Permintaan Meningkat, Toko Tani Indonesia (TTI) Penuhi Kebutuhan Jelang Lebaran di Bali

MENARAnews.com, Denpasar (Bali) – Trend berbeda jelang lebaran di tengah pandemi Covid-19 di Bali, jelas terlihat dengan adanya peningkatan jumlah permintaan. Biasanya menjelang Hari Raya Idul Fitri di Bali, permintaan bahan pangan pokok di pasaran tidak meningkat signifikan, dikarenakan sebagian besar umat muslim di Pulau Dewata mudik ke kampung halaman. Namun berbeda dengan tahun ini, umat muslim di Bali memilih tidak pulang ke kampung halaman karena adanya kebijakan larangan mudik dari pemerintah. Kebijakan itu diambil guna mencegah meluasnya pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Di tengah umat muslim Bali yang sebagian besar tidak melaksanakan mudik, permintaan bahan pangan pokok menjelang Hari Raya Idul Fitri diprediksi mengalami peningkatan. Namun situasi tersebut tidak perlu dikhawatirkan, sebab Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali telah menjamin ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup.

“Untuk perayaan Idul Fitri ketersediaan bahan pangan pokok dipastikan aman,” kata Kepala Bidang (Kabid) Ketersediaan, Distribusi dan Cadangan Pangan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Made Tresna Kumara saat ditemui Tribun Bali di kantornya, Selasa (19/5/2020).

Berdasarkan data Kebutuhan Sembako untuk Ketahanan Pangan Daerah, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali telah menghitung jumlah kebutuhan dan jumlah ketersediaan bahan pangan pokok di Bali.

Pada Mei 2020, jumlah ketersediaan beras di Bali sebanyak 46.026 ton, sedangkan kebutuhannya berada di 35.986 ton sehingga masih tersedia 10.030 ton. Daging sapi yang ketersediaannya sebanyak 599 ton, jumlah kebutuhan di Bali hanya 43 ton. Maka dari itu, jumlah surplus daging sapi di Pulau Dewata mencapai 556 ton.

Selain sapi, jumlah daging ayam pada Mei 2020 juga mengalami surplus di Bali dan bahkan mencapai 5.280 ton. Jumlah produksi daging ayam sudah mencapai 8.400 ton, sedangkan kebutuhannya hanya mencapai 3.120 ton. Telur ayam juga mengalami surplus yang tinggi, yakni sebesar 6.740 ton. Produksi telur ayam pada Mei 2020 ini mencapai 8.820 ton, namun kebutuhannya hanya di 2.167 ton.

Sementara cabe rawit merah pada bulan ini produksinya mencapai 4.695 ton. Sementara jumlah kebutuhannya hanya berada di angka 944 ton sehingga surplusnya mencapai 3.751 ton. Situasi bahan pangan pokok yang surplus ini juga diikuti oleh bawang merah, namun hanya mencapai 2 ton saja.

Bahan pangan pokok yang minus di Bali sampai saat ini hanya bawang putih, yakni sebesar 1.058 ton pada Mei 2020. Jumlah produksinya di Bali hanya 26 ton saja, padahal angka kebutuhannya mencapai 1.084 ton.

Tresna Kumara mengungkapkan, minusnya ketersediaan bawang putih di Bali karena memang produksinya belum sebesar bawang merah. Hanya ada dua daerah yang bisa menghasilkan bawang putih di Bali, yakni Tabanan dan Bangli. Namun jumlah produksi yang dihasilkan juga belum terlalu besar.

Meski dalam data kebutuhan bawang putih mencapai minus, Tresna Kumara meminta masyarakat tidak khawatir. Sebab, kekurangan bawang putih di Bali akan didatangkan melalui impor oleh pemerintah pusat. Situasi ini juga tidak hanya dialami oleh Bali sendiri, melainkan sebagian besar daerah di Indonesia. Maka dari itu, pemerintah pusat selalu mengupayakan mendatangkan bawang putih dari luar negeri guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

Tresna Kumara mengungkapkan, permintaan bahan pangan pokok oleh masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri mulai meningkat, namun belum terlalu signifikan. Hal itu bisa dilihat dari naiknya permintaan di Pasar Mitra Tani/Toko Tani Indonesia (TTI). Di TTI, beberapa masyarakat mulai meminta sejumlah beras, diantaranya sudah dikirim ke Kabupaten Buleleng 2 ton serta Karangasem dan Kota Denpasar masing-masing sebanyak 1 ton.

Menjelang perayaan Idul Fitri ini, TTI juga mendapatkan imbauan dari pemerintah pusat untuk melakukan Gelar Pangan Murah yang dilakukan dari 18 hingga 21 Mei 2020. “Gelar Pangan Murah tentunya untuk mengatasi pangan yang harganya kini sedang naik,” tutur Tresna Kumara.

Salah satu bahan pangan yang dijual yakni gula pasir yang harganya kini di Rp 17.000 per kilogram. Di Gelar Pangan Murah, harga gula pasir hanya berada di Rp 13.000 per kilogramnya. Selain gula pasir, Gelar Pangan Murah ini juga menyediakan bawang merah, beras, bawang putih dan daging ayam. Semua produk yang dijual di Gelar Pangan Murah it berada dibawah harga pasar.

Tresna Kumara mengatakan, bagi masyarakat yang ingin mendapatkan bahan pangan dibawah harga pasar bisa mendapatkan di TTI yang tersebar di seluruh Bali. Kini sudah ada sebanyak 39 TTI di seluruh Bali, diantaranya di Tabanan 13 TTI, Gianyar 5 TTI, Badung 10 TTI, dan Klungkung 11 TTI. (*)

Editor: N. Arditya

Comments
Loading...