira.

Disinggung hasil sosialisasi penetapan lokasi (Penlok) Bendungan Tamblang, menurut Wandira, selama ini tidak ada pemilik lahan yang mengajukan keberatan. Intinya, pemilik lahan sudah menyetujui lokasi pembangunan Bendungan Tamblang akan memanfaatkan lahan mereka.

“Selama sosialisasi tidak ada yang keberatan, mereka sudah sepakat sebelumnya, kalau lahan miliknya akan dibebaskan untuk lokasi pembangunan Bendungan Tamblang,” jelasnya. (DI)

 

Editor: N. Arditya