April 2017, Puluhan Orangutan Nyaru Menteng Kembali Dilepasliarkan

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) – Yayasan BOS di Nyaru Menteng, bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah kembali memindahkan 12 orangutan dari Nyaru Menteng ke Pulau Pra-pelepasliaran Salat untuk menjalani tahap akhir rehabilitasinya. Tahap akhir ini perlu dilaksanakan di lingkungan alami yang aman dan terkendali, dan pulau yang memiliki lingkungan yang menyerupai habitat hutan merupakan lokasi yang ideal.

Proses rehabilitasi orangutan dapat mencapai tujuh tahun. Orangutan yang diselamatkan atau disita oleh tim gabungan BKSDA Kalimantan Tengah dan Yayasan BOS menjalani proses rehabilitasi secara bertahap dari baby school dan naik ke sejumlah tingkatan di Sekolah Hutan, mirip sekolah manusia. Tahap akhir rehabilitasi adalah hidup di pulau pra-pelepasliaran. Pulau pra-pelepasliaran ini harus memiliki lingkungan yang menyerupai habitat hutan, memiliki sumber pakan alami yang cukup, terjaga, namun tetap terpantau dengan baik.

Setelah orangutan menyelesaikan tahapan akhir ini dan menunjukkan keterampilan dasar untuk bertahan hidup, mereka bisa kami lepasliarkan di hutan. Saat ini daya tampung ideal di Nyaru Menteng hanya untuk sekitar 300 individu orangutan, sementara jumlah orangutan yang masih direhabilitasi saat ini adalah sekitar 480 individu, dengan lebih dari 100 di antaranya siap memasuki tahap akhir di pulau pra-pelepasliaran.

Oleh karena itu Yayasan BOS mencanangkan target untuk bisa memindahkan setidaknya 100 orangutan dari Nyaru Menteng ke Pulau Salat tahun ini saja. Target tersebut membutuhkan kawasan berhutan yang cukup besar untuk menampung orangutan, dan Yayasan BOS telah bekerja bersama dengan PT. Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) Tbk., untuk mengelola lahan berhutan seluas 2.100 hektar di Pulau Salat, dengan Yayasan BOS mengusahakan 655 hektar dan PT. SSMS Tbk., seluas 1.434 hektar.

Seluruh kawasan ini dinilai sanggup menampung sekitar 200 orangutan dengan hutan yang berkualitas, terisolasi oleh air sungai sepanjang tahun, tidak teridentifikasi memiliki populasi orangutan liar, cukup luas untuk mendukung kemampuan adaptasi, sosialisasi, dan ketersediaan pakan orangutan.

CEO Yayasan BOS, Jamartin Sihite dalam press releasenya menjelaskan, Tahun lalu pihaknya sudah melepasliarkan orangutan yang ke 250 ke habitat aslinya di hutan, sejak 2012. Masih banyak orangutan lain yang menanti di pulau pra-pelepasliaran kami. Kandang-kandang kami telah penuh, namun kami sekarang bisa memanfaatkan Pulau Salat dan kami bisa mulai memindahkan orangutan yang telah lulus Sekolah Hutan di Nyaru Menteng, masuk ke tahap pra-pelepasliaran.” jelas Jamartin Sihite.

Ia menjelaskan, semakin banyak orangutan bisa kami pindahkan, semakin cepat kami dapat mempersiapkan orangutan-orangutan di pulau itu untuk dilepasliarkan di hutan. Pemanfaatan Pulau Salat ini merupakan terobosan yang melibatkan banyak donor di dunia konservasi, pemerintah, masyarakat, serta pelaku bisnis. Kita sudah melihat bahwa apabila kita bekerja bersama, upaya konservasi orangutan dan habitatnya tentu akan terwujud.

Adib Gunawan, Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah mengatakan, untuk bisa melepasliarkan orangutan kembali ke hutan memang proses yang panjang. Salah satunya adalah rehabilitasi tingkat lanjut di habitat yang menyerupai habitat alami mereka di hutan, namun tetap terkendali dan aman.

“Kami di BKSDA Kalimantan Tengah memandang kerja sama antara Yayasan BOS dengan pemerintah daerah Kabupaten Pulang Pisau dan PT. SSMS Tbk., merupakan sebuah terobosan yang sangat brilyan, dan kami mendukung penuh hal ini. Perubahan status konservasi orangutan yang di tahun lalu menjadi “sangat terancam punah” tentu mewajibkan seluruh pemangku kepentingan untuk lebih aktif menjaga dan melindungi orangutan dan habitatnya,” jelas Adib Gunawan.

Sementara itu, H. Eddy Pratowo, S.E., M.M., Bupati Kabupaten Pulang Pisau menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau sepenuhnya mendukung upaya konservasi orangutan yang sejak dulu telah menjadi bagian dari hidup kami, masyarakat Kalimantan Tengah. Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Pulang Pisau sangat bangga bisa berperan aktif dalam kegiatan pelestarian orangutan dan habitatnya.

“Kami berharap model kemitraan yang melibatkan multi stakeholder seperti ini akan bisa terus kita kembangkan,” harapnya

Upaya pemanfaatan Pulau Salat Nusa sebagai suaka bagi orangutan merupakan hasil nyata kolaborasi Yayasan BOS dengan para pemangku kepentingan, antara lain Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, masyarakat di Kecamatan Jabiren Raya yang peduli atas usaha pelestarian orangutan Indonesia,” ujar Eddy.

Disisi lain, Direktur Utama PT. Sawit Sumbermas Sarana Tbk, Vallauthan Subraminam menegaskan, pihaknya sangat menyadari pentingnya upaya pelestarian habitat dan ekosistem, terutama di Kalimantan Tengah ini. Karena itulah perusahaan berkomitmen mengikuti kaidah tata kelola lingkungan yang lestari atau sustainable dan mendukung penuh upaya Yayasan BOS untuk menyediakan habitat pra-pelepasliaran alami bagi orangutan yang siap dilepasliarkan ke hutan, dan kelak, suaka bagi orangutan yang tidak bisa dilepasliarkan ke hutan.

“Kami tidak hanya menyediakan tambahan lahan, kami juga siap memberikan dukungan nyata untuk membuktikan bahwa bisnis yang sustainable bisa berjalan seiring dengan upaya konservasi,” tutup Vallauthan Subraminam.(arli)

Editor : Hidayat

Comments
Loading...