Gempar Papua: PT Freeport Indonesia Harus Tutup

MENARAnews, Jayapura (Papua) – Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat Papua (GEMPAR) menuntut agar PT Freeport Indonesia harus ditutup.

Hal itu disampaikaan oleh Yairus Siep, penanggung jawab aksi sekaligus Sekjen Gempar Papua. saat menggelar aksi demo damai yang bertepatan dengan hari Pribumi Internasional, Kamis (9/8/2018) di Jayapura.

Dikatakan, Gempar Papua melakukan aksi dalam rangka memperingati Hari Pribumi (Adat) Sedunia dengan menyampaikan hak – hak sebagai pribumi. Pihaknya menilai, selama ini pada UU Otsus Papua menyampaikan hak-hak orang asli Papua dilindungi oleh UU tapi kenyataannya selama ini tidak ada.

“Kami menyampaikan bahwa adanya masuk investasi asing di Papua sekitar 6 ribu lebih perusahaan yang telah melakukan eksploitasi dan Pengerusakan terhadap lingkungan dan hutan sehingga kami meminta agar perusahaan tambang dan lainnya seperti Freeport dan Mitee agar ditutup,” tuturnya.

Aksi ini bertema Tanah Papua tra kosong dimana adanya sistem penghancuran dan Pengerusakan terhadap lingkungan di Papua oleh kelompok kapitalisme yang haus akan sumber daya alam di Papua.

“Sistem kapitalisme mendatangkan aparat TNI-POLRI ke daerah kampung – kampung dan mengancam dengan menggunakan senjata kepada orang tua kami sehingga mengakibatkan trauma yang mendalam sehingga kami melalui aksi ini meminta agar aparat TNI-POLRI bertugas sesuai dengan tugasnya yaitu menjaga keamanan dan kedaulatan negara,” ujarnya.

Dengan tindakan ancaman tersebut, masyarakat adat merasa trauma dan menjual tanahnya dengan harga murah dan tidak seusai dengan jalurnya, karena perusahaan menggunakan jasa keamanan dari Oknum TNI-POLRI.

“Tujuan aksi kami sebenarnya di MRP dan DPRP namun karena adanya suatu hal sehingga kami menyampaikan aspirasi disini dan kami tidak bersama-sama dengan kelompok yang meminta saham dan melakukan aksi di MRP dan DPRP namun kami melalukan aksi untuk menuntut perusahaan yang ada di Papua terutama Freeport untuk di tutup,” katanya.

Kami akan melakukan aksi orasi di taman Imbi dan kami aksi berbeda dengan kelompok yang sebelumnya meminta saham karena kami meminta tutup Freeport dan penentuan nasib sendiri.

“Dalam orasi kami meminta agar MRP dan DPRP untuk ditutup karena tidak mewakili aspirasi kami dan tidak melihat dampak negatifnya terkait pembangunan perusahaan di Papua sehingga kami meminta tutup MRP dan DPRP,” tuturnya.

Sementara itu, Kabag Ops Polres Jayapura Kota AKP. Leonardo Yoga mengatakan bahwa, hari ini ada unjuk rasa dari Gempar terkait hari Pribumi Internasional. Ada dua kelompok yang satu kelompok sudah berkumpul di MRP untuk masyarakat peduli Preefort. Situasi sampai saat ini masih aman terkendali. Untuk kekuatan pengamanan kita terjunkan sebanyak 340 personil gabungan.

Dari Polres Jayapura Kota sendiri, Jajaran Polsek Abepura, Jajaran Polsek Jayapura Selatan dan Polsek Jayapura Utara dan kita di Beck up dari rekan-rekan Sabraha Polda Papua, Brimob dan Kodim untuk persiapan apa bila skalasi meningkat.

“Aksi unjuk rasa ini memang sudah kami antisipasi rekan-rekan yang pengamanan tertutup sudah bergerak lebih dulu sehingga tetap menjamin situasi dari kegiatan ini lebih aman dan kondusip,” katanya. (Surya)

Comments
Loading...
error: Content is protected !!