ANTARA KEMANUSIAAN DAN DAYA TAHAN PERUSAHAAN

Oleh : Muhammad Rizieq Fadilah**

Pada awal tahun 2020 sudah banyak terjadi bencana mulai dari banjir, bencana alam seperti puting beliung, tanah longsor, erupsi gunung, gelombang pasang atau abrasi, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dan gempa bumi. Dan pada Maret 2020 dikejutkan dengan wabah virus corona (Covid-19) yang menginfeksi hampir seluruh negara di dunia. Dimana Covid-19 ini bermula dan terdeteksi di negara Wuhan, China pada Desember 2019 dan mulai tersebar ke berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia pada Maret 2020. Pada awalnya virus ini diketahui pertama kali muncul di pasar hewan dan pasar seafood di kota Wuhan. Koresponden kesehatan dan sains BBC, Michelle Roberts and James Gallager mengatakan dipasar grosir hewan dan makanan laut tersebut sejumlah hewan liar seperti ular, kelelawar dan ayam, dan dari sini timbulah banyak dugaan bahwa virus ini dapat menyebar dari hewan ke manusia, dan kemudian dari manusia ke manusia. Jumlah kasus terus bertambah seiring berjalannya waktu, hingga petugas medis pun terkena infeksi virus corona. Dan pada akhirnya dikonfirmasi bahwa transmisi pheumonia ini dapat menular dari manusia ke manusia (Relman,2020) Sampel isolat dari pasien yang diteliti menunjukan adanya infeksi corona virus berjenis betacoronavirus tipe baru yang diberi nama pada tahun 2019 novel Coronavirus (2019-nCov). Dan pada tanggal 11 Februari 2020. World Health Organization memberi nama virus baru tersebut Severe acute respiratory syndrome coronavirus – 2 (SARS-CoV-2) dan nama penyakitnya sebagai Coronavirus disease 2019 (COVID-19) (WHO,2020).

Secara global, kasus positif corona mencapai 7,94 juta kasus dengan angka kematian akibat penyakit covid-19 mencapai 435 ribu jiwa. Sementara di Indonesia terhitung pada tanggal 16 Juni 2020 sendiri, total kasus positif corona telah mencapai 40.400 pasien. Semakin meningkatnya jumlah pasien yang diakibatkan Covid-19 ini membuat pemerintah Indonesia mengeluaran berbagai kebijakan untuk dapat menyelesaikan kasus Covid-19, salah satunya adalah dengan mensosialisasikan gerakan Social Distancing atau masyarakat menyebutnya dengan #dirumahaja. Hal ini dilakukan untuk dapat mengurangi bahkan memutus rantai infeksi Covid-19 dimana seseorang perlu menjaga jarak aman dengan manusia lainnya minimal 2 meter, serta tidak melakukan kontak langsung dengan orang lain. Selain itu pemerintah menerbitkan PP Nomor 21 Tahun 2020 tentang kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang merupakan strategi pemerintah untuk dapat mencegah virus corona semakin menyebar, sementara itu menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, PSBB tak sepenuhnya membatasi seluruh kegiatan masyarakat, pembatasan tersebut hanya berlaku untuk aktivitas tertentu saja di suatu wilayah yang terduga terinfeksi Covid-19. Banyak sekolah dan Universitas yang diliburkan oleh pemerintah dengan memberlakukan belajar dan bekerja didalam rumah, membatasi kegiatan keagamaan, pembatasan moda transportasi, pembatasan kegiatan ditempat umum dan meliburkan tempat kerja dan kegiatan lainnya khusus terkait aspek pertahanan keamanan. Sejak pemerintah menghimbau kepada perusahaan agar menonaktifkan kegiatan di perkantoran, maka sejak itulah banyak perusahaan menggalakan work from home (bekerja dari rumah). Dengan adanya keputusan seperti itu dari perusahaan, maka risiko menurunnya produktivitas dari para tenaga kerja pun makin mengental dan mencolok, tantangan selanjutnya adalah terletak pada bagian human resource dan pemegang kepentingan yang sejalur untuk mengatur konsep baru sehingga bisa beradaptasi dengan konsep work from home tersebut. Perusahaan hari ini sedang dihadapkan dengan 2 tantangan berat, yaitu tantang eksternal dan tantangan internal. Secara garis besar, tantangan eksternal perusahaan adalah bagaimana perusahaan mampu membaca kondisi dan mengatur siasat strategi agar tetap dapat mengungguli daya saing dengan kompetitor lain, dan tantangan internalnya adalah bagaimana perusahaan mampu menyiasati kondisi dalam perusahaan agar tidak terjadi blunder dan salah langkah dalam mengeluarkan dan melaksanakan beberapa keputusannya sendiri. Kemudian kedua tantang tersebut bersatu dan menjadi pertanyaan besar untuk perusahaan, “mampukah perusahaan bertahan hidup ?”.

Ada beberapa perusahaan yang justru mendapatkan keuntungan besar, salah satunya yakni perusahaan pemilik aplikasi zoom. Dikutip dari katadata.com, dalam kuartal I 2020, perusahaan aplikasi konveresi video zoom mengakui kenaikan pendapatan sebesar 169% dari pendapatan normal per-kuartal. Tentunya memang hanya beberapa bidang industri yang mampu memaksimalkan pendapatan di masa pandemik global seperti yang terjadi hari ini, lantas, apakah bidang industri lainnya mampu mendapatkan kesempatan yang sama ? tentunya berat. Namun untuk mempertahankan daya tahan perusahaan, semua industri mempunyai kesempatan yang sama.

Dengan adanya pendemi penyakit Covid-19 ini mau tidak mau beberapa perusahaan mengurangi jumlah pekerja atau karyawan sehingga terjadi PHK terhadap karyawan sebagai upaya pencegahan penyebaran penyakit. Banyak pula perusahaan yang mengambil langkah- langkah dan ektrim untuk mempertahankan bisnis mereka dan tentunya untuk mengurangi kerugian akibat covid-19. Menurut pemantauan ILO ( International Labour Organization) karena adanya tindakan karantina penuh atau parsial saat ini sudah berdampak pada hampir 2,7 milliar pekerja, yang sudah mewakili sekitar 81 % tenaga kerja dunia. Dalam situasi saat ini, usaha di berbagai sektor ekonomi sedang menghadapi krisis ekonomi yang dapat mengancam operasi dan kesehatan mereka, terutama di antara perusahaan kecil, sementara jutaan pekerja rentan kehilangan pekerjaan dan pendapatan serta mengalami PHK. Berdasarkan data Kemnaker per 1 Mei 2020, jumlah pekerja sektor formal yang telah dirumahkan akibat pandemi COVID-19 sebanyak 1.032.960 orang dan pekerja sektor formal yang di-PHK sebanyak 375.165 orang. Sedangkan pekerja sektor informal yang terdampak COVID-19 sebanyak 314.833 orang. Total pekerja sektor formal dan informal yang terdampak COVID19 sebanyak 1.722.958 orang. Angka berikut memang bukanlah angka yang sedikit, bahkan bertambah setiap harinya. Meningkatnya angka pengangguran akan berpengaruh ke banyak aspek, dari aspek ekonomi sampai aspek sosial. Kementrian ketenagakerjaan selalu menghibau dan meminta kepada perusahaan agar menjadikan opsi PHK karyawan menjadi opsi terakhir. Beberapa pihak sudah melayangkan saran kepada perusahaan agar tak terburu-buru dalam mengambil keputusan PHK, sebagai tanggung jawab perusahaan terhadap para karyawannya. Salah satu opsi menarik menurut penulis adalah, pihak perusahaan membuat sebuah pertemuan khusus dengan perwakilan serikat pekerja, membahas permasalahan secara bersama untuk menghasilkan keputusan yang setidaknya berada pada win-win solution, dan pembahasannya pun harus dengan kepala dingin tanpa harus meninggikan ego masing-masing, tentu perlu dihadirkan seorang mediator atau penengah diantara kedua belah pihak tersebut.

Sebagai penutup penulis mengutip pernyataan presiden Ghana Nana Akufo Addo, “Saya yakinkan anda, bahwa kami tahu apa yang harus dilakukan untuk menghidupkan kembali perekonomian. Apa yang kita tidak tahu adalah bagaimana menghidupkan orang kembali”.

** Mahasiswa Universitas Trilogi Jakarta

** Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi www.menaranews.com

Comments
Loading...