Perdagangan Dunia 2018 Diproyeksi Tumbuh Mencapai 4 Persen

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita melalui Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional Dody Edward menghadiri kegiatan Rapat Pimpinan (Rapim) Kamar Dagang dan Industri Provinsi Kalteng 2017 yang juga dihadiri langsung oleh Gubernur Kalteng Sugianto Sabrab dan Wakil Gubernur Kalteng Habib Said Ismail, FKPD Provinsi Kalteng,Ketua KADIN Pusat Rosan P. Roeslani, Ketua KADIN Kalteng, Tugio dan Ketua KADIN Se Kalteng.

Dody Edward ketika itu menyampaikan, Pemerintah akan memberikan perhatian khusus terhadap pelaku usaha. Oleh karena itu, perlu adanya strategi dan langkah yang tepat untuk terus membangun dunia usaha agar ke depannya dapat bersaing, baik dari kancah domestik maupun lokal.

“Laporan dari Bank Indonesia (BI) untuk bulan Februari 2017, perekonomian di Indonesia semakin membaik terutama didukung oleh perbaikan ekonomi di Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok serta di ikuti dengan harga komoditas global yang terus meningkat” jelas Dody Edward, Senin (17/04) di Aula Jayang Tingang Kantor Gubernur Kalteng Kota Palangka Raya.

Disampaikannya, diprediksikan tahun 2017 perdagangan dunia meningkat 2,4 persen dibandingkan tahun 2016 yang hanya mencapai 1,3 persen. Sementara pada tahun 2018 nanti, perdagangan dunia diproyeksikan akan tumbuh di kisaran sampai dengan 4 persen. Demikian pula ujarnya lagi, pertumbuhan ekonomi di Indonesia juga terus membaik.

Pada tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,02 persen membaik bila dibandingkan pertumbuhan ekonomi di tahun 2015 yang hanya tumbuh sebesar 4,9 persen. Kondisi rumah tangga juga sangat kuat, hal ini didukung dengan terjaganya inflasi yang terkendali serta ditopang dengan kinerja ekspor dan impor yang semakin membaik.

“Sejalan dengan hal tersebut. Kinerja Perdagangan Luar Negeri di Indonesia pada bulan Januari 2017 memberikan optimisme dengan mencatat surplus pergadangan sebesar 2,7 Miliar US Dollar. Dan terjadi peningkatan bila dibandingkan surplus Neraca Perdagangan di tahun sebelumnya yakni senilai 1,1 Miliar US Dollar,” jelasnya menambahkan.

Kenaikan neraca perdagangan di bulan Januari sampai dengan Februari 2017 di sumbang dari Surplus non migas sebesar 4,5 Miliar US Dollar dan Migas sebesar 1,7 Miliar US Dollar. Kinerja ekspor dan impor di awal tahun 2017 adalah paling tinggi bila dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya sejak Januari 2016.

Dimana secara kumulatif biaya expor di bulan Januari-Februari 2017 mencapai 2,98 Miliar US Dollar atau mingkat 19,20 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016. Sedangkan ekspor non migas di tahun 2017 mencapai 23,51 Miliar US Dollar atau meningkat sebesar 20,11 persen yang dipicu oleh hasil Industri pengolahan Januari-Februari 2017 naik mencapai 18,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016.

“Begitu juga dengan expor hasil Pertanian naik 20,36 persen dan expor hasil tambang dan lain-lain 28,20 persen. Perbaikan harga komoditas dipicu dengan adanya kenaikan juga menjadi faktor optimisme pada peningkatan ekspor di masa mendatang. Kinerja impor Januari-Februari 2017 tercatat mencapai 23,22 Miliar US Dollar, atau naik 12,51 persen,” tutupnya.(arli)

Editor: Hidayat

Comments
Loading...