spot_img

Diduga Sebagai Media Propaganda KKB, Jubi.co.id Dilaporkan ke Dewan Pers dan Polisi

JAYAPURA – Forum Lintas Kerukunan Nusantara (FKLKN) Provinsi Papua menilai, pemberitaan Jubi Online meresahkan guru dan seluruh pendatang di pedalaman Papua. Pemberitaan soal mata mata sehingga mereka menjadi korban penembakan KKB (kelompok kriminal bersenjata) yang terjadi di Beoga, Kabupaten Puncak.

FKLN Provinsi Papua menilai, pemberitaan yang diterbitkan oleh Jubi.co.id dengan judul ‘Guru di Beoga, Puncak ditembak karena kerap dijumpai membawa pistol’ dinilai telah menggiring opini berupa penyebaran informasi yang tidak benar atau memprovokasi.

Koordinator FKLKN Provinsi Papua, Junaedi Rahim didampingi Ketua HKJM Sarminanto, Ketua K3 Yorrys Lumingkewas dan perwakilan Suku Buton, Padang, Pasundan serta Ikatan Keluarga Toraja dan Paguyuban lainnya di Kota Jayapura, Papua, Minggu (19/4/2021) mengatakan, media Jubi memberitakan bahwa guru itu adalah mata-mata, dan ini tidak benar.

Tentu kami minta media itu, agar aparat untuk segera diselidiki, karena sudah membuat provokasi yang tidak benar, dan nanti akan menimbulkan banyak opini dipublik,” tegasnya dihadapan wartawan.

Menurut dia, seharusnya berita yang disajikan itu dimuat lebih berimbang dengan menghadirkan pernyataan dari pihak atau instansi terkait agar lengkap dan tidak menimbulkan pemahaman yang salah, sehingga tidak terkesan mendeskreditkan atau menyudutkan profesi seorang guru ataupun oknum warga. Karena stigma sebagai mata-mata bisa tersemat kepada siapa saja, terutama warga non Papua.

“Korban itu adalah guru dan ada juga tukang ojek yang tidak pernah berafiliasi terhadap politik atau apapun, mereka hanya masyarakat biasa, hanya guru. Dan itu kita sudah kami tanyakan kepada pihak keluarga, bahwa mereka betul-betul sebagai guru dan sekaligus membantah pernyataan dari kelompok tertentu atau pun pemberitaan dari Jubi yang beritakan hoax karena sumbernya tak jelas,” tambahnya.

Terkait hal ini, Junaedi mengaku pihaknya akan segera menelaah lebih detail lagi soal pemberitaan yang diyakini telah merugikan publik dan bisa menimbulkan pandangan yang salah soal keberadaan guru serta warga non Papua.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,045PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles