UPR Cegah Paham Radikalisme dan Anti Pancasila di Kampus

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) – Dengan maksud menanamkan kembali serta menumbuhkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi penerus bangsa khususnya kalangan mahasiswa serta menyikapi terkait adanya isu-isu perpecahan yang terjadi, Universitas Palangka Raya (UPR) mengadakan kegiatan Dialog Kampus dengan tema “Antisipasi Masuknya Gerakan Anti Pancasila dan Radikalisme di Kampus,”  Sabtu (17/06), di Aula Fakultas Pertanian UPR.

Ada beberapa hal yang mengemuka dalam kegiatan dialog yang dihadiri oleh narasumber yakni Sabian Usman dari Forum Koordinasi Pencegahan Teroris (FKPT) Kalteng, dan Dr. Sidik R. Usop selaku dosen Fisip UPR serta puluhan mahasiswa yang hadir.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UPR, Bambang S. Lautt menyampaikan, pihaknya ingin menanamkan kembali semangat ber-Pancasila. Menanggapi adanya isu-isu perpecahan yang ada, dirinya berkeinginan bagaimana masyarakat  kembali pada persatuan dan kesatuan secara hakiki.

“Kondisi yang sebenarnya sesuai dengan semangat kesatuan dan persatuan yang sudah dibangun oleh para pendiri Bangsa. Sekarang ini banyak isu-isu itu muncul di masyarakat, kita sebagai kalangan kampus berusaha bagaimana isu terkait hal itu bisa kita kendalikan, dan jangan sampai terkontaminasi,” jelas Bambang.

Sebagai wujud peran serta mahasiswa sendiri untuk mengantisipasi masuknya paham anti pancasila dan radikalisme di lingkungan kampus, Ia menjelaskan, hal yang utama bagaimana menanamkan nilai-nilai Pancasila yang diimplementasikan dalam bentuk kegiatan, dan membangun ruang diskusi atau dialog kepada mahasiswa.

Sehingga Komunikasi dan tali silaturrahmi antar mahasiswa dengan dosen tetap terjalin. Sehingga jika terjadi perbedaan cara berpikir dan sudut pandang, sikap, dan perilaku, lanjutnya lebih dalam, hal itu dapat diminimalisir.

“Kalimantan Tengah mempunyai falsafah Bumi Tambun Bungai Bumi Pancasila dan filosofi Huma Betang. Itulah yang terus kita galakan kepada mahasiswa termasuk kepada mahasiswa-mahasiswa baru, guna mengingatkan mereka bahwa masyarakat di Kalteng hidup dengan rukun, berdampingan dan damai,” ujarnya menambahkan.

Di samping itu, Sidik R. Usop selaku Dosen Fisip UPR dan juga selaku narasumber ketika diwawancarai menjelaskan, hal yang paling utama dilakukan adalah bagaimana membenahi praktek-praktek penyelenggaraan dari nilai-nilai Pancasila itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

“Seperti di kampus itu kan, pendidikan Pancasila hanya dinilai dari aspek pengetahuan saja, padahal Pancasila dapat dapat dinilai lagi lebih dalam melalui aspek sikap, perilaku dan tindakan, karena dia membentuk sebuah kepribadian seseorang. Jadi tidak cukup hanya belajar dan dinilai hasilnya” jelas Sidik R. Usop.

Ada banyak metode-metode pembelajaran yang bisa menerapkan nilai-nilai Pancasila. Bukan hanya melalui ceramah atau belajar di kampus saja, tapi juga ditetapkan melalui permainan, simulasi dan kunjungan kelapangan sehingga nantinya dapat membedakan, siapa yang Pancasilais dan tidak.

Dirinya menilai, banyak yang hanya disampaikan secara lisan tentang Pancasila, padahal ujarnya lagi, di lapangan nilai dari Pancasila itu sendiri tidak diterapkan. Justru mereka para elit-elit politik ini yang mempertontonkan nilai-nilai anti Pancasila.

“Kita tidak menginginkan hal itu, oleh sebab itu pembenahan dapat dimulai dari kampus. Apa yang perlu kita benahi, benahilah sekarang. Seperti metode pendidikan dan pelajaran yang ada. Seperti memperdayakan UKM untuk menciptakan masyarakat mandiri juga merupakan bagian dari Pancasila,” katanya.

Dengan adanya implementasi tersebut, secara langsung juga akan menghindarkan mahasiswa dari pengaruh faham radikalisme dan anti Pancasila, dan bahkan secara bersamaan membentuk jiwa nasionalisme.(arli)

Editor: Hidayat

Comments
Loading...