Masih Adanya Diskriminasi Terhadap Perempuan dan Disabilitas

MENARAnews, Pekanbaru (Riau) – Perempuan dan kaum disabilitas terkadang masih mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan bahkan sampai kepada tindakan diskriminasi. Hal ini disampaikan di dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh KASAI (Koalisi Anti Diskriminasi Riau).

 

Ketua Penyelenggara diskusi yakni Santi menyampaikan bahwa masih ada kelompok – kelompok marjinal di Riau yang mengalami tindakan diskriminasi.

 

“Saat ini, banyak kelompok marjinal di Riau yang masih mengalami tindakan diskriminasi,” tutur Santi dalam diskusi tersebut yang mengangkat tema “Hapuskan Segala Bentuk Kekerasan Struktural Wujudkan Pemilu Anti Diskriminatif”.

 

Dalam acara tersebut, turut hadir juga Amirudin Sijaya dan Neil Antartiksa dari Komisioner Bawaslu Riau, serta perwakilan dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), Liyani dan Leni Febri.

 

Sebenarnya, terdapat kuota sebesar 1% dalam setiap perusahaan baik perusahaan swasta maupun perusahaan milik pemerintah. Hal ini sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh Liyani.

 

“Terdapat kebijakan perihal penempatan 1% disabilitas di setiap perusahaan baik swasta maupun pemerintah, namun kenyataannya kuota tersebut belum terpenuhi di setiap perusahaan dan instansi pemerintahan”, jelasnya (1/12/2018).

 

Tidak hanya di dunia kerja, diskriminasi juga kerap dirasakan oleh beberapa kamu marjinal di dalam persiapan maupun proses dalam kegiatan pemilihan suara.

 

Leni, salah satu anggota HDWI menjelaskan bahwa dirinya pernah menjadi salah satu korban diskriminasi atas keterbatasannya.

 

“Dulu ketika Pemilihan Gubernur Riau, pernah sempat diterima oleh KPPS, tapi nama saya dicoret karena mendapat diskriminasi dari petugas KPPS lainnya” tutur Leni.

 

Padahal menurut data, kaum marjinal seperti perempuan maupun kelompok disabilitas, memiliki jumlah suara yang cukup menentukan dalam pemilihan.

 

“Suara perempuan sebenarnya sangat menentukan, karena dari 3,8 juta suara di Riau, lebih dari setengahnya merupakan perempuan”, jelas Amir.

 

Amirudin juga menjelaskan bahwasanya diskriminasi yang terjadi saat ini cukup sulit diatasi karena sudah menjadi budaya. Namun pihaknya menjelaskan akan tetap melakukan berbagai usaha untuk mengurangi hal tersebut.

 

“Pandangan Diskriminasi terhadap perempuan dan kelompok disabilitas sudah menjadi budaya. Hal ini susah diubah, namun bukan berarti tidak ada usaha untuk memperbaikinya.” jelasnya. (SZ)