Audiensi Mahasiswa UPR Berakhir dengan Dugaan Insiden Pemukulan

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) – Audiensi yang diharapkan dapat mampu menyelesaikan persoalan perihal tuntutan yang disampaikan oleh mahasiswa di Universitas Palangka Raya (UPR) perihal persoalan biaya pendidikan seperti Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan lain-lain dirasa tidak tepat sasaran tampaknya berbanding tebalik dengan apa yang diharapkan.

Pertemuan audiensi antara pihak unsur pimpinan Rektorat Unipersitas Palangka Raya (UPR) bersama gabungan dari masing-masing Fakultas yang dibawahi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPR, Sabtu (01/04), di Aula Rahan UPR Kota Palangka Raya tidak membuahkan hasil kesepakatan, bahkan berakhir ricuh dengan dugaan insiden pemukulan tiga mahasiswa oleh pihak keamanan.

Atas insiden tersebut, Presiden BEM UPR Ali Asegaf ketika diwawancarai Menaranews.com menyampaikan, jika audiensi yang diselenggarakan oleh pihak rektor dengan cara seperti ini dengan adanya pemukulan mahasiswa, maka bisa jadi demonstrasi mahasiswa lebih beretika dari audensi dari pihak Rektorat.

“Tujuan audiensi ini mengumpulkan semua kepala jurusan, kepala program studi dan kepala Dekan untuk mengetahui persis persoalannya dimana. Kenapa 4 tahun UKT berjalan ditambah adanya kenaikan ditahun 2014, tidak pernah dirasakan sampai ditingkat prodi sampai tingkat jurusan?” jelas Ali Asegaf.

Pihaknya mengetahui, pengambilan kebijakan berada di Dekan. Akan tetapi teknis di lapangan yang dirasa langsung adalah Kepala Program Studi dan Kepala Jurusan. Akan tetapi lanjutnya, dalam audiensi tersebut tidak sama sekali dihadirkan, bahkan pelaksanaan audiensi sendiri mahasiswa dikekang untuk tidak memotong pembicaraan.

Padahal, jelas-jelas pihak rektorat sendiri selalu memotong pembicaraan. yang memukul duluan ujar Ali menambahkan, jelas-jelas dari pihak satpam, pihaknya hanya menahan agar satpam yang belum diketahui namanya ini tidak lewat, dan pihak satpam bergerak secara impersif sehingga terjadi lah pemukulan itu.

Berkaitan dengan situasi tersebut, Wakil Rektor Bidang Kerjasama UPR Danes Djaya Negara usai meninggalkan aula audiensi dengan situasi yang tidak kondusif ketika itu menyampaikan, mahasiswa berkeinginan agar Kepala Program Studi dan Kepala Jurusan untuk dihadirkan.

“Yang satu ingin audiensi dengan waktu melakukan petemuan dengan pihak Fakultas, untuk merumuskan persoalan. Tapi mereka (Mahasiswa.red) tidak mau. Alasanya ingin dihadirkan Kepala Jurusan dan Kepala Program Studi hari ini, kan ga mungkin” jelas Danes Djaya Negara.

Menurut pertemuan yang dilaksanakan tidak mungkin dilakukan selama seharian, dengan alasan kegiatan bukan seminar sehari tetapi hanya audiensi. Karena situasi seperti itu tadi, makanya harus dikendalikan oleh moderator. Dia juga menginformasikan tanggal 13 April 2017 akan ada pertemuan lagi.

Pantauan dilapangan, audiensi yang dilaksanakan sejak pukul 09:00 WIB tersebut, awalnya berlangsung aman meski susunan acara kegiatan yang dipersiapakan sebelumnya oleh pihak Rektorat tidak berjalan lancar. namun ketika kegiatan ditutup oleh moderator, sontak situasi mulai berubah.

Mahasiswa yang hadir dari masing-masing jurusan meminta kesempatan untuk berbicara, akan terapi hal tersebut tampaknya tidak bisa dipenuhi. semua mahasiswa mulai berdiri dari tempat duduk dan kondisi sudah.mulai tidak kondusif sehingga memicu hal-hal yang tidak diinginkan.

Rektor UPR, Ferdinand ketika itu diamankan oleh sejumlah petugas keamanan untuk keluar dari ruangan dan menuju ruang kerjanya. Beberapa unsur jajajaran Rektor satu persatu meninggalkan ruang aula pertemuan.

Mahasiswa pun turut meninggalkan ruangan, Aparat Kepolisian Resort Palangka Raya datang dan langsung melakukan pengamanan lokasi kejadian.(arli)

Editor: Hidayat

Comments
Loading...