KORAK Sumut Kecam Tindakan Represif Polrestabes Medan

MENARAnews, Medan (Sumut) – Sejumlah mahasiswa dari Solidaritas Mahasiswa Sumatera Utara mengecam Tindakan-tindakan Anti-Demokrasi dan Melawan Hukum (Penangkapan, Penahanan, Tidak Kooperatif terhadap Kuasa Hukum, Penggrebekan Sekretariat, Ancaman terhadap Kebebasan Berorganisasi dan Kebebasan Pers) yang dilakukan Pihak Poltabes Medan.

Hal ini disampaikan berdasarkan penangkapan 7 orang ( 2 mahasiswa USU yang tidak terkait dengan aksi , 1 peserta aksi, 3 awak Lembaga Pers Mahasiswa yang melakukan tugas
peliputan, 1 warga sekitar) dalam peristiwa aksi mahasiswa dalam momentum Hari Pendidikan Nasional, Selasa (2/5/2017) oleh pihak Polrestabes Medan, merupakan tindakan anti-demokratis yang sekaligus menjadi ancaman serius terhadap kebebasan berekspresi dan kebebasan pers.

Sebelumnya NN (salah satu mahasiswa yang tidak mau disebutkan namanya) menjelaskan bahwa saat massa aksi dalam proses membubarkan diri, terjadi provokasi berupa ancaman lisan, pelemparan batu terhadap massa aksi, oleh pihak yang belum diketahui. Tindakan provokasi ini dilakukan di dalam areal kampus. Sebagai bentuk pertahanan diri, massa aksi kemudian membalas lemparan batu sembari mengejar  pihak yang melempar. Dari pengejaran ini, didapati satu oknum polisi yang berada di barisan pelempar. Mahasiswa kemudian melampiaskan amarahnya kepada polisi ini.

“Namun patut digaris-bawahi, pelampiasan ini adalah akibat dari yang disebabkan tindakan provokasi. Karena aksi sudah secara jelas ditutup dan massa aksi sudah membubarkan diri dengan meninggalkan lokasi aksi serta memasuki kampus. Namun mengapa masih ada pihak yang memprovokasi serta ada oknum polisi di barisan provokator tersebut?” ujarnya kepada MENARAnews.com, Jumat (5/5/2017) pagi.

Selanjutnya NN menambahkan pada Kamis sore (4/5/2017), kepolisian kembali menangkap salah satu mahasiswa yang juga Pimpinan Umum LPM BOM ITM yaitu Syahdan P Damanik di Jl.Gedung Arca, Medan.

“benar bang kawan kami ditangkap saat diwarkop, ada banyak polisi pakai pakaian bebas bawa kreta sama mobil, lalu kawan kami diboyong masuk mobilnya, kami ketakutan” ujarnya kamis malam

Semetara pada malam harinya, pihak kepolisian melakukan penggrebekan di Sekretariat FORMADAS yang disertai penangkapn satu orang dan penyitaan berkas-berkas organisasi.

Selanjutnya Ronald Syafriansyah Tim Hukum KORAK (Koalisi Rakyat Anti Kriminalisasi) menjelaskan apa yang dilakukan oleh pihak kepolisian adalah ancaman bagi banyak aspek demokrasi di Indonesia yaitu, kebebasan pers, kebebasan berorganisasi, kebebasan berkespresi. Hilangnya hak tahanan untuk didampingi juga menambah rasa pesimis rakyat terhadap penegakan hukum. Kejadian semacam ini sangat berpotensi melahirkan rasa takut ditengah-tengah masyarakat untuk bisa mengutarakan keadaannya dan mengkritisi pemerintah.

Berdasarkan pemaparan diatas, Solidaritas Mahasiswa menyatakan sikap sebagai berikut;

1. Bebaskan 6 orang yang ditangkap!
2. Mengecam tindakan kepolisian yang melakukan represifitas dan penangkapan terhadap mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa!
3.Mengecam tindakan kepolisian yang melakukan penggrebekan di sekretariat Formadas!
4. Berikan hak kepada para tahanan untuk didampingi. (Pik)

Comments
Loading...