Paska Penangkapan Teroris Dimyati Sebut Pemkab Pandeglang Lemah Dalam Pembinaan

MENARAnews, Pandeglang (Banten) – Pasca penangkapan terduga teroris di Pandeglang beberapa waktu lalu, menuai kritikan dari anggota DPR RI, yakni Dimyati Natakusumah, anggota Komisi I DPR RI yang menilai jika munculnya kasus penggerebakan 2 terduga teroris di Pandeglang, menunjukkan lemahnya pengawasan Pemerintah.

Dimyati mengatakan, seharusnya Pemerintah bisa mewaspadai bentuk-bentuk tindakan radikalisme sejak dini. Namun dengan mencuatnya kasus penangkapan teroris di Menes dan Pagelaran kemarin, seakan Pemkab lemah dalam mendeteksi keberadaan bibit terorisme, sehingga mereka leluasa menyusup ke Pandeglang.

“Pemerintah Daerah harusnya melakukan pembinaan. Saya lihat ini sangat lemah. Pada saat saya menjabat menjadi bupati dulu, sekecil apapun kita langsung deteksi, semenjak bibit-bibit teroris itu akan muncul. Kalau sekarang ini kok dibiarkan,” kata Dimyati, Senin (27/3/2013).

Dimyati menyayangkan lemahnya deteksi dini dan pembinaan dari jajaran Pemkab Pandeglang, sehingga kesadaran masyarakat terhadap terorisme pun hampir tidak ada. Untuk itu wajar saja jika saat ini teroris mudah masuk ke kota seribu ulama sejuta santri.

“Saya kira pemerintah itu harusnya sigap saat ada yang ektrim, baik itu tingkat camat maupun desa,” saran mantan Bupati Pandeglang 2 periode itu.

Karena apabila dibiarkan lanjut Dimyati, maka bibit-bibit terorisme di Pandeglang akan terus berkembang. Imbasnya, hal itu sangat mengancam bagi kenyaman investor untuk menanamkan modalnya di Pandeglang. Terlebih, saat ini Pemkab tengah gencar-gencarnya menarik minat investor untuk membuka usahanya di Pandeglang

“Otomatis ini akan berpengaruh terhadap insvestor yang akan masuk ke Pandeglang. Pemkab harus berikan pemahaman kepada para insvestor,” tuturnya.

Kapolres Pandeglang, AKBP Ary Satriyan menegaskan bahwa pihaknya telah berusaha untuk mendeteksi keberadaan teroris di Pandeglang. Hanya saja menurutnya, Polres tidak memiliki kewenangan dalam menindak hal tersebut. Polres ungkap Ary, hanya sebatas melakukan koordinasi dengan Tim Detasemen Khusus (Densus) 88. Ary pun mengakui jika wilayah Pandeglang Selatan, kerap menjadi hunian yang nyaman bagi pelaku radikalisme. Masyarakat yang apatis, serta kondisi geografis yang sulit dijangkau, menjadi sejumlah faktor yang membuat para teroris memilih menetap di Pandeglang.

“Memang diakui, daerah Selatan menjadi basis keberadaan teroris. Faktornya karena masyarakat apatis, kemudian kondisi geografis yang jauh dari jangkauan,” sebutnya.

Wakil Bupati Pandeglang, Tanto Warsono Arban mengaku jika pihaknya telah mengetahui keberadaan teroris di Pandeglang. Namun, hal tersebut sengaja tidak di publikasikan dikarenakan rahasia negara.

“Kemarin yang berhasil ditangkap oleh pihak terkait itu atas koordinasi dengan Pemkab Pandeglang. Ini sengaja tidak kami buka ke media, karena operasi ini harus senyap,” klaim Tanto

Ia mengaku bahwa pihaknya bersama Forum Komunikasi Intelejen Daerah (Forkominda) selalu mengadakan pertemuan satu kali selama satu bulan. Sehingga wajar apabila mengatahui tentang keberadaan teroris di daerahnya.

“Sebulan sekali kami sudah lakukan koordinasi dengan Forkominda untuk membahas terkait adanya radikalisme,” bebernya.

Radikalisme dan terorisme selalu menjadi kajian Forkominda pada setiap pertemuan. Didalam kajian tersebut pihaknya sudah mengetahui akan adanya tersangka. Namun, untuk mengeksekusi tersangka pihak pemkab tidak memiliki wewenang.

“Kita ini hanya mngkaji dan sebatas mengetahui, untuk tindak lanjut kami tidak bisa sejauh itu, karena itu kewenangan pihak kepolisian,” tuturnya. (Kr)

 

Editor: Irdan

Comments
Loading...