Cukup Diganjar Kenangan

MENARAnews – Materialisme, sebuah pemahaman atau pola hidup yang mementingkan uang atau harta benda di atas segalanya. Kesenjangan antara kaya dan miskin juga dilatarbelakangi oleh banyaknya masyarakat yang entah sadar atau tidak telah memegang prinsip materialisme. Prinsip inilah yang akhirnya menghasilkan gaya hidup pragmatis dan hedonis jika tidak disaring oleh ilmu agama.

 

Sejak dulu, kebanyakan manusia memang senang mengumpulkan harta, menggunakan segala cara yang bisa dilakukan untuk memperbanyak harta, serta begitu takut untuk mengeluarkan harta. Maka kehadiran filantrop menjadi satu sosok yang begitu luar biasa karena mereka dapat menekan hasrat terhadap materi dan mengubahnya menjadi perbuatan untuk sesama. Dan filantrop muda menjadi sosok yang jauh lebih luar biasa lagi karena mereka telah rela mengorbankan masa mudanya untuk tujuan kemanusiaan.

Hari ini kita melihat betapa orang-orang sangat berlomba untuk mencari uang. Dari pagi buta hingga malam gulita dihabiskan untuk mencari pundi-pundi rupiah. Waktu menjadi sarana menghitung berapa yang dapat dihasilkan untuk memenuhi hasrat hedonisme. Apa pun yang bisa disulap menjadi uang, pasti akan dijual, dan seringkali tak peduli dampak yang dihasilkan.

Banyak penjual yang menipu, pembeli yang mengelabui, atau produsen yang tak amanah. Bukan hanya barang saja yang diambil, akun pun sering jadi sasaran pencurian untuk mendapatkan keuntungan. Beberapa pengemudi online di Malang, misalnya, harus rela akun ojek online-nya dicuri dan disalahgunakan oleh orang yang tak bertanggung jawab (1). Masih dengan kasus penipuan, kisah viral yang baru saja terjadi tentang seorang nenek buta huruf yang ditipu tetangganya sendiri. Ia disuruh menandatangani surat pemindahan kepemilikan tanah dengan harga Rp300.000,- (2).   Atau kasus yang paling dekat dengan kita saja, antar-teman saling sikut untuk mendapatkan posisi atau jabatan tertentu, bahkan ada yang rela mengambil ide/tesis teman sendiri demi mendapatkan nilai yang memuaskan. Ya, zaman yang lebih banyak orang hanya memikirkan keuntungan dirinya sendiri.

Tetapi, di tengah saling tipu, saling sikut, dan saling hantam memperebutkan harta dan kekayaan, geliat perjuangan terhadap kemanusiaan sudah mulai merebak. Ini menjadi salah satu dampak positif teknologi yang dapat kita rasakan, semakin banyak orang yang mulai sadar dan ingin bergerak untuk membantu. Sudah mulai bermuculan anak-anak muda yang bergerak setelah melihat begitu banyak ketimpangan sosial yang terjadi. Sudah bermunculan anak-anak muda yang rela mengkhususkan waktunya untuk menyelesaikan masalah dengan memanfaatkan keterampilan dan teknologi yang ia kuasai. Sebut saja satu tokoh anak muda yang begitu inspiratif, Vikra Ijas, salah satu pendiri situs kitabisa.com membuktikan kepada kita bahwa anak muda yang masih hangat dan menggebu-gebu terhadap idealitasnya adalah sosok yang menjadi pilar perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.

Banyak generasi muda inspiratif yang mungkin namanya tak terpampang di media sosial, tak dibayar karena jeri payahnya, tetapi orang-orang yang merasakan manfaat atau bantuannya akan terus mengingatnya. Bisa saya katakan, para filantrop muda yang ikhlas berbuat untuk sesama itu, mungkin tidak dibayar dengan harta tetapi mereka dibayar dengan kenangan. Orang-orang akan mengenang setiap perbuatan atau bantuan yang kita atau mereka lakukan.

Kita, anak muda, bisa menjadi salah satunya. Bantuan kita mungkin saja tidak harus besar, bahkan bisa saja hal yang sangat kecil seperti memberikan minum kepada seorang pengamen jalanan atau seorang loper koran. Kebaikan itu tak melulu harus yang ‘wah’ agar mata semua orang tertuju kepada kita lalu kita pun menjadi terkenal. Selama kita ingin membantu atau berbuat untuk kemanusiaan, maka sekecil apapun pasti akan bernilai. Kita tak tahu berapa banyak orang yang mendoakan kita karena derma atau bantuan yang pernah kita berikan. Apalagi jika kita menjadi anak muda yang fokus untuk gerakan kemanusiaan, maka tentu bayaran kenangan kita akan menjadi lebih banyak dan bermanfaat. Dan selama yang kita lakukan itu ikhlas, maka kita mungkin akan takjub dengan balasan yang akan kita dapatkan, bukan hanya kenangan, tetapi lebih besar dari itu.

 

(Penulis: Zahra, Alumnus Universitas Hasanuddin)

Comments
Loading...