Pengamat Terorisme : Komunikasi Politik Mantan Napi Terorisme Dan Hubungannya Dengan Hegemoni Media

Menaranews, Opini – Terorisme bukanlah hal yang baru di Indonesia. Aksi terorisme masih terjadi di Indonesia dan masih menjadi pekerjaan aparat untuk mengurai dan menangkap dalang utamanya, seperti kejadian terakhir adalah peristiwa pembakaran  Polres Dhamasraya, Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) yang dilakukan oleh pelaku terors atas nama Eka Fitra (24) dan Enggria Sudarmadi (25) yang keduanya berasal dari Provinsi Jambi.

Di tempat kejadian perkara (TKP), pihak aparat menemukan barang bukti berupa satu busur panah, delapan buah anak panah, dua buah sangkur, satu bilah pisau kecil, satu buah sarung tangan warna hitam, satu lembar kertas yang berisikan pesan jihad dari “Saudara Kalian Abu ‘Azzam Al Khorbily 21 Safar 1439 H di Bumi Allah.

Kegiatan dan tindakan terorisme bukan barang baru atau komoditi baru dalam pemberitaan dan konsumsi media di Indonesia, dimana jauh sebelum terjadinya aksi terorisme di  jalan Thamrin, Jakarta Pusat, terdapat aksi terorisme yang masih ada dalam ingatan masyarakat Indonesia yaitu tragedi Bom Bali, dimana pulau yang disebut-sebut sebagai surga dunia tersebut merupakan barometer industri pariwisata Indonesia, Asia bahkan dunia (karena Bali memiliki nama yang sudah mendunia), merupakan pukulan telak bagi pemerintah dan aparat Indonesia karena tindakan terorisme di wilayah yang tingkat hunian nyaman oleh WNA tersebut telah mencoreng tingkat keamanan daerah di Indonesia.

Pengamat terorisme, Agustinus S dalam tulisannya yang berjudul Komunikasi Politik Mantan Napi Terorisme dan Hubungannya Dengan Hegemoni Media, studi kasus: Komunikasi Politik Mantan Napi Kasus Terorisme di Wilayah Jakarta dan Balikpapan menemukan beberapa fakta menarik mengenai hubungan terorisme dan media. Pertama, ex Napiter tidak melakukan komunikasi politik secara aktif, terlihat dari komunikasi politik yang dilakukan oleh para ex Napiter hanya dilakukan di sosial media, seperti Facebook, blog dan terkadang dalam ceramah ataupun saat memberikan sharing mengenai kegiatan dan pengalamannya.

Kedua, media dan industrinya belum berperan maksimal dalam membantu menyalurkan komunikasi politik para ex Napiter yang  dianggap berita tidak layak jual. Pemberitaan di media muncul saat terjadi suatu aksi terorisme seperti aksi bom bunuh diri, dan lain sebagainya.

Ketiga, komunikasi politik ex napiter merupakan salah satu sarana dan cara untuk mengurai permasalahan terorisme di Indonesia dan mampu mencegah ikut sertanya seseorang agar tidak ikut dan berpartisipasi dalam kegiatan terorisme. Keempat, ex Napiter tidak memiliki satu wadah yang jelas. Terdapat gap antara ex Napiter yang sering diajak kegiatan dengan pemerintah dan ex Napiter yang tidak diajak berpartisipasi. (RF)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,032PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles