HUT Bhayangkara Ke-71,Kapolda Kalteng Terima Gelar Adat Dayak

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) –Pemperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke – 71 Tahun, Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Provinsi Kalimantan Tengah, Brigjen Pol.Anang Revandoko mendapat gelar kehormatan secara langsung oleh Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalteng Agustiar Sabran sabtu (01/07) di Gedung Graha Bhayangkara Mapolda Kalteng.

Gelar adat yang terbilang balu kali ini diberikan yakni “Mantir Hai Panambahan Antang Baputi Penyang Karambang Lewu Mandereh Danum” artinya seseorang pemimpin yang dituakan, pemberani, arif dan Bijaksana serta mampu menjaga keamanan dan ketertiban dirangkai dengan pemberian baju adat Dayak dari kulit kayu, Mandau senjata khas Suku Dayak, dan Topi adat.

Agustiar Sabran diwawancarai usia kegiatan syukuran HUT Bhayangkara Ke-71 Tahun menyampaikan, pemberian gelar adat tentunya sudah melalui mekanisme, tahapan dan proses yang begitu panjang di DAD, serta melibatkan sejumlah tokoh adat seperti Danam, Mantir dan lainnya.

“Pemberian gelar adat sendiri tidak serta merta diberikan begitu saja, ada proses. Tentu kita juga mengapresiasi kinerja Kapolda Kalteng dalam membangun Kalteng khsusunya untuk menjaga keamanan dan ketertiban, salah satunya seperti yang disampaikan dalam sambutanya tadi, 70 persen putra-putri Daerah masuk Polisi” jelas Agustiar Sabran.

Disisi lain, Kepolda Kalteng, Brigjen. Pol. Anang Revandoko ketiak diwawancarai mengatakan, pemberian gelar adat tersebut merupakan suatu kehormatan serta bentuk kepercayaan masyarakat Kalteng kepada Aparat Kepolisian untuk lebih memaksimalkan lagi pelayanana serta menjaga kemanan dan ketertiban.

“Hal ini tentu tidaklah mudah, kita perlu memperkuat lagi personil-personil yang ada mulai poapol, Polsek, Polres sampai dengan di tingkat Polda. Dan kami siap bekerjasama dengan teman-teman dari Organisasi Adat dalam rangka melindungi, dan melayani masyarakat Kalteng dalam memperoleh rasa aman dan nyaman.” tukas Anang Revandoko.

Pantauan dilapangan, pemberian gelar kehormatan tersebut pun diakhiri dengan prosesi ritual “Tapung Tawar” oleh Mantir Adat, dimana prosesi Tapung Tawar merupakan ritual pembersihan diri agar terhindar dari malapetaka dan Tapung Tawar juga diisi dengan doa-doa supaya siapapun yang menjalani prosesi Ritual ini selalu diberkati oleh yang maha kuasa dalam menjalankan tugas-tugasnya.(arli)

Editor: Hidayat

Comments
Loading...