Sengketa Lahan Paluh Kurau, Warga Sudah Lama Diintimidasi TNI AL

MENARAnews, Medan (Sumut) – Sebelum puncak penggusuran paksa warga di lahan yang berada di Dusun V Paluh Hiu, Desa Paluh Kurau, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang pada Rabu (09/013/2017), ternyata sebelumnya warga sudah diintimidasi oleh oknum diduga prajurit TNI AL.

Karena para oknum tersebut sudah berulang kali mendatangi rumah warga yang bermukim disana.  Salah satu pemilik lahan, Ludik Simanjuntak memberikan kesaksian soal intimidasi yang diduga dilakukan oknum TNI AL.

Awalnya. pada Jumat  (17/02/2017) Ludik mendapat informasi ada pengusiran yang diduga dilakukan oknum TNI AL.

“Itu diusir sama angkatan laut jam satu malam. Jadi mereka (warga) pergi menggunakan alat bajak tanah. Mereka ke arah perkampungan. Saya datang jam sepuluh pagi kesana,” kata Ludik saat ditemui di Kantor KontraS Sumut, Kamis (09/03/2017).

Saat tiba di lahan, Ludik menyuruh warga sekaligus pengelola lahan, masuk kembali ke rumah.  Keesokan harinya, oknum TNI AL kembali datang dan mau mengecat rumah.

“Saya pertanyakan, kenapa rumah itu mau di cat lagi. Yang datang beda lagi,” katanya.

Tak sampai disitu, Ludik mengatakan, Oknum TNI AL datang kembali di hari berikutnya. Saat itu dipimpin oleh Mayor Sitompul.  Yang lebih parah, Ludik diangkat keluar dari rumah dan diancam akan dibuang ke laut.

“Saya diangkat mereka. Dan diancam mau dibuang ke laut. Saya bilang sama mereka, saya tidak akan mundur dari rumah itu,” kata pensiunan TNI AD berpangkat Pelda itu.

Bahkan saat salah seorang oknum sempat mengatai Ludik dengan sebutan tentara bodoh. Setelah itu mereka langsung pergi.  Hari berikutnya datang Sersan Sembiring dan ingin tinggal di rumah itu. Namun Ludik tetap menolak. Dia beralasan rumah itu sudah penuh.  Para Oknum TNI AL terus menerus datang. Puncaknya terjadi pada Rabu (01/03/2017). Ludik bersama para pekerjanya diusir paksa dari rumah yang sudah dibangun permanen itu.

“Sekitar jam 18.30 WIB mereka langsung menyerbu dan mengusuir kami. Saya langsung diusir keluar. Saya diangkat mereka keluar,” katanya.

Tiba-tiba ada yang menendang Ludik dari belakang. Tak hanya sekali, Ludik harus tersungkur beberapa kali karena tendangan.  Karena merasa terancam, Ludik beserta warga lainnya keluar dari lahan. Namun sesaat meninggalkan lahan, mereka mendengar  suara ledakan dari dalam lahan.

“Ternyata besoknya kita lihat rumah itu sudah rata dengan tanah. Kami tidak terima kalau alutsista itu digunakan untuk warga, dengan dalih latihan,” katanya.

Ludik berharap kasus penganiayaan dan intimidasi tersebut bisa diusut sampai tuntas. Dia bersama warga lainnya akan melaporkan kejadian itu kepada Mabes TNI didampingi oleh KontraS Sumut. (Yug)

Comments
Loading...