Gelar Rakerwil, FKSPN Jateng Tingkatkan Perjuangan Untuk Kesejahteraan Buruh

MENARAnews, Semarang (Jateng) – Federasi Kesatuan Serikat Pekerja Nasional (FKSPN) Provinsi Jateng mengadakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) ke-II di Hotel Siliwangi Semarang. Rakerwil ini secara resmi dibuka pada Jumat (21/04/2017), dan rencananya akan digelar hingga Sabtu (22/04/2017).

Ketua DPW FKSPN Jateng, Nanang Setyono menyampaikan bahwa tantangan serikat pekerja di Jateng sangat berat, khususnya saat dihadapkan dengan upah minimum.

“Rata-rata upah minimum di Jateng hanya sekitar 1,4 juta rupiah, dan nilainya sangat rendah jika dibandingkan dengan provinsi lainnya,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Dia menambahkan, melalui kesempatan Rakerwil ini pihaknya meminta kepada para pemangku kekuasaan agar kesejahteraan buruh dapat lebih diperhatikan lagi.

“Kami berharap kepada pemerintah, dan pihak-pihak terkait lainnya, agar kesejahteraan buruh tidak hanya diukur dengan upah. Namun kami berharap pemerintah dapat memfasilitasi transportasi yang baik, serta biaya pendidikan dan rumah murah yang terjangkau bagi pekerja di Jateng,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, hadir Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional FKSPN Ristadi. Dia mengajak kepada seluruh pimpinan wilayah hingga struktur terbawah di Provinsi Jateng untuk terus melakukan lobi kepada pemerintah agat PP No. 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan dapat dicabut dan diubah.

“Kita akan terus melakukan lobi kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait seperti DPR, BPJS Ketenagakerjaan, Apindo, maupun instansi-instansi terkait lainnya. Dan jika kemudian upaya tersebut tidak dapat menemukan solusi, terpaksa kita akan turun aksi besar-besaran. Namun hingga saat ini, kami yang di pimpinan pusat masih menganggap pemerintah masih bisa diajak berkomunikasi dengan baik,” sebutnya.

Lebih lanjut menurut Ristadi, Rakerwil II FKSPN diharapkan mampu menghasilkan kesepakatan dan masukan untuk perbaikan FKSPN secara khusus di Jateng, serta memberikan solusi-solusi terhadap permasalahan buruh yang belum selesai hingga saat ini.

“Hari ini pentas panggung lapangan bagi aktivis pergerakan adalah terkait isu SARA. Sehingga apabila kita ingin didengar, maka kita harus menunjukkan kekuatan yang lebih besar daripada pergerakan itu,” jelasnya. (da)

Editor: N. Arditya

Comments
Loading...