http://yoloxxx.com teen camgirl mit geilen titten kommt live zum orgasmus.
spot_img

Menyikapi Fenomena Budaya Meme di Media Sosial

MENARAnews, Medan (Sumut) – Pembentukan opini di media sosial kini diramaikan dengan keberadaan tulisan, gambar atau video berbentuk meme. Sering sebuah meme menjadi viral karena berkenaan langsung isu yang sedang ramai diperbincangkan netizen tanah air.

Meme mulai merambah media sosial sejak empat tahun terakhir. Gejala ini seringkali disebut sebagai gejala budaya meme. Meme saat ini memang sangat erat kaitannya dengan berita yang sedang marak diperbincangkan. Berbagai kejadian dibuatkan meme-nya, tak lupa disangkutpautkan dengan bahasa, kejadian, atau perkataan yang tengah ngetren saat ini.

Meme yang hadir di media sosial dan kemudian menjadi viral sering menggunakan foto atau informasi salah satu pihak. Ekspresi visual kreatif berdasarkan kejadian terkini meskipun disampaikan dengan balutan humor tapi tak jarang kritik tersebut menjadi bumerang di kemudian hari.

Meme pertama kali dikemukakan oleh Richards Dawkins dalam buku The Selfish Gene yang merujuk pada “unit imitasi dan transmisi budaya dalam gen” (1976). Sekarang, di mana-mana, apa pun, agaknya bisa dijadikan bahan meme. Tapi apakah selamanya kita sebagai pengguna media sosial tertawa atau bahkan ikut-ikutan membuat meme? Memang, di era digital seperti ini, pintu bagi masyarakat untuk menyuarakan opini terbuka seluas-luasnya. Tapi di situlah permasalahannya.

Sebagian besar isinya berua lelucon, meski ada pula yang membangkitkan motivasi. Apapun isinya, meme seperti ini terbukti disukai dan menyebar cepat seperti virus. Virus meme yang mungkin paling banyak beredar adalah gambar screen capture film Finding Neverland. Adegan ketika Sir James Matthew Barrie (Johnny Depp) bercakap-cakap dengan Peter Llewelyn Davies (Freddie Highmore) di­bangku taman yang kemudian dikreasikan sedemikian rupa sehingga bisa dibaca secara komikal.

Belum lama ini, keluar meme Raja Salman yang melakukan kunjungan ke Indonesia. Tidak hanya itu, Presiden RI Jokowi juga diikutkan dalam meme tersebut. Kunjungan Raja Salman pada tahun 2017 ini benar-benar mendapat sambutan fenomenal. Selain sambutan yang mewah, para netizen Indonesia juga punya caranya sendiri untuk memberi sambutan kepada Raja Salman dan rombongannya. Mereka menghasilkan karya-karya lucu yang siap mengocok perut tanpa mengurangi rasa hormat kepada Baginda Raja Salman.

Sungguh hal tersebut terjadi karena kretivitas yang dibuat lelucon. Namun , saat ini media sosial bukan hanya digunakan dalam hal yang bermanfaat, tapi juga sebagai bahan lelucon. Hal yang mungkin menjadi resiko adalah keberadaan meme yang anonimitas. Si pembuat meme yang menghakimi salah satu pihak merasa aman dan baik-baik saja, sebab identitas dirinya tidak diketahui publik.

Maka bentuk protes dari pihak yang merasa dirugikan hanya berputar di dunia maya saja. Mestinya dalam hal ini dibutuhkan tindakan hukm yang menindaklanjuti risiko keberadaan meme ini.  Meme dapat merusak pemikiran anak bangsa melalui lelucon yang mempermalukan orang/kelompok. Hal ini dapat dijerat melalui beberapa UU yang menindak pidana kasus semacam ini. Secara umum dimasukkan kan dalam UU yang termuat pada KUHP dalam BAB XVI mengenai Penghinaan, yaitu pada Pasal 310 ayat (1) dan (2). Pasal 310 ayat (1) menyatakan bahwa “Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan.

Sedangkan Pasal 310 ayat (2) menyatakan bahwa “Jika hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambaran yang disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, maka diancam karena pencemaran tertulis dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan (hukum.unsrat.ac.id) Menurut Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 50/PUU-VI/2008 penghinaan yang diautur dalam KUHP (secara offline) tidak dapat menjangkau penghinaan yang dilakukan seacara online.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) memang dibentuk sebelum perkembangan teknologi Internet ada. Untuk mengikuti arus perkembangan teknologi maka dibentuklah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Meme hanya sekadar kritik. Bisa isu sosial, ekonomi, bahkan politik. Dibuat entah hanya untuk bersenang-senang atau memang ada argumentasi tak tersampaikan dengan mulut.

Namun, yang disesalkan adalah, meme yang dibuat untuk menjatuhkan individu atau kelompok dengan alasan kepentingan pribadi atau kelompok juga. Beropinilah dengan baik dan benar. Opini juga bentuk aspirasi dan hak setiap orang. Namun sebaiknya, jangan sampai menjatuhkan, apalagi menyudutkan pihak-pihak yang tak bersalah. Jangan sampai gejala meme merusak kreativitasan kita. Buatlah meme yang positif dan jangan sampai merugikan orang banyak.

Oleh : Seli Alfianti (Penulis Adalah Alumni FKIP UMSU)

 

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,134PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles

dirtyhunter.tube unique blonde woman in art erotica.