Subsidi Transportasi dan Rumah Kita, Rencana Pemprov Kalteng Menekan Harga Kebutuhan Pokok

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) – Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi tingginya harga komoditi kebutuhan pokok di pasar adalah biaya transportasi. Sehingga tak heran jika harga beberapa kebutuhan akan menjadi mahal ketika biaya transportasi yang dikeluarkan oleh pedagang dibebankan kepada pembeli selain dari keuntungan yang diterima pedagang.

Guna meminimalisir dampak dari faktor tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berencana akan memberikan subsidi transportasi kepada para pedagang. Sehingga barang yang sampai ke tangan pembeli harganya tidak terlalu mahal.

Wacana tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Provinsi Kalteng, Susana Ria Aden, yang menyampaikan agar pedagang sendiri tidak mengambil keuntungan yang begitu besar kepada pembeli.

“Misalnya saja cabai. Pasokan cabai ke wilayah Kalteng ini kan berasal dari Kalimantan Selatan dengan Pulau Jawa. Kalau cabai dari sana sudah mahal, sampai di Kalteng tentu akan lebih mahal lagi,” jelas Susana Ria Aden ke Menaranews.com, Selasa (07/03).

Namun demikian, ujarnya Disdagperin Kalteng ketika melakukan pengecekan harga cabai di Daerah Tangkiling Kota Palangka Raya baru-baru ini, harga cabai relatif lebih murah dari harga yang dijual di pasar tradisional yakni sekitar Rp.60.000 per Kg.

Dirinya tidak menepis kondisi tingginya harga cabai yang dijual di pasar oleh pedagang. Hal tersebut tentunya tidak lepas dari mata rantai jalur pendistribusian barang mulai dari harga yang dibeli pedagang dari pengumpul atau petani.

“Kemudian pedagang yang membeli dari petani atau pengumpul menjual kembali ke pedagang di pasar, tentu dengan harga yang beda atau cukup tinggi dari harga cabai yang dibeli dari petani atau pengumpul tadi,” jelasnya menambahkan.

Memang kebutuhan misalnya cabai kata Susana Ria Aden kembali, tetap memerlukan distribusi dari luar, meskipun di Kalteng sendiri sudah ada petani-petani lokal yang menanam, tapi masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat Kalteng akan cabai.

Oleh karena itu, Pemerintah Daerah akan melakukan pendataan ke pedagang-pedagang yang ada untuk mengetahui informasi lebih dalam mengenai jalur pembelian barang dagangan yang dijual berasal dari mana saja.

“Jadi seandainya pedagang membeli dari daerah Tangkiling harganya Rp.60.000 per Kg. Ketika pedagang membawa dan menjualnya ke pedagang di pasar misalnya saja di Palangka Raya karena sudah disubsidi biaya transportasinya, bisa menjual dengan harga Rp.70.000 an per Kg, jadi sampai ke pembeli tidak terlalu mahal jadinya,” paparnya menambahkan.

Selain keberadaan pasar penyeimbang yang ada hanya satu tempat khususnya di Kota Palangka Raya, Pemprov Kalteng juga berencana akan membangun tempat yang disebut “Rumah Kita” yang ditempatkan di masing-masing Kecamatan atau Kelurahan.

Yang mana komoditi kebutuhan Masyarakat yang dijual di “Rumah Kita” seperti minyak, beras, gula dan lain sebagainya, harganya akan disubsidi oleh Pemerintah. Tentunya hal tersebut dilakukan bekerjasama dengan Bulog dan pedagang-pedagang yang akan menjual tersebut.

“Jadi pedagang ditunjuk oleh Pemerintah. Biaya transportasi, dan honor jaga dibantu. Jadi harga barang yang dijual sama dengan harga yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah, misalnya di Bulog harga beras Rp.12.500 per Kg, di ‘Rumah Kita’ harganya sama. Jadi ini masih kita bicarakan,” tutupnya.(arli)

Editor : Hidayat

Comments
Loading...