Pentingnya Peran Ulama Dalam Seluruh Aspek Kehidupan

MENARAnews, Kab. Cianjur (Jawa Barat) – Ulama adalah insan berilmu, namun akibat pergeseran makna umum ke dalam makna khusus dan terbatas, ulama secara refleks dipahami publik sebagai agamawan. Hal ini dilatarbelakangi tiga hal, yakni pertama, ulama memerankan kewajiban pendidikan bagi umat beragama. kedua, terdapat ayat al-Qur’an yang mewajibkan manusia taat kepada Allah, Rasul & Pemimpin, di mana ulama juga termasuk dalam kategori pemimpin yang dimaksud (Ibn Katsir), dan ketiga; “ulama adalah pewaris para nabi” begitu penggalan amanat salah satu imam besar yang monumental.

Muhammad Fajar Firdaus dalam tulisannya, ‘Ulama dan Polemik Sosial’ menyatakan bahwa tindak-tanduk ulama diikuti dalam semua aspek kehidupan, termasuk aspek sosial. “Teladan ulama telah menjadi tangga panjang yang mengantar perkembangan kualitas masyarakat. Perkembangan peradaban sejak masa kenabian hingga kini, tidak terlepas dari peran ulama.” tulisnya.

Di Nusantara, misalnya Ki Hajar Dewantara, KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan. Masing-masing adalah pendiri Nahdhotul ‘Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Ketiganya menjelma menjadi panutan di masyarakat dan mempengaruhi pelbagai aspek kehidupan hingga saat ini.

Fajar juga berpendapat, peran ulama juga mendominasi arus sosial politik. Setidaknya dalam satu tahun terakhir ini, terdapat bukti yang sulit ditepis; aksi 212 Jakarta. Sebuah perkumpulan insidental namun sanggup mempersekutukan ratusan elemen masyarakat. Lagi, ini karena peran ulama. Momentum tersebut lantas disusul oleh terbitnya peraturan pemerintah tentang organisasi masyarakat yang menyasar Hizbut Tahrir Indonesia. Sikap ulama Islam yang terbagi saat itu, sakti memicu terbaginya umat Islam Indonesia ke dalam dua sekte kekubuan, yaitu kalangan pro dan kontra..

Hingga menjelang hari pemilihan Gubernur, penulis mengidentifikasi bahwa kekubuan tersebut masih berlangsung. Perbedaan tersebut telah menghadirkan dilema & polemik yang tidak kecil bagi masyarakat. Banyak kalangan bingung jika dihadapkan dengan dua ulama dari sekte yang berbeda pandangan terkait arus ataupun pilihan politik yang diambil.

Meskipun perbedaan sikap, bahkan agama menjadi objek sasaran toleransi yang dianjurkan ajaran agama sering diserukan oleh ulama-ulama serupa di berbagai mimbar peribadatan, namun nampaknya toleransi belum cukup dilaksanakan. Tak sulit menemukan kalangan yang memiliki tafsir absolut mengenai batas-batas perbedaan itu bukan?

Oleh karena ulama digugu dan ditiru oleh publik secara praktis, maka Fajar menyarankan agar penobatan pemberian gelar ‘ulama’ diperapik. Siapa saja dengan gelar ulama yang diimbangi dengan kesadaran adanya akibat-akibat dari perilaku (amal) sosialnya, hendaknya senantiasa mempertegas kearifan & kesalehan yang purna dalam setiap momentum masyarakat.

Selaras dengan hakikat ulama yang berfungsi sebagai pencerah bagi masyarakat. Sedangkan dalam ruang pribadi, sangat penting bagi kita untuk selalu belajar dari apa, tanpa selalu siapa. Dan untuk apa manfaatnya, serta bagaimana sikap kita dalam menyalakan kerja-keja sosial (hablumminannas) untuk menjaga kerukunan antar umat beragama dengan menghormati setiap perbedaan guna mengabadikan NKRI.(OR)

Comments
Loading...
error: Content is protected !!