Portal Berita Online Indonesia

Menteri Kesehatan Memimpin Minum Obat Pencegahan Kaki Gajah di Jatisrono, Demak

MENARAnews, Demak (Jateng) – Sejak dicanangkannya Oktober sebagai Bulan Eliminasi Kaki Gajah pada tahun 2015 lalu, maka setiap Oktober, penduduk yang tinggal di kabupaten / kota epidemis penyakit Kaki Gajah, dihimbau untuk meminum obat pencegahan terhadap penyakit Kaki gajah.

Kegiatan pencegahan terhadap epidemis penyakit yang ditimbulkan oleh semua jenis nyamuk ini, dilakukan dengan bersama-sama minum obat pencegahan epidemi penyakit Kaki Gajah, secara serentak di seluruh Indonesia.

Pada Oktober ini, Desa Jatisrono, kecamatan Gajah, kab Demak yang mendapat kesempatan untuk minum obat pencegahan Kaki Gajah tersebut bersama Mentri Kesehatan, Prof. Dr.dr. Nila Farid Moeloek Sp.M(K) beserta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Demak, HM Natsir beserta seluruh rombongan.

Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis tersebut dirasa sangat penting dilakukan, karena POPM tersebut bersifat perlindungan perorangan, seperti yang dikatakan Mentri Kesehatan dalam sambutannya di desa Jatisrono, Gajah, Demak (7/10),

“Kali ini merupakan tahun ke tiga, kita melaksanakan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (BELKAGA). Tahun 2017, sebanyak 150 kabupaten/kota secara serentak akan melaksanakan kegiatan POPM yang dimulai sejak hari ini.”

Menkes menyatakan optimis, bahwa Indonesia akan dapat mencapai target bebas penyakit Kaki Gajah dan dapat memutus mata rantai penyakit kaki gajah dengan melakukan BELKAGA selama 5 tahun berturut-turut, seperti yang disampaikan Menkes,

” Jika kita berhasil melaksanakan BELKAGA selama 5 tahun berturut-turut Kabupaten/Kota Epidemis Filariadis dengan cakupan lebih 65%, maka Insya Allah pada tahun 2020 kita akan mewujudkan Indonesia bebas Kaki Gajah.”

Pada kesempatan tersebut, Bupati Demak HM Natsir dalam sambutannya mengatakan tentang upaya misi peningkatan pelayanan kesehatan di Kab-Demak dan upaya pencegahan penyakit Kaki Gajah.

”Salah satu misi Pemkab Demak adalah meningkatkan pelayanan dalam kesehatan, termasuk di dalamnya adalah pencegahan dan penyembuhan penyakit Kaki Gajah. Penyakit ini termasuk epidemis. Di Kab Demak sendiri sejak tahun 2005 hingga 2017 terdapat 41 orang yang terkena. Upaya pencegahannya dengan himbauan menanam lavender di rumah penduduk dan menunjuk petugas untuk memberantas jentik nyamuk, dengan program 1 rumah, 1 Jumantik (Juru Pemantau Jentik).”

Jumantik sendiri merupakan bagian dari Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PISK-PK), suatu program yang bertugas, melakukan pendampingan program pemberian obat pencegahan masal (POPM) Filariasis dan pengendalian vektor penyakit (jentik dan sarang nyamuk).

Tugas dari Jumantik yakni berupa kunjungan rumah untuk memantau kesehatan baik manusia maupun rumahnya sehingga dapat ditemukan kasus atau pengobatan dini Filariasis, hingga perawatan bagi penderita Kaki Gajah.

Dalam agenda kegiatan tersebut Menkes juga memberikan apresiasi bagi 13 kabupaten yang tahun ini sudah lulus eliminasi filariasis.

Didampingi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Bupati Demak, Menkes melakukan kunjungan ke rumah-rumah warga yang terkena epidemi Kaki Gajah.

Dalam kunjungan tersebut Gubernur Jateng, fokus pada seorang bayi berusia 15 bulan, yang kulitnya terlihat mengelupas dikarenakan adanya kelainan genetik dalam tubuh bayi bernama Elvira Kusuma Putri, Ganjar kemudian menghimbau agar orang tua bayi tersebut Silvia Fitrianti agar segera mengurus BPJS dan meminta rujukan ke Karyadi. Kepada menaranews.com Ganjar mengatakan,

“Harus segera urus ke BPJS, dan harus dirujuk. Kasihan sekali jika harus berlama-lama ditangani. Jika ada hambatan sebaiknya sesegera mungkin diselesaikan, minta Kades (Kepala Desa) untuk menuntun atau memfasilitasi, media juga silahkan mengawal.”

Pada kesempatan tersebut pula Ganjar juga memberikan bantuan kepada masyarakat yang tidak memiliki jamban di rumah, sebagai upayanya mendukung program PemKab Demak mengenai : Sedekah Jamban.

Setelah meninggalkan desa Jatisrono, rombongan Menkes meninjau Puskesmas Gajah sebelum bertolak kembali ke Jakarta. (Nsn)