Pemerhati Lingkungan Mukomuko Tegas Dukung Penertiban Wisata di Kawasan Cagar Alam

MENARAnews, Kab. Mukomuko (Bengkulu) – Organisasi pemerhati lingkungan di Kabupaten Mukomuko, Kompast (Komunitas Masyarakat Peduli Alam Sekitar) mendukung dengan tegas upaya pemerintah daerah setempat untuk menertibkan objek wisata yang berada di kawasan cagar alam.

“Wajib itu, itu wajib, tertibkan itu, yang menertibkan itu nanti BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam),” tegas Ketua LSM Kompast, Musfar Rusli, saat dijumpai awak media, Rabu (23/03/2017).

Ia menyampaikan, kawasan sepanjang pantai Air Punggur hingga perkampungan nelayan Koto Jaya harus dikembalikan ke status sebenarnya sebagai cagar alam.

Karena, statusnya sebagai lokasi wisata itu dinilai tidak jelas dasar dan kajiannya karena terbukti sampai saat ini, lokasi tersebut tidak mendapatkan perhatian yang baik dari pemerintah setempat.

“Kalau itu daerah tujuan wisata, dasarnya apa dan kajiannya mana, kalau ada kajiannya kenapa selama ini tidak diurus dengan baik,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini lokasi tersebut dibiarkan oleh Pemda Mukomuko untuk dikembangkan karena Kabupaten Mukomuko dinilai sangat minim tempat-tempat yang dapat dikunjungi masyarakat untuk berpiknik dan berwisata.

Selain itu, ada pertimbangan sosial lainnya seperti penggunaan lokasi pantai untuk keperluan pendidikan seperti pada objek wisata Pantai Outbond.

“Ada beberapa pertimbangan, satu, penduduk Mukomuko dinilai tidak ada tempat refreshing sehingga diberikan kelonggaran oleh pemerintah kepada masyarakat untuk mengembangkan secara mini tempat-tempat yang dapat dikunjungi orang untuk beristirahat, bukan berarti boleh, tapi ada kelonggaran, kedua, ada pertimbangan sosial misalkan untuk keperluan pendidikan dan instansi lain untuk melakukan kegiatan seperti outbond,” ungkapnya.

Namun, Ia menegaskan, hal itu merupakan suatu langkah yang salah dan harus dikembalikan sesuai garis aturannya.

Ia mengatakan, suatu lokasi tidak serta merata ditetapkan sebagai lokasi wisata apabila tanpa melakukan kajian-kajian sebelumnya.

Apalagi, tambahnya, kawasan tersebut merupakan buffer area atau zona penyangga yang jika tidak dipertahankan fungsinya akan berdampak pada tergerusnya wilayah Kabupaten Mukomuko oleh abrasi laut.

“Tidak ada kalimat tidak bisa, itu tutup, hijaukan itu, itu kan buffer, penyangga, kalau kita ingin Mukomuko 10 tahun kedepan tidak tergerus lagi, ini harus dilakukan,” pungkasnya. (AL)

Comments
Loading...