Volume Sampah Masih Tinggi, Regulasi Kebersihan Belum Optimal

MENARAnews, Pandeglang (Banten) – Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008 tentang Kebersihan dan Ketertiban (K3), dan Perda Nomor 4 tahun 2016 tentang Pengelolaan Sampah, serta Perbup Nomor 84 tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Kebersihan di Kabupaten Pandeglang belum berjalan optimal.

 

Tingkat volume sampah di Pandeglang terhitung masih tinggi. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat, produksi sampah di Pandeglang setiap harinya bisa mencapai 1.200 ton.

Plt Kepala DLH Pandeglang, Indah Dinarsiani menyebutkan, rata-rata satu penduduk Pandeglang menghasilkan sampah sekitar 1 kg. Dengan jumlah sampah yang terus menggunung itu, maka dia mengkhawatirkan dua Tempat Pembuangan Sampah (TPA) yang ada tidak akan bisa menampung lebih lama.

“Saat ini setiap penduduk menghasilkan sampah rata-rata 1 kg. Sedangkan jumlah penduduk Pandeglang sudah mencapai 1.2 juta orang. Dengan jumlah volume sampah yang tinggi itu, maka dua TPA di Pandeglang tidak akan cukup menampung,” katanya saat ditemui di Oproom DPKD Pandeglang, Kamis (13/9/2018).

Sedangkan untuk menekan jumlah volume sampah, Indah mengakui belum bisa diaplikasikan secara maksimal. Soalnya, infrastruktur pengelolaan sampah di Pandeglang belum memadai.

Seperti halnya tempat sampah, baru terdapat diseputaran kota. Di daerah lain yang lebih jauh, Pemkab belum bisa menyediakan dengan alasan klasik, keterbatasan anggaran.

“Memang masih ada beberapa yang perlu dilengkapi. Kalau sudah ada aturan hukum, kan kita wajib sosialisasi setelah itu menyiapkan peralatan. Sementara saat ini, menganjurkan masyarakat membuang sampah pada tempatnya, tempatnya kan harus ada. Saat ini kami baru menyiapkan peralatan di jalan-jalan protokol,” jelasnya.

Sementara pemberlakuan sanksi bagi masyarakat yang membuang sampah sembarangan pun belum bisa diterapkan karena tidak adanya tim khusus yang menangani. Padahal bunyi aturan bagi pelanggar cukup jelas, dikenakan denda dari mulai Rp250 ribu hingga Rp1 juta.

“Kalau itu sudah, maka optimalkan sosialisasi. Baru kemudian pada penindakan. Karena di dalam Perbup sudah ada sanksi bagi yang melanggar. memang harus ada tim yang dibentuk,” sambung Indah.

Melihat kondisi tersebut, maka Indah mengungkapkan, saat ini bukan lagi mengedepankan perilaku pengelolaan sampah, melainkan mengurangi volume sampah. Kategori rumah tangga yang menjadi penyumbang sampah tertinggi, sudah harus mulai memilah sampah yang bisa diurai dan didaur ulang.

“Saya lebih memilih untuk mengurangi volume sampah, bukan lagi pengelolaan sampah. Seperti mengurangi dari lingkungan rumah tangga. Jadi dari rumah tangga, seharusnya sudah mulai dipilah, mana sampah organik dan mana yang anorganik,” sarannya.

Disamping itu, Indah pun mengimbau semua lini masyarakat untuk turut serta aktif menjaga lingkungan dan mengurangi volume sampah. Karena jika hanya mengandalkan pemerintah, maka kenyamanan dan kebersihan sulit tercipta.

“Memang sampah belum bisa optimal ketika infrastrktur saja belum memadai. Oleh karenanya harus bergerak bersama. Artinya tidak harus Pemda saja, tetapi semua lapisan masyarakat harus menunjukkan rasa kepeduliannya menjaga lingkungan,” imbaunya.

“Ada baiknya sekarang kembali ke zaman dulu dengan memanfaatkan dedaunan daripada plastik. Karena kalau sekarang pakai plastik atau styrofoam, itu sudah tidak bisa diurai,” tandas Indah menyarankan. (IN)

Comments
Loading...
error: Content is protected !!