Nelayan Pandeglang Keluhkan Kelangkaan Solar

MENARAnews, Pandeglang (Banten) – Ratusan nelayan di Pandeglang mengeluhkan sulitnya mendapat pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar. Soalnya, ratusan nelayan di Kecamatan Panimbang dan Sindangresmi, terpaksa tidak melaut akibat langkanya bahan bakar solar dalam satu pekan terakhir.

Ketua Paguyuban Nelayan Kabupaten Pandeglang, Encep Waas menuturkan, kelangkaan itu terjadi lantaran lambatnya pengiriman solar. Bahkan, kuota solar juga dikurangi.

“Kelangkaan solar itu karena keterlambatan pengiriman. Katanya dijatah per-tiga hari satu tangki 18 ribu ton. Biasanya sehari dua tangki, sekarang tiga hari sekali. Coba saja lihat banyak perahu nelayan yang tidak bisa melaut. Nelayan di Sidamukti (Kecamatan Sindangresmi) dan sekitarnya, sudah hampir 1 bulan terakhir ini susah memperoleh solar bersubsidi,” keluh Encep, Senin (16/4/2018).

Menurut Encep, hal itu diperparah dengan tidak berfungsinya Solar Packet Dealer Nelayan (SPDN) di Panimbang. Sehingga nelayan dari wilayah tersebut, harus mencari ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) Sindagresmi.

“Bayangkan saja, untuk nelayan di Sidamukti saja, terdapat sekitar 50 kapal yang biasa berangkat ngegardan (melaut, red). Belum lagi ratusan kapal kecil nelayan, yang jelas butuh akan solar. Maka dari itu, dengan adanya kelangkaan solar ini, para nelayan kita lebih memilih tidak melaut,” tambah Encep.

Dia mengungkapkan, tidak banyak yang bisa dilakukan nelayan selain menunggu pasokan solar kembali normal. Karena meski mendapat solar, para nelayan tidak bisa melaut dalam waktu yang lama akibat terbatasnya stok solar.

“Jika memaksakan membeli solar dipengecer, harganya akan lebih tinggi. Jelas hal itu berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan.¬†Karena waktu melaut para nelayan menjadi terhambat,” jelas Encep.

Salah seorang nelayan asal Panimbang, Ade mengeluhkan hal yang sama. Dirinya mengaku, akibat kelangkaan solar tersebut, ia dan sejumlah nelayan lainnya harus mencari solar ke wilayah Labuan bahkan hingga ke Serang. Tak jarang, ia pun terpaksa harus membeli solar di pengecer meski harga yang dijual lebih tinggi.

“Dalam sekali melaut kami membutuhkan sekitar 600-800 liter solar. Namun ketika pasokan 18 ribu ton datang pun di SPBN, habis dalam waktu 3-4 jam saja,” ungkapnya.

Oleh karenanya para nelayan berharap agar pasokan dan pengiriman solar bisa kembali normal. Soalnya, para nelayan harus segera kembali melaut supaya kebutuhan hidup tetap terpenuhi.

“Untuk masalah solar tolong dimaksimalkan oleh pemerintah. Jangan ada batasan jatah lagi karena di sinikan ada ribuan nelayan,” harapnya.

Comments
Loading...
error: Content is protected !!