Jurus Jitu Menang Hadapi Hoaks: Konsistensi Narasi dan Rangkul Pemuka Agama

MENARAnews, Produksi hoaks di awal tahun 2021 mengalami peningkatan, yakni hoaks mengenai vaksin Covid-19. Hal ini dikarenakan masyarakat percaya bahwa vaksinasi adalah konspirasi atau disebut juga persekongkolan.


Demikian hal tersebut disampaikan oleh Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Septiaji Eko Nugroho saat diwawancara melalui aplikasi telekonferensi, (14/1/2021).


Ia menambahkan, selain literasi, permasalahan lainnya terkait hoaks adalah kepercayaan (trust). Ia menjelaskan bahwa literasi yang kurang dan ditambah dengan kepercayaan yang kurang, maka dampak dari penyebaran hoaks lebih signifikan.


“Problem utama trust. Literasi kurang dan trust yang kurang, dampaknya lebih signifikan,” tegasnya.


Dalam menangani hoaks pandemi Covid-19, kekompakan antara pemerintah, akademisi dan media masih kurang. Strategi komunikasi pemerintah yang bermasalah telah berkontribusi dalam penyebaran hoaks berupa pernyataan pemerintah yang bersifat parsial dan tidak memandang permasalahan secara kompleks.


“Masa pandemi ini kekompakan lemah, ada pernyataan inkonsisten antarpemerintah atau komunikasi publik pemerintah lemah, seperti narasi Menteri Kesehatan yang lama yang menyatakan bahwa virus bisa sembuh sendiri, ada juga virus mati karena tidak kuat sinar matahari. Statement cherry picking. Betul bahwa sembuh itu banyak, tapi ada pasien Covid-19 yang kritis,” ujarnya.


Selain pemerintah, media massa juga berperan dalam penyebaran hoaks. Peran media massa dengan membuat topik yang sensasional dan tidak imbang dalam menyampaikan informasi, sehingga berdampaknya pada masyarakat yang semakin antipati dengan media.


“Masyarakat lebih percaya Covid-19 adalah rekayasa elite global, ini bahkan tidak hanya dipercaya oleh masyarakat, tapi ada juga pejabat negara bahkan akademisi,” sambungnya.


Ia membeberkan, perlu dilakukan langkah-langkah strategis untuk menangani hoaks Covid-19. Ia menegaskan bahwa jika ingin menang melawan pandemi, maka harus juga menang melawan hoaks tentang pandemi.


“Kuncinya, konsistensi narasi, pejabat jangan silang pendapat, dan diulang narasi yang sama, termasuk vaksin. Tidak hanya eksekutif tapi legislatif juga. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, butuh tangan-tangan untuk membantu supaya tidak terjadi asimetri informasi, harus rangkul masyarakat seperi MUI, NU, PGI, dan sejenisnya, jadi agen-agen agar mau menyampaikan isu krusial tentang Covid-19. Butuh perangkul seperti pemuka agama, ini masih kurang,” jelasnya panjang lebar. (MY)

Comments
Loading...