Warga Antri Berjam-jam Demi Dapat Elpiji 3 Kg

MENARAnews, Pandeglang (Banten) – Warga Kampung Cipacing, Desa Ciputri, Kecamatan Kaduhejo mulai kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kg. Sejak satu pekan terakhir, pasokan gas elpiji di agen terdekat tidak pernah memenuhi kebutuhan warga.

Akibatnya sejak Senin (20/11/2017) pagi, mereka rela mengantre berjam-jam untuk mendapatkan gas elpiji 3 kg. Padahal, kios terdekat belum dibuka.

Upaya mereka untuk memperoleh gas melon itu baru berbuah hasil pada pukul 10.00 WIB. Kedatangan mobil pengangkut gas elpiji, langsung diserbu warga yang sudah mengantre lebih dari 3 jam.

Warga memilih untuk mengantre lantaran harga di agen sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700. Sedangkan jika sampai dipengecer, harganya bisa lebih dari Rp20.000.

Kendati demikian, tidak semua warga berhasil mendapatkan gas elpiji. Tak sedikit pula yang harus gigit jari karena tidak kebagian jatah meski telah mengantre berjam-jam lamanya.

Salah seorang warga, Erni mengatakan, pasokan gas elpiji di wilayahnya kerap tidak menentu. Bahkan kekosongan gas elpiji di daerahnya sudah terjadi seminggu terakhir. Sekalipun distribusinya tiba, setiap warga hanya diperbolehkan membeli 1 tabung gas.

“Kami sudah antre dari pukul 07.00 WIB. Seminggu sekali dapatnya. Satu gas saja susah. Di sini sudah lebih dari 2 minggu sulit dapat gas, mas,” keluhnya.

Menurut Erni, akibat kelangkaan ini, banyak warga yang terpaksa menggunakan kayu bakar untuk kegiatan memasak. Dirinya pun berharap agar ke depannya, distribusi gas subsidi tersebut kembali lancar agar masyarakat tidak kesulitan dalam menjalankan aktivitas memasak.

“Harapan kami distribusinya bisa lancar sehingga warga tidak kesukitan mendapat gas elpiji. Ini kan sudah jadi kebutuhan pokok warga,” tuturnya.

Pengelola agen gas, Jaja menerangkan, pihaknya hanya dijatah sebanyak 10 tabung setiap harinya oleh pangkalan. Sehingga tidak semua warga yang mengantre mendapatkan gas elpiji.

“Jadi ini memang buat pengecer. Sebetulnya tidak langka, setiap hari juga ada gas mah. Tapi pasokannya paling 10 sampai 20 tabung,” katanya.

Diakuinya, kondisi tersebut sudah terjadi sejak beberapa pekan lalu. Hal itu membuat para agen kewalahan dalam memenuhi permintaan warga. Namun dirinya tidak dapat berbuat banyak atas kondisi tersebut.

“Ini sebetulnya tidak cukup untuk masyarakat. Kebutuhannya sekitar 30 sampai 40 tabung per hari. Jatah kami segini memang baru buka, belum lebih dari 3 bulan,” imbuh Jaja.

Meski ketersediaan gas 3 kg dibatasi, Jaja menyebutkan bahwa pihaknya tidak menaikkan harga per tabung. Ia tetap menjual gas melon tersebut sesuai HET yakni senilai Rp15.700 pertabung.

“Kami tetap menjual sesuai HET. Kalau dinaikkan, nanti bisa kena sanksi,” tandasnya.

Kepala Bagian Perekonomian Setda Pandeglang, Tatang Muhtasar mengungkapkan, seharusnya kuota untuk masyarakat mendapatkan gas elpiji mencukup hingga akhir tahun. Karena Pemkab sudah mengajukan alokasi tahun 2017 sekitar 8 juta tabung.

“Seharusnya kuota untuk Pandeglang cukup, sesuai dengan jumlah rumah tangga,” ujarnya.

Diakui Tatang, memang setiap pangkalan diberi batasan pasokan untuk per bulan. Namun dalam beberapa bulan terakhir, pihaknya belum menerima laporan dari setiap pangkalan.

Kuota memang dibatasi. Untuk pengaturan disetiap pangkalan, mereka yang mengatur. Tetapi selama 3 bulan mereka tidak memberi laporan berapa yang sudah dikeluarkan. Tetapi kami akan coba menelusuri melihat apa masalahnya,” tutup mantan Dirut PDAM Tirta Berkah Pandeglang itu. (IN)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,031PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles