Tersangka Dugaan Pemukulan: Kami Tidak Melihat Adanya Pemukulan

MENARAnews, Banda Aceh (Aceh) – Kasus dugaan pemukulan yang menimpa anggota DPMU perwakilan FKIP Universitas Syiah Kuala masuk ke tahap pemeriksaan saksi. Polisi juga telah menetapkan dua orang tersangka atas peristiwa yang terjadi saat sidang pemilihan struktural Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Universitas Syiah Kuala.

Dua orang yang ditetapkan sebagai tersangka, Agung Saputra dan Zulfahmi membantah secara tegas keduanya terlibat dalam dugaan pemukulan terhadap pelapor yakni anggota DPMU perwakilan FKIP tersebut.

Agung Saputra menuturkan, penetapan dirinya sebagai tersangka datang secara tiba-tiba. Tanpa proses apapun, pada 15 Mei 2017, polisi langsung mengirim surat kepada keduanya dengan penetapan status sebagai tersangka kasus tersebut.

“Kami tidak melihat adanya tindakan pemukulan dalam ruang sidang. Kami hanya terlibat pengambilan palu sidang yang direbut paksa dan dibawa lari oleh pelapor saat sidang sedang berlangsung. Bahkan MENWA (resimen mahasiswa) ikut membantu pengambilan palu sidang dari tangan pelapor,” kata Agung dalam keterangannya, Kamis (1/6/2017).

Agung bercerita, saat pelaksanaan sidang MPM di ruang Multi Purpose Room  Fakultas Pertanian Unsyiah 30 April 2017 lalu, ia menjadi salah satu anggota sidang. Saat sidang berlangsung, peserta sidang dialihkan perhatiannya pada seorang peserta sidang yang melanggar peraturan dengan menggunakan alat komunkasi untuk merekam jalannya persidangan, ketika itu tiba-tiba pelapor berlari ke arah panggung pimpinan sidang sementara Via Azelia, untuk merebut palu sidang. Bahkan Via sempat terluka akibat mempertahankan palu sidang.

Setelah perebutan palu yang dilakukan oleh pelapor, para peserta sidang mencoba merebut kembali palu sidang dari tangan pelapor, melihat kejadian tersebut pihak MENWA tidak tinggal diam, dengan sigap mereka mengamankan pelapor karena dianggap memicu kericuhan.

Zulfahmi menambahkan, “jika memang ada pihak yang merasa dianiaya apa salahnya kita selesaikan secara kekeluargaan di kampus. Apa dia tidak menghargai lagi orang tua (rektorat) kita di kampus sehingga langsung ke polisi ? kalaupun ada diberitakan bahwa tidak ada i’tikat baik dari kami, bisa ditanyakan langsung ke Wakil Rektor III, Saya dan keluarga beserta pihak rektorat sudah mengupayakan penyelesaian secara kekeluargaan, tetapi tidak ada titik temu”.

Disamping itu, kedua tersangka bahkan tidak menyangka pelapor didampingi oleh dua orang pengacara yang diduga kuat merupakan pengurus salah satu partai politik nasional. Padahal kata Agung, jika hal ini benar sungguh sangat disayangkan, karena ranah ini baiknya diselesaikan di dalam kampus, tidak perlu sampai ke luar kampus apalagi melibatkan aktor politik. (AM)

Comments
Loading...