Penggunaan Dana CSR Menuai Kritik, Ini Kata Badan Tawa Sopan

MENARAnews, Pandeglang (Banten) – Pengelolaan dana Coorporate Social Responsibillity (CSR) oleh lembaga Badan Pengelola Tanggungjawab Sosial Perusahaan dan Lingkungan (Tawa Sopan) Kabupaten Pandeglang terindikasi tidak transparan dan tidak efektif. Pasalnya, dana CSR yang diperoleh dari BJB justru direalisasikan untuk pembangunan Tugu Bundaran di Kecamatan Labuan.

Padahal, dalam Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Tanggungjawab Sosial Perusahaan dan Lingkungan, dicantumkan bahwa dana CSR diperuntukkan untuk pembiayaan pembangunan sarana prasarana fasilitas umum dan sosial, membiayai kegiatan sosial, agama, dan kemasyarakatan, permodalan usaha masyarakat tidak mampu, dan untuk pembiayaan darurat sosial bencana alam.

Officer Bank BJB Pandeglang, Chandra Purnama menjelaskan bahwa pihaknya tidak pernah menyalurkan dana CSR kepada lembaga manapun selain Tawa Sopan. Chandra mengakui, sampai saat ini belum ada tembusan dari Tawa Sopan soal pembangunan Tugu Bundaran.

“Kami justru mempertanyakan aksi massa, karena CSR kami kan sudah disalurkan ke Tawa Sopan. Untuk pembangunan tugu, bisa konfirmasi langsung ke Tawa Sopan. Kami sudah salurkan ke sana,” katanya.

Chandra menyebutkan, seluruh dana CSR yang telah disalurkan BJB tahap pertama sebesar Rp 370 juta, sepenuhnya dikelola oleh Tawa Sopan. Sedangkan BJB, hanya menerima laporan realisasi dana CSR. Tidak hanya itu, tambah Chandra, pihaknya pun belum mengetahui peruntukkan pembangunan Tugu seluas 189 meter persegi itu.

“Menurut kami, CSR memang yang betul-betul memiliki fungsi dan manfaat bagi masyarakat. Belum tahu fungsi pembuatan tugu, apalagi sampai saat ini belum ada tembusan dari Tawa Sopan. Tetapi CSR tahap pertama yang kami salurkan Rp 370 juta, untuk 101 titik bantuan, diantaranya untuk Ponpes, Mushola, dan MCK,” sebutnya.

Terpisah, Ketua Tawa Sopan, Joko Pariono membantah jika pihaknya tidak relevan dalam pengaplikasian dana CSR. Karena ia berdalih, pembangunan Tugu Bundaran masuk dalam kriteria fasilitas umum dan sosial. Dimana pembuatan tugu tersebut, difungsikan sebagai transit dan pintu gerbang menuju lokasi wisata Carita.

“Ini (pembangunan tugu) sudah dilakukan kajian terlebih dahulu oleh konsultan yang ahli dibidangnya. Peruntukkannya untuk gerbang Labuan menuju wisata Carita, untuk memudahkan masyarakat transit menuju lokasi wisata. Otomatis fungsinya banyak, apalagi itu masuk pusat kota Labuan sebagai upaya mendorong ke arah pariwisata,” papar Joko.

Sementara tudingan Tawa Sopan yang cereboh dalam memberi dana bantuan kepada LSM, Joko kembali membantah. Karena ia menilai, pembuatan tugu tersebut telah didukung masyarakat dan diketahui pihak kecamatan.

“Pembangunan tugu itu dilakukan oleh masyarakat secara swakelola melalui lembaga LSM sebagai legalitas. Tetap yang melaksanakan masyarakat. Yang tidak boleh itu dari perusahaan. Penggunaan LSM hanya legalitas untuk administrasi, apalagi itu sudah diketahui kecamatan,” bebernya. (Kr)
Editor: Irdan

Comments
Loading...