HMI Bali Gelar Seminar, “Nasional-Is-Me, Tolak Sistem Khilafah, Memperkokoh Pancasila, dan Merawat Kebhinekaan”

MENARAnews, Bali (Kota Denpasar) – Bertempat di Ballroom Shunda Hotel Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara diselenggarakan Seminar Nasional oleh Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Koordinasi Bali – Nusa Tenggara (Nusra) bertema “Nasional-Is-Me, Tolak Sistem Khilafah, Memperkokoh Pancasila, Merawat Kebhinekaan,” Minggu (18/6/2017).

“Kegiatan ini merupakan hasil perumusan ide untuk Bali aman sebagai destinasi pariwisata setidaknya dari organisasi intoleran yang merongrong Pancasila. Gagasan untuk penguatan Pancasila harus kita jaga utuh, apabila ada anak bangsa yang menggadaikan ideologi Pancasila ibaratnya menggadaikan dirinya oleh karena itu perlunya kita rawat Pancasila sebagai aset bangsa ini,” ucap Kabid. Pariwisata Badan Koordinasi (Badko) HMI Bali-Nusra, AS. Hamdi dalam sambutannya.

Senada dengan AS. Hamdi Ketua Umum Badko HMI Bali-Nusra, Abdul Hafid mengungkapkan bahwa ini merupakan hasil koordinasi HMI Bali – Nusra yang turut ikut mendukung Pemerintah untuk menjaga NKRI dari ormas-ormas intoleran. Acara ini yang akan dilanjutkan di Mataram dan berakhir di NTT. Bali yang menjadi awal terselenggaranya acara karena Bali sebagai destinasi pariwisata dunia yang harus dibanggakan dan Bali menjadi tolak ukur toleransi beragama.

Syaifudin Hamdi dalam materinya menjelaskan bahwa fitrah manusia adalah berkumpul hidup bersama-sama dimana setiap bertemu ada naluri untuk kebersamaan, jika menyendiri adalah melawan fitrah dan di dalam hidup bersama-sama di tingkat kabupaten hingga bangsa ada aturannya.

“Hizbut Tahrir artinya merupakan kelompok yang ingin menciptakan kemerdekaan dan dibubarkan karena tidak mau menerima Pancasila. Dahulu Kyai Wahid Hasyim menyetujui bahwa dalam Pancasila ada Ketuhanan Yang Maha Esa demi kemaslahatan agar tidak menimbulkan perpecahan. Kalau kita negara Islam maka kita mau berkiblat kemana Afganistan, Suriah atau Irak? Indonesia bukan negara Islam tetapi negara yang menjalankan Syariat Islam, yang masuk surga itu adalah yang mati di jalan Allah bukan Jalan Thamrin,” papar Syaifudin Hamdi.

Sementara itu, Komandan Koramil Kuta Selatan, Mayor Kavileri Suprapto menyampaikan bahwa perjuangan para pahlawan pendahulu berjuang tidak mengenal suku dan agama apapun namun semua bersatu padu untuk merebut kemerdekaan agar kembali ke tangan kita. Apakah kita akan kembali seperti jaman dahulu? Persoalan agama, RAS harus kita satukan dalam satu nusa satu bangsa.

“Nasionalisme berarti aku, saya Indonesia, saya Pancasila dan sesuai dengan beragam agama yang ada. HTI berlandaskan Islam, dalam Islam orang yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Kalian bisa diadu domba karena masih menonjolkan egonya, kalau masih bersuku-suku kita bisa dijajah. Lebih baik kita hidup dalam Pancasila, dibawah Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI yang harus dipertahankan. Jangan mengikuti produk luar negeri seperti ISIS, kalian punya produk dalam negeri yang berasal dari para pahlawan seperti Pangeran Diponegoro dan I Gusti Ngurah Rai. Kalau ada yang mau menghancurkan Bangsa Indonesia harus kita lawan, jangan sampai anda mau dipecah belah yang bisa mempersatukan adalah Pancasila,” terang Mayor Kavileri Suprapto.

Sekretaris Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembina Ideologi Pancasila (UKPPIP), Mayjen. TNI Purn. Wisnu Bawa Tenaya di depan para peserta seminar menjelaskan bahwa cita-cita nasional bangsa Indonesia adil, berdaulat, bersatu dan makmur. Kita harus kerja keras, kerja ikhlas dan bekerja sama untuk mewujudkannya. Dahulu sudah banyak pemberontakan di berbagai pulau di Indonesia sampai dengan kemerdekaan kita bisa renggut. Letak posisi Indonesia sangat kaya melimpah dan wisatawan berbagai negara berkunjung kesini termasuk Raja Arab. Ancaman bangsa adalah Narkoba bukan peperangan termasuk permasalahan bangsa korupsi oleh karena itu pentingnya agama untuk menjaga moriilnya.

“Perlunya menjaga kearifan lokal, lokomotif Indonesia adalah tourism dan bukan hanya Bali, namun berbagai wilayah agar dolar dapat datang ke Indonesia. Ketahanan dimulai dari individu, tanya kepada hati sanubari kita dimana kata hati yang terbenar. Dalam bekerja ikhlas, tulus, berbuat yang terbaik, tidak terpengaruh dengan semua provokasi namun mampu untuk menyaring yang kotor dibuang bukan ditelan, narkoba berakibat merusak diri dan keluarga serta lingkungan. Kita ingat Indonesia Raya bangun jiwanya, bangun raganya dan bangun akhlaknya, serta Indonesia perlu membangun tali silaturrahmi. Mari bangun Indonesia bersama-sama karena tidak bisa kita membangun sendiri,” pungkas Wisnu Bawa Tenaya.

Dalam sesi terakhir, Badan Koordinasi HMI Bali-Nusa Tenggara menyatakan sikap yang berisi antara lain: semua bersama menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan dasar negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, Badan Koordinasi HMI Bali-Nusa Tenggara menyatakan sikap mendukung Iangkah tegas Pemerintah dalam membubarkan organisasi HTI, dan Badko HMI Bali-Nusra ikut serta menolak ormas-ormas di Indonesia yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Selain itu, melarang anggota HMIdi wilayah Koordinasi Badko HMI Bali-Nusra untuk mengikuti kegiatan-kegiatan HTI baik secara organisasi maupun pribadi sesuai dengan konstitusi HMI. Bagi anggota HMI di wilayah Koordinasi Badko HMI Bali-Nusra yang terindikasi terlibat dengan HTI secara organisasi maupun pribadi, maka keanggotaannya dalam HMI akan dicabut, demi menjaga dan merawat marwah HMI dan NKRI. Terakhir, menghimbau dan mengajak kepada segenap komponen masyarakat di seluruh Indonesia khususnya di Provinsi Bali untuk tetap merawat serta menjaga pluralisme, nilai-nilai universal dan NKRl. (NN)

Editor : N. Arditya

Comments
Loading...