Mendikbud RI Akui Kesulitan Entaskan Buta Aksara

MENARAnews, Pandeglang (Banten) – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy mengungkapkan, saat ini jumah buta aksara di Indonesia kurang dari empat persen. Jumlah itu diakuinya sudah sulit dilakukan pengentasan.

Demikian dikatakan Menteri Muhadjir kepada sejumlah awak media usai menghadiri Gebyar Pendidikan dan Kebudayaan di Alun-alun Pandeglang, Banten, (23/2).

Menteri Muhadjir membeberkan, pihaknya mengalami kesulitan dalam pengentasan buta aksara karena terkendala dengan persebaran buta aksara yang tidak bisa dikelompokkan lagi dalam kelompok yang besar. Selain itu, sulitnya menangani buta aksara pada usia lanjut dan orang yang buta aksara kembali.

“Sekarang kan total buta aksara kurang dari empat persen, tetapi itu di tempat-tempat yang sulit. Buta aksara ini umumnya sudah usia lanjut dan yang tuna aksara kembali, yang sebetulnya semula sudah bisa baca, tulis, hitung, karena tidak pernah dipakai, kemudian menjadi tuna aksara,” jelasnya.

Ia menegaskan, buta aksara kembali, yaitu seseorang yang sebelumnya tidak buta aksara, tetapi karena kemampuan baca, tulis dan hitung orang tersebut menjadi hilang karena tidak pernah digunakan.

“Sehingga kalau mau ditangani secara khusus, kita mengakami kesulitan. Disamping Sebaran buta aksara itu sudah tidak bisa dikelompokkan lagi ke dalam kelompok-kelompok besar, yang kedua tingkat kesulitannya sudah tinggi,” tuturnya.

Lebih lanjut ia menegaskan, saat ini pihaknya fokus untuk meningkatkan keaksaraan fungsional. Keaksaran fungsional itu meliputi keaksaraan bukan hanya bca, tulis, hitung, tetapi juga meliputi keaksaraan digital, kemudian keaksaraan perbankan atau keuangan, dan ada keaksaraan budaya.

“Intinya, setiap orang itu sebetulnya selalu buta aksara, relatif buta aksara, karena itu harus selalu belajar, harus dimelekhurufkan, sekarang areaya semakin luas, tadi itu,” pungkasnya.

Comments
Loading...
error: Content is protected !!