spot_img

Geprindo : Kita Harus Waspadai Politik Pecah Belah Asing

Menaranews,Jakarta – Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo) Bastian P Simanjuntak mengingatkan kepada seluruh elemen yang terkait agar saling mewaspadai adanya politik adu domba yang digerakkan oleh oknum perorangan maupun kelompok yang tidak bertanggung jawab.

“Kami menyerukan kepada rakyat Indonesia untuk tidak mudah dipecah-belah oleh pihak-pihak yang tidak kita bersatu. Kebangkitan kelompok Islam dan kelompok nasionalis pribumi merupakan momentum harus kita jaga bersama jangan sampai momentum yang sudah baik ini dihancurkan oleh pihak-pihak yang ingin menguasai Indonesia,” kata Bastian dalam keterangan persnya, Selasa (6/11).

Selain itu, Kata Bastian adanya kekuatan besar yang digencarkan oleh bangsa negara lain untuk membuat suasana dalam negeri terus gaduh.

Bahkan politik adu domba ini ditujukan agar persatuan dan kesatuan yang menjadi pondasi kekuatan bangsa Indonesia melemah.

“Islam dipecah belah, dibenturkan dengan Islam, pribumi dipecah belah lagi dan juga dibenturkan dengan sesama pribumi. Politik pecah belah akan selalu digunakan oleh bangsa lain agar kita terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil, sehingga kita lemah dan mudah dikalahkan,” tegasnya.

Bastian juga mengatakan jika bangsa Indonesia harus meneladani para priyai dan ulama besar yang dimiliki oleh Indonesia.

“Kita harus belajar dari sikap para ulama besar, dalam peristiwa aksi 212 para ulama memberikan contoh yang baik yaitu sikap teguh untuk tidak terprovokasi meskipun para pendemo ditembaki gas air mata oleh aparat kepolisian. Itu tandanya para ulama mengerti akan keberadaan pihak-pihak yang menginginkan pertikaian antar sesama anak bangsa,” ujarnya.

Bastian yang juga merupakan eks aktivis 98 ini juga menambahkan jika politik adu domba ini sudah disadari betul oleh para ulama dan priyai di Indonesia. Untuk itu, ia menghimbau kepada para ulama tersebut untuk memberikan penekanan agar bangsa Indonesia tidak mudah terprovokasi dengan isu dan gerakan apapun yang membuat persatuan dan kesatuan Indonesia semakin desdruktif.

“Para ulama tidak ingin bangsa Indonesia terpecah belah dan masuk dalam perangkap adu domba. Kita juga bisa melihat contoh perangkap adu domba dan pecah belah yang pernah terjadi pada peristiwa 98 dimana masyarakat diajak oleh sekelompok orang yang tidak dikenal untuk melakukan penjarahan bahkan dimunculkan sikap saling benci antara mahasiswa dengan PAM Swakarsa, yang pada akhirnya terjadi kerusuhan besar yang mengakibatkan undang-undang Dasar 45 kita diamandemen, ditambah lepasnya Timor Timur dari pangkuan Ibu Pertiwi,” terangnya.

Untuk mengantisipasi perpecahan dan pertikaian antar sesama anak bangsa, Bastian pun menyerukan agar seluruh elemen bangsa Indonesia mengenali betul siapa sebenarnya musuh bangsa dan negara, sehingga polemik di kalangan masyarakat tidak semakin gaduh dan membuat pihak yang berkepentingan tertawa lepas.

“Mari kita kuatkan kembali tekad kita dan mengenali musuh kita yang sebenarnya. Siapa yang berkepentingan di lingkaran elit sana untuk terus menciptakan polemik antar masyarakat. Yang pasti koruptor masih tetap merajalela dan ada antek-antek asing aseng yang terus berupaya memperlemah negara kita dan membiarkan Indonesia dimasuki oleh Neo imperialisme dan neokolonialisme asing,” ucapnya.

“Hegemoni asing dan Aseng tengah berlangsung dan mereka tidak ingin kelompok Islam dan kelompok nasionalis pribumi bersatu. Karena jikalau kita bersatu, maka ‘moncong senjata’ kita akan mengarah mereka, yaitu para penjajah gaya baru dan para kompradornya,” pungkasnya. (MR)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,045PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles