Infrastruktur Mendominasi Curhat Warga Saat Reses

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) – Anggota DPRD Kota Palangka Raya, Neni Andriaty Lambung mengungkapkan, soal infrastruktur, seperti drainase, jalan pemukiman hingga jembatan lebih dominan mewarnai dialog reses anggota dewan setempat. Bahkan kata dia, informasi dari setiap anggota dewan per daerah pemilihan (dapil), juga rata- rata mengemuka soal infrastruktur.

“Seperti reses dari dapil III di Kelurahan Pahandut, Kelurahan Panarung dan Kelurahan Pahandut Seberang, kebanyakan keluhan masyarakat adalah mengenai infrastruktur jalan, jembatan hingga drainase yang diminta perbaikan maupun peningkatan kualitas,ungkap Neni, Senin (8/5).

Dikatakan kegiatan reses, tahun ini tidak jauh berbeda dengan berbagai saran, masukan pada reses tahun sebelumnya, yakni mengenai aspirasi infrastruktur yang banyak tidak terakomodir.

Sebut saja warga mengeluhkan ada beberapa ruas jalan di Kelurahan Panarung yang perlu penanganan cepat oleh pemerintah kota.Kemudian ada pula keluhan warga Jalan Murjani, mereka meminta jalan titian dengan semenisasi.

Selain itu lanjut Neni, pihaknya pada saat reses dengan turun kelapangan juga menemukan banyaknya bangunan yang menutup saluran drainase sekunder, terutama di sekitar Jalan Ulin atau Pinus. Akibat drainase yang tertutup, maka ketika hujan deras mengakibatkan banjir dadakan. Dimana air meluap masuk ke rumah warga.

“Kami juga melihat semua drainase di Jalan Seth Adji dan Jalan Jati tertutup akibat bangunan tersebut. Padahal pihak RT setempat sudah memperingatkan agar tidak membangun menutup saluran draenase,” beber dia.

Pada saat reses, masyarakat juga mengeluhkan aspirasi yang sudah mereka usulkan dalam Musrenbang selama bertahun-tahun tidak diakomodir dan tidak ada realisasinya. Namun dalam hal itu kata Neni, pihak dewan telah menjawab terutama berkaitan dengan tidak ada terealisasinya usulan di Musrenbang, bahwa bukan karena pemerintah tidak memperhatikan, tapi karena memang kondisi kemampuan anggaran pemerintah daerah yang terbatas, bahkan APBD kota saja saat ini baru mencapai Rp1,3 Triliun lebih, hampir 60 persen untuk belanja tidak langsung.

Memang diakui masyarakat terlihat mulai jenuh dengan adanya kegiatan Musrenbang maupun reses, misalkan saja di Kelurahan Pahandut Seberang ada 7 RT/RW, dimana masyarakat setempat berkata, malas, bu/pak mengikuti kegiatan pemerintahan, karena aspirasi mereka selama bertahun-tahun tidak pernah terakomodir maupun terealisasi, kata Neni menirukan perkataan warga setempat.

Namun demikian, lanjutnya, lembaga DPRD Kota sebagai mitra perintah daerah, tetap memberikan semangat kepada masyarakat agar tidak putus asa dan tersus berjuang untuk pembangunan di wilayahnya. Artinya, mereka tidak dianaktirikan, tetap diperhatikan dan diharapakan masyarakat cukup mengerti karena hal ini dilakukan secara bertahap menyesuaikan kemampuan anggaran pemerintah.

Sementara bagi kami hasil reses nantinya ada bagian tertentu untuk disampaikan, sehingga tidak bisa diputuskan langsung. Sebut saja disampaikan pada saat rapat paripurna,imbuh Neni. (AF)

Editor: Hidayat 

Comments
Loading...