Kejari Pandeglang Tahan Seorang Tersangka Kasus Tunda

MENARAnews, Pandeglang (Banten) – Kejaksaan Negeri (Kejari) Pandeglang resmi menahan seorang tersangka kasus korupsi dana Tunjangan Daerah (Tunda) dilingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindukbud) Pandeglang tahun 2012-2015 atas nama Tata Sopandi, Selasa (16/5/2017). Penahanan terhadap mantan Bendahara Dindikbud tahun 2011 itu akan dilakukan selama 20 hari ke depan di Rutan Kelas IIB Pandeglang.

Kasi Pidsus Kejari Pandeglang, Feza Reza mengungkapkan, pada hari ini pihaknya telah melimpahkan tanggung jawab berkas dan barang bukti serta tersangka kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Pandeglang.

“Penahanan ini dilakukan dengan mempertimbangkan alasan tersangka tidak mengulangi perbuatan dan demi mempermudah proses persidangan kedepan, sebelum dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Serang,” ujar Feza kepada awak media.

Meski begitu, Kejari belum melakukan hal yang sama terhadap para tersangka kasus Tunda yang lain. Dimana diketahui, Kejari telah menetapkan 5 orang tersangka, namun pada akhir tahun 2016, seorang tersangka atas nama Rusbandi meninggal dunia.

“Secepatnya kami akan lakukan hal yang sama terhadap tersangka lain untuk dilimpahkan ke JPU untuk dilakukan pemeriksaan berkas perkara,” jelasnya.

Kepala Kejari Pandeglang, Wahjudi Djoko Triyono beralasan, pihaknya kini masih melakukan pendalaman penyidikan terhadap 3 tersangka lainnya lantaran masih menunggu hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perihal kerugian negara ditahun 2015.

“Untuk tersangka lain kami masih lakukan pendalaman, karena masih menunggu hasil audit BPKP tahap II. Kalau sudah selesai, kami proses lagi, berkas kami limpahkan lagi. Kalau untuk tersangka TS dinyatakan selesai tinggal dilimpahkan ke Tipikor Serang,” terangnya.

Dirinya pun belum dapat memastikan kapan tersangka lain akan ditahan. Yang jelas, Kejari menekankan bahwa kasus Tunda akan diusut sampai tuntas. Mengingat ada aktor intelektual lain yang belum terkuak.

“Kita lihat saja nanti, tidak bisa harus sama. Karena hukum itu fakta, bukan asumsi. Kami tegaskan, kami tidak main-main. Hanya saja harus ada proses yang harus ditempuh. Proses ini dilakukan secara bertahap, dari mulai bendahara ke tingkat lebih tinggi,” ucapnya yakin.

Pukul 14.00 WIB, Tata Sopandi keluar dari ruang pemeriksaan Kejari. Menggunakan batik berwarna cokelat, raut wajahnya nampak tak kuasa menahan sedih.

“Saya tegaskan kepada masyarakat Pandeglang, saya tidak menerima sedikitpun dana tunda. Saya mohon maaf dan semoga saya tetap bisa diberi kesehatan,” ujarnya berkaca-kaca seraya menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga dan isterinya.

Tata mengaku jika dirinya hanya sebagai korban, dan meminta kepada pejabat yang mengeruk uang negara, untuk bertanggungjawab. Bahkan ia berjanji akan membongkar semua informasi yang diketahui ketika memberi keterangan di persidangan.

“Saya ini korban, pimpinan tidak ada (yang ditetapkan, red). Tetapi sekarang jalannya seperti ini. Siapapun yang merasakan, harus bertanggung jawab. Allah maha tahu dan maha besar. Nanti saya akan ungkap semua dipersidangan, pasti dibongkar,” janjinya sambil memasuki mobil tahanan Kejaksaan.

Selain Tata Sopandi, kasus Tunda yang sudah bergulir sejak tahun lalu ini, juga menjerat 3 mantan pejabat di Dindikbud, yakni mantan Kepala Dindikbud periode 2012-2013, Abdul Azis, mantan Sekretaris Dindikbud Nursalim, dan Bendahara Pengeluaran Pembantu Dindikbud tahun 2012-2013, Rika Yusilawati. Pada pekan lalu, Kejari telah merilis kerugian negara yang terjadi pada rentang waktu 2012-2014 sebesar Rp 11.9 miliar. (Kr)

 

Editor: Irdan

Comments
Loading...