Portal Berita Online Indonesia

OBOR, Latah, dan Romantisme Masa Lalu

*Kolom Redaksi Sabtu

 

Pernahkah anda melakukan nostalgia atau seperti definisinya dalam KBBI, mengingat peristiwa manis di masa lalu, atau lebih jauh lagi melakukan kontemplasi alias life review untuk mengevaluasi masa lalu ? Sejauh yang saya tahu life review ini dianggap sangat positif dan bermanfaat, bahkan menjadi salah satu metode terapi bagi lansia agar terus memiliki gairah hidup. Maka, nostalgia pada hal-hal yang kita alami, termasuk pada sejarah bangsa dan dunia, yang mungkin tak kita alami secara langsung niscaya sama bermanfaatnya untuk mengevaluasi langkah di masa depan.

 

Syahdan melalui salah satu aplikasi komunikasi dan sosial media yang sedang ngetop saat ini, saya sempat bertukar cerita dengan seorang teman lama, tentang betapa menyenangkan sekaligus melelahkannya bersosial media. Kemudahan mendapat hiburan audio-visual-teks melalui jejaring sosial berbanding lurus dengan meningkatnya tekanan untuk “eksis” di media sosial. Kebebasan berpendapat dan mengunggah konten dengan tren “live-report” bahkan membuat separuh aktivitas sehari-hari dijejali dengan media sosial baik mengunggah atau mengunduh. Tren ini juga yang membuat generasi milenial gampang “maaf” ikut-ikutan agar tak ketinggalan kekinian, seru-seruan, dan gila-gilaan. Budaya latah, lebih simpelnya. Menariknya, berdasarkan penelitian empirik, Gimlette (1912), Winzeller (1995), dan Kenny (1978) menyimpulkan bahwa latah adalah penyakit yang paling kuno karena hanya ditemukan pada masyarakat terbelakang, berkembang dan terjajah. Penelitian lain menunjukkan data latah ditemukan di Asia Tenggara, membentang dari Semenanjung Malaysia (Kelantan dan Trengganu), orang-orang pedalaman Semai di dataran tinggi semenanjung Malaysia, Serawak, Singapura, Dayak Iban hingga membentang sampai ke wilayah Jawa (Abdul Kadir: 2009).

 

Kelatahan adalah sebuah anomali di Indonesia khususnya tempat saya tinggal saat ini, Medan. Stereotipe orang Medan yang dianggap suka meniru-meniru khususnya dari negara tetangga, bahkan hingga soal gaya hidup, membuat hal ini sering menjadi bahan olokan. Di sisi lain, tak bisa juga dikatakan salah apalagi dosa. Jadi diri sendiri tapi tidak punya nilai tambah yang istimewa dan tak sanggup beradaptasi justru akan ditertawakan seisi dunia (internasional). Lihatlah kejatuhan beberapa perusahaan dan industri raksasa masa lalu yang tak kuat menentang jaman karena lambat beradaptasi.

 

Bicara soal jagoan meniru, belajarlah pada Tiongkok. Sudah jamak dikenal apapun bisa ditiru oleh negeri Panda ini. Jangankan barang elektronik atau kendaraan bermotor, sekelas pesawat, satelit, dan kapal induk pun sudah berhasil ditiru dari negara-negara yang mengklaim sebagai pioneer dan ahli seperti AS, Perancis, atau Rusia. Ini adalah lompatan besar mengingat sebelumnya Tiongkok disebut hanya mahir di dua jurus pertama dari tiga “ajian” ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).

 

Ngomong-ngomong, tahukah anda bahwa kini Tiongkok memiliki banyak penemuan baru yang menjadi pioneer saat ini. Masih segar di ingatan saat Tiongkok memboikot Google, lalu mencontek habis mesin pencari itu dengan membuat Baidu. Tapi saat ini, percayakah anda bahwa aplikasi We-Chat bikinan Tiongkok sudah jauh lebih hebat dari Whatsapp, Telegram, atau Blackberry Messenger ?

 

We-Chat telah bertransformasi membawa dunia elektronik dalam medium internet di Tiongkok pada era baru. Aplikasi ini membuat warga Tiongkok tak perlu lagi membawa uang kontan ketika bepergian. Dengan fitur We-Chat Pay, 37% transaksi online di Tiongkok yang penduduknya 18% populasi dunia ini dikuasai aplikasi chat ini, urutan kedua di bawah Alipay yang dimiliki Alibaba. Bahkan memberi angpao juga bisa dengan aplikasi ini. Soal juara e-commerce, Alibaba yang jadi juaranya bahkan membuat warga Tiongkok hampir tak pernah lagi ke supermarket hanya untuk berbelanja secara rutin. Jadi ingat transportasi online dan konvensional di tanah air yang melulu ribut.

 

Lompatan paling mencengangkan yang saya rasa dilandasi romantisme masa lalu di tahun 2017 ini mungkin adalah gagasan Tiongkok soal Jalur Sutra Baru yang dinamai Belt and Road Initiative (BRI) atau oleh Pemerintah Indonesia lebih dikenal dengan istilah One Belt One Road (OBOR). Beda akronim intinya sama saja. BRI alias OBOR hendak mengulang kejayaan Tiongkok masa lalu di jalur perdagangan darat (Jalur Sutra) ditambah jalur laut hingga mencapai Eropa. Konektivitas OBOR ini akan berimplikasi tidak saja pada sektor perhubungan, tetapi juga perdagangan, investasi, dan hubungan antar masyarakat. Di Sumut, sejumlah mega proyek digadang-gadang akan mendukung romantisme kesuksesan Jalur Sutera, mulai dari Aerotropolis (Kota Bandara) Kualanamu yang saat ini sudah meraih sertifikasi Bintang 4 dari Skytrax dan mengalahkan Bandara Soetta (termasuk dengan konektivitas kereta api cepat yang membuat teman-teman saya dari kota dan negara lain berdecak kagum), Pelabuhan dan Kawasan Industri Kuala Tanjung di Kab. Batubara yang kabarnya sudah membuat ketar-ketir Singapura karena akan menjadi hub sesungguhnya di Selat Malaka, serta Kawasan Industri Sei Mangkei sebagai pusat industri CPO yang saat ini telah berjalan, digadang menjadi Green Economic Zone dan akan terintegrasi dengan berbagai akses transportasi seperti jalan tol Trans Sumatera, serta jalur kereta api ke Pelabuhan Kuala Tanjung.

 

Di masa lalu, Tiongkok adalah bangsa peniru. Sebagaimana dulu Jepang meniru Amerika Serikat, dan Amerika Serikat juga meniru Eropa, dan seterusnya. Nah, sekarang bisakah Medan dengan tiga proyek raksasanya serta Indonesia dengan puluhan proyek raksasa seperti yang terdaftar di Perpres No. 58/2017 juga belajar dari itu ? Kuncinya adalah mendukung konektivitas ekonomi dan infrastruktur, sejalan dengan tren sosial media kaum milenial saat ini. OBOR adalah contoh hasil ide romantisme masa lalu yang tepat untuk mendorong pembangunan Asia Tenggara. Semoga. (red)