Kematian Babi Terus Alami Penurunan, Distan Bali Terus Upayakan Edukasi ke Peternak

MENARAnews.com, Denpasar (Bali) – Kematian babi di Bali diakui terus alami penurunan. Hal tersebut diakui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan) Provinsi Bali l, melalui Kabid Kesehatan Hewan dan  Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Ketut Gede Nata Kesuma sebagai hasil dari upaya pemantauan berkelanjutan situasi dan perkembangan kematian mendadak pada babi di Bali, saat ditemui di Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Selasa (11/2/2020).

Gede Nata mengatakan tanggal 9 Februari 2020 kemarin, Dinas turun ke lapangan untuk melakukan validasi terhadap kondisi riil kematian babi di Kabupaten Gianyar. Selanjutnya ditemukan kembali kasus kematian babi di dua lokasi yakni di Banjar Abasan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati dan Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar yang berjumlah 10 ekor babi. Sehingga jumlah total kematian babi berdasarkan data Distan Bali 898 ekor per tanggal 10 Februari kemarin.

Gede Nata menambahkan update terakhir berdasarkan hasil lab masih dalam status suspect African Swine Fever (ASF) Pencegahan penularan penyakit babi ini dominan menjadi peran peternak karena kalau bukan peternak tidak ada lagi yang bisa melakukan pengawasan yang ketat terhadap lalu lintas barang dan orang di kandang babinya.

Dari kunjungan ke beberapa peternak babi, Distan Bali mendapati respon para peternak yang mana mereka memaklumi bahwa tidak mudah menghindari kematian pada ternaknya karena sulit untuk membatasi lalu lintas orang dan barang ke kandang.

“Walaupun berusaha menyetop lalu lintas ke kandangnya dia (babi) masih perlu pakan, masih perlu orang lain atau sarana yang masuk ke kandangnya,” tutur Gede Nata.

Ia berkata, penurunan tren kematian terjadi karena sudah ada edukasi kepada peternak, serta respon peternak cukup tinggi terutama di daerah-daerah yang belum terdampak.

“Mereka dengan ketat biasanya mengawasi orang-orang yang masuk ke kandang,” imbuhnya.

Sementara itu, menjelang Galungan, Distan Bali memastikan ketersediaan daging babi di Bali masih aman.

Dilihat dari kematian babi yang jumlahnya hampir mencapai 900 ekor, jika dibandingkan dengan populasi babi di Bali yang jumlahnya mencapai 800 ribu ekor tentu perbandingannya sangat kecil sekali.

Menurut Nata, dengan pemotongan babi yang dilakukan rata-rata 50 ribu setiap Galungan diyakini masih cukup aman karena masih banyak babi-babi yang selamat oleh hasil edukasi dan sosialisasi yang dilakukan terhadap peternak.

Terkait harga daging babi, kata dia, dari informasi di beberapa Kabupaten seperti Jembrana, Buleleng, Karangasem dan Bangli harganya masih berkisar antara Rp 27 ribu. Menurutnya daerah yang rentan terhadap fluktuasi harga antara lain di willayah Denpasar, Badung, Tabanan dan Gianyar.

“Kadang-kadang belum bagus harganya langsung turun menjadi Rp 24 ribu sampai Rp 25 ribu. Itu situasional sekali di empat lokasi itu,” terangnya.

Sementara itu, Pemkab Jembrana mengimbau kepada peternak babi disana agar tidak mendatangkan babi dari luar Jembrana.

Pemprov Bali juga sampai saat ini tidak ada rekomendasi terkait pemasukan babi dari luar Bali, sehingga babi yang datang dari luar Bali dipastikan tidak memenuhi syarat masuk melalui jalur-jalur resmi. (DI)

 

Editor: N. Arditya

Comments
Loading...