Perangi Paham Terorisme Dan Radikalisme Melalui Gerakan Berhimpun

MENARAnews, Kab. Cianjur (Jawa Barat) – Paham Terorisme dan radikalisme kini tengah menjadi permalasahan serius dan mengancam ketentraman hidup masyarakat setelah kejadian yang terjadi di Surabaya beberapa waktu lalu. Maka untuk itu, sangat penting dalam memerangi terorisme dan radikalisme, dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.

Dalam hal ini, Dede Romansah (Kabid PTKP HMI Cabang Cianjur) mengajak seluruh organisasi kepemudaan OKP harus bersinergi dalam memerangi paham-paham radikalisme, supaya kemudian paham tersebut tidak mengakar dan menjadi benalu keresahan masyarakat.

“Kampus adalah salah satu tempat paling strategis untuk melancarkan doktrinisasi paham radikal terutama sangat potensial untuk membuat para mahasiswa yang apatis menelan secara mentah-mentah.” Ungkap Dede.

Belum lama ini Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan, masuknya paham radikal di kampus terjadi setelah program normalisasi. Ketika organisasi seperti HMI dan PMII dikeluarkan menjadi organisasi ekstrakampus pada 1983 dan kini muncul desakan supaya organisasi tersebut kembali masuk ke kampus. Salah satu yang menyuarakannya adalah cendekiawan muslim sekaligus mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra.

“Keberadaan organisasi kemahasiswaan harus menjadi garda terdepan untuk memerangi paham Radikalisme dalam ranah kampus,  Organisasi kemahasiswaan kampus bergerak bukan hanya dalam ritual perkaderan saja lebih dari itu harus bisa mengajak bagi setiap elemen mahasiswa bergabung bersama memerangi paham terorisme dan radikalisme dalam kampus” Tambah Dede.

Bukan tanpa sebab kelompok organisasi Cipayung yang ada di Cianjur dalam hal ini HMI, GMNI, dan IMM Regional Cianjur, bersikukuh bermanifesto bersama menguatkan tekad memerangi paham radikal yang dikhawatirkan mulai mengakar dan menyebar luas di halaman kampus.

Hal yang paling sederhana bisa dilakukan dalam kampus adalah dengan cara berhimpun dalam organisasi, dimana organisasi menjunjung nilai keislaman dan ke-Indonesiaan, sehingga pada akhirnya retorika doktrinisasi paham ekstrimis Islam kanan dapat diindahkan.

“Kehadiran Organisasi ekstra kampus di cap sebagai organisasi politik praktis dalam kampus sehingga pada era Soeharto dikhawatirkan meresahkan dalam kancah  kekuasaanya, hal itu tidak bisa dibiarkan dengan keadaan bangsa saat ini Frame negatif itu harus segera di hapuskan dan Kehadiran organisasi besutan tua yang sudah lama berdiri seperti organisasi yang tergabung dalam OKP Cipayung syarat dengan menjunjung tinggi nilai kebhinekaan persaudaraan antar sesama.” Tutup Dede. (OR)

Comments
Loading...
error: Content is protected !!