spot_img

Konferensi WTO di Argentina, AoA hanya Akal-Akalan Kapitalis

MENARAnews, Medan (Sumut) — Konferensi World Trade Organization di Buenos Aires Argentina mendapat penolakan dari Sumatran Youth Food Movement. Mereka menggelar unjuk rasa di Medan, Selasa (12/12/2017).

Menurut SYFM kebijakan yang diterbitkan WTO hanya berpihak kapitalis. Agreement on Agriculture (AoA) yang dibuat WTO juga dianggap hanya akal-akalan kapitalis.

“AoA membuat petani kecil menjadi pihak yang dirugikan. Karena petani kecil memiliki sumber kapital yang minim,” kata Koordinator Aksi Erick Sitohang.

Dalam aksinya, SYFM melakukan longmarch dan mengecat badan. Mereka juga membawa poster berisi kecaman terhadap WTO.

Korporasi, lanjut Erick hanya membuat sistem monopoli. Sehingga petani hanya menjadi pihak yang merugi. Petani pun kerap berhadapan pada kisruh yang pelik. Misalnya, konflik agraria, kriminalisasi, pencemaran lingkungan Dan import produk pertanian.

WTO dinilai sudah bertentangan dengan tujuan awal dibentuk. Yakni meningkatkan kesejahteraan rakyat di negara anggotanya.

“WTO hanya menjadi kanal bagi liberalisasi perdagangan dunia yang bersandar pada konsep neoliberalisme. Hal ini menyebabkan produk pangan petani kita tidak dapat bersaing dengan produk pangan  negara maju,” tukasnya.

Bukti semakin miskinnya petani di Indonesia dibuktikan dengan murahnya harga komoditas impor. Contoh misalnya, harga kedelai, susu, jagung, gula, garam, bahkan beras impor yang lebih murah karena disubsidi.

Perlu diingat pada 22 Desember 2016 WTO telah memenangkan gugatan Amerika Serikat dan Selandia Baru terkait dengan kebijakan perlidungan proteksi Indonesia atas produk hortikultura, hewan dan produk-produknya (Horticulture, Animal and Animal Products).

Kekalahan dalam kasus gugatan ini akan mempengaruhi kebijakan pemerintah Indonesia untuk mewujudkan swasembada pangan dan daging.

“Kami SYFM  menolak tegas keberadaan WTO di Indonesia. Keberadaan WTO hanya mengancam petani dan pangan negara Indonesia. WTO juga menghambat pembangunan nasional karena WTO merupakan bentuk penjajahan ekonomi gaya baru (neoliberalisme) yang dimonopoli negara maju untuk semakin memperkuat basis ekonominya,” tandas Erick.

SYFM juga meminta Indonesia meninjau kembali keanggotaan di WTO. Tidak sampai di situ, Pemerintah Indonesia juga harus menolak hasil konferensi. (Yug)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,045PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles