Keluarga Pasien Minta dr. EDM Dimutasi Dari Pruskesmas Abepantai

 

MENARAnews,Jayapura (Papua)- Perlakuan dokter Puskesmas Abepantai, dr. Evalina Diodoran Malau terhadap pasien RK Tjoe berbuntut panjang. Keluarga RK tidak terima atas penghinaan tersebut.

Keluarga Tjoe yang juga merupakan pemilik hak ulayat atas tanah yang ditempati Puskesmas Abepantai berencana melakukan pemalangan jika tuntutanya tidak dipenuhi.

Keluarga meminta agar dr. Evalina Malau dan kepala Puskemas segera dimutasi dan meminta kepada pihak Puskemas dan Kelurahan Abepantai untuk menunjukan legatitas tanah yang mana selama 9 tahun telah digunakan.

Keluarga Tjoe menuntut agar Kadis Kesehatan dr. Nyoman Sri Antasari memutasi dr. Evalina Deodoran dan Kepala Puskesmas Abepantai  serta mendesak Kadis Kesehatan menunjukkan seluruh bukti (legalitas) jual beli, pelepasan dan sertifikat tanah Puskesmas dan Kantor Lurah Abepantai karena tanah tesebut masih milik ulayat keluarga Tjoe dan tidak pernah menjualnya.

Suami pasien, Lukas menjelaskan bahwa sebelumnya telah diadakan pertemuan yang dihadiri Kepala Distrik Abepura Dinosius J.A. Deda, S.STP, Danramil Abepura Kapten Inf.  J. Simbiak, Kepala Dinas Kesehatan kota dr. Nyoman Sri Antasari, Kepala Puskesmas Abepantai, para Dokter dan Perawat Puskesmas Abepantai, pihak BPJS Provinsi Papua serta Keluarga Suku Tjoe.

Dalam pertemuan tersebut, keluarga Tjoe sebagai pemilik hak ulayat mengancam akan terus melakukan aksi pemalangan jika tuntutannya tidak dipenuhi namun Kepala Dinas Kesehatan meminta tidak dilakukan aksi, mengingat Puskesmas Abepantai sedang dalam masa penilaian peningkatan status akreditas.

Kata Lukas, pihak Dinas Kesehatan akan memberikan tanggapan atas tuntutan Keluarga Tjoe pada Tanggal, 30 Nopember 2018, namun hingga batas waktu yang diberikan pihaknya tak mendapatkan tanggapan.

“Kadis Kesehatan menangis di depan keluarga dan memohon agar tidak dipalang, dia minta waktu sampai selesai penilain akreditas puskesmas Abepantai, 30/11” terang Lukas (suami pasien RK Tjoe), Senin (3/11/2018) malam, saat pertemuan di Puskesmas Abepantai.

Lukas manambahkan, hingga batas waktu yang disepakati berakhir, pihak Dinas Kesehatan belum bemberikan tanggapan.

“Saya tanyakan ke Kadis Kesehatan melalui pesan singkat (SMS) dan dijawab bahwa untuk kepemilikan tanah itu ada di bagian aset, saya sudah menyurat tanggal 16 Oktober ke BPKAD tapi belum dijawab, silahkan keluarga menyurat kepada pemkot untuk mempertànyakan supaya ada dasar menindaklanjuti, kalau memang ternyata belum terbayar tentu pemkot akan bayar. terkait dr. Melva dan dr. Eva yang berwenang memindahkan ASN itu kewenangan Walikota, saya sudah 2x lapor, beliau katakan tetap disitu,” kata Lukas mengutip jawaban Kadis Kesehatan.

Lukas menceritakan, pada 6 Oktober 2018 lalu, istrinya mau memeriksakan giginya di Puskesmas Abepantai, karena tidak ada dokter gigi maka ditangani Dokter Jaga dan dibuatkan rujukan ke Rumah Sakit Abepura.

dr. Evalina Diodoran mala datang dan mempertanyakan BPJS istri saya yang saat itu menggunakan fasilitas BPJS dari Pemda Sarmi karena kebetulan berprofesi PNS di Kab. Sarmi.

“dr. Evalina Diodoran mengatakan bahwa Ibu sudah tidak bisa kami layani karena sudah puluhan kali kami layani, kami dapat apa dari BPJS Ibu. Nanti Pemda Sarmi yang nikmati sementara kami tidak dapat apa-apa.

Saat itu terjadi pentengkaran mulut karena istri saya menanyakan ke dr. Evalina, Ibu kapan bantu saya sampai puluhan kali” ujar Lukas menirukan perkataan istrinya

“dr. Eva menjawab, kamu lupa saat kamu hamil dan gila, saya yang tolong kamu buatkan rujukan ke RS”sambungnya.

Saat itu terjadi pertengkaran hebat yang disaksIkan sejumlah Pasien dan Perawa, Lanjut Lukas. Istri saya ditenangkan oleh Kepala Puskesmas dan menyuruh pulang. Saat istri saya berbicara dengan kepala Puskesmas, dr. Evalina ngomel-ngomel dan berteriak itu orang gila, ambil ambulans dan bawa ke Rumah Sakit Jiwa. Awalnya, keluarga menganggap biasa saja tapi setelah marak beredar pembicaaraan di masyarakat bahwa istri saya gila dan dimarahi dokter saat berobat maka kami dan keluarga besar tidak terima penghinaan itu”

Lukas Menuturkan bahwa keluarga mereka sudah memberikan etikat yang baik, namum dengan batas waktu yang telah ditentukan  belum ada tanggapan atau respon balik dari hasil pertemuan yang telah dilakukan pada tangga 13 oktober lalu, “ ini yang membuat kami memalang kantor ini, waktu yang kami berikan ini sudah cukup lama tapi tidak tindakan biar satu yang diambil. Mereka kira kami main-main sehingga smereka menyepelehkan” tuturnya
Lukas mengakui jika dirinya telah melaporkan hal ini kepada Ombudsman Republikj Indonesia sbaik yang ada di Papua amupun Ombudsman RI, Selain itu Lukas juga telah melaporkan peristiwa ini kepada Kemerian esehatan, “ Semua kementrian telah mengetahui hal ini, saya laporkan ke Ombudsman karena terkait pelanyanan publik kepada masyarakat. Kami hanya memlanbng kantor Lurah Abepantai karena kami masih memimikarkan saudara-saudara kami jika ingin berobat sehingga siang tadi pelayanan kesehatan masih berjalan lancar” ujarnya

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura yang hadir ditempat tersebut saat hendak dikonfirmasi terkait hal tersebut belum memberikan tanggapan.(Surya).

Comments
Loading...
error: Content is protected !!