Mahasiswa STMIK Triguna Dharma Tuntut Pimpinan Yayasan Mundur

MENARAnews, Medan (Sumut) – Ratusan massa dari mahasiwa STMIK Triguna Dharma memadati ruas jalan saat menggelar aksi dideoan kampus Triguna Dharma, jl A.H Nasution No 73 Medan,  Kamis (27/4/2017)

Aksi yang dipicu atas kebijakan kampus yang dengan semena-mena mengeluarkan SK Drop Out kepada Mahasiswa yang bernama Willy Hamdani dengan alasan yang tidak jelas mengundang aksi solidaritas dari mahasiswa lainnya.

Menurut pimpinan aksi Bobby Nainggolan mengatakan kampus yang saat ini dipimpin ketua yayasan baru seakan-akan mengintimidasi mahasiswa dengan kebijakan yang tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan permendikti no 12 tahun 2013.

” Ini jelas bahwa pihak yayasan mengeluarkan kebijaka yang semena-mena terhadap kami bang, kawan kami di DO karna alasan yg tidak jelas, masak gara gara merokok dan make celana koyak di DO bang kan ga masuk akal, lagian dia merokok ga di kelas diluar nya” tegas Bobby

Bobby juga menjelaskan bahwa ada nya praktik pungli di dalam yayasan yang mewajibkan mahasiswa nya bayar uang 2000 kepada pihak kampus jika telat masuk, dan diharuskan membayar uang pemakaian ruangan aula sebesar Rp 350.000.

” Benar bang ada praktik pungli, kami dikutip uang 2000 sama 350.000 padahal tidak ada di aturan kampus, bahkan tidak di sosialisasikan ke mahasiswa bang” tuturnya

Selanjutnya Ricky Nababan mahasiswa jurusan sistem komputer sekaligus ketua GMKI Komisariat TGD membenarkan hal tersebut.  Menurutnya kampus sudah otoriter dalam pelaksanaan kebijakan nya sedangkan itu tidak diatur dalam statuta kampus, Ricky menjelaskan ada beberapa tuntutan yang harus di kaji ulang oleh pihak yayasan.

“kami disini atas nama mahasiswa triguna dharma bang, yang kami tuntun yaitu pencabutan SK DO teman kami WH yang menjadi korban ke semena-mena birokrat kampus, dan juga pengutipan uang dari mahasiswa, ini kan tidak mendidik, ada dua sistem yang diberlakukan, pertama kami telat dan harus bayar 2000 kepada pihak kampus, kedua setelah bayar kami dilarang masuk kelas dan diharuskan masuk kelas pengganti, jadi ini kan ga mendidik, dan untuk Penggunaan aula kan sudah termasuk dalam biaya SPP kami, padahal kampus awalnya sudah menjelaskan bahwa akses fasilitas diTGD itu full fasilitas, jadi buat apa kami bayar gitu” tegas Ricky

Aksi yang semakin mendapat dukungan mahasiswa lain menuntut pihak pimpinan yayasan untuk melakukan audiensi dengan membawa ban bekas tepat didepan pintu masuk gedung STMIK TGD. Hal tersebut langsung direspon Ketua yayasan Rudi Gunawan.

” Kita akan kembali berdiskusi dengan pihak yayasan, mengenai pemecatan mahasiswa itu dikarenakan yang bersangkutan adalah mahasiswa bantuan bidik misi sudah gagal dalam akademis, dan melanggar etika kampus” ujar Rudi gunawan saat menjelaska kepada massa unjukrasa

Namun jawaban dari pihak yayasan tidak menjawab tuntutan mahasiswa. Bobby menilai bahwa pihak kampus seharusnya mencabut hak beasiswanya bukan mencabut hak kemahasiswaan.

“Kalau gagal akademis, seharusnya bapak mencabut beasiswa nya, bukan hak sebagai mahasiswa, dan masalah etika seharus nya ada dijelaskan pada AD/ART maupun peraturan akadmik kampus, dan kami minta ketua yayasan mundur dari jabatannya” teriak bobby menaggapi

Mahasiswa yang geram akirnya membakar ban bekas ditiga titik sebagai bentuk protes terhadap yayasan yang tidak serius dalam menanggapi aspirasi mahasiswa.

Aksi yang semakin meluas membuat arus jalan dari arah Jl. Jamin Ginting yang melewati Jl A.H Nasution mengalami kemacetan panjang karena massa unjukrasa memakai sebagian badan jalan. (Pik)

Comments
Loading...