Kelurahan Ini Terapkan Sistem Jemput Sampah

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) – Kian bertambahnya jumlah penduduk maka volume sampah pun akan bertambah, kondisi tersebut memaksa pihak Kelurahan Panarung Kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya untuk menerapkan sistem jemput sampah yakni sistem penanganan sampah yang tidak terangkut dengan cara mendatangi rumah-rumah atau pemukiman warga yang berada di kelurahan tersebut.

“Pihak kelurahan sudah lama menerapkan sistem jemput sampah ini, dimana petugas lengkap dengan armada kendaraan jenis tosa atau kendaraan roda tiga dengan bak pengangkutnya mendatangi rumah warga yang sebelumnya  telah terdaftar dan bersedia membayar iuran perbulan agar sampah rumah tangganya terangkut,” ungkap Lurah Panarung, Marliansyah, Rabu (08/03), di ruang kerjanya.

Terlebih menurutnya, sistem tersebut dilakukan setelah di Kelurahan Panarung itu sendiri telah tersedia depo sampah, yang secara otomatis bak-bak tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang tersebar di banyak titik pada kelurahan tidak berfungsi lagi, bahkan dalam perkembangannya sebagian TPS sudah dibongkar, dengan harapan masyarakat dapat memanfaatkan depo yang telah terbangun oleh Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya.

“Nah, bagi warga yang kesulitan mengangkut sampah rumah tangganya, maka bisa diambil oleh petugas. Namun konsisten harus membayar iuran yang berkisar minimal Rp 25 ribu rupiah, bahkan ada yang iurannya agak lebih tinggi tergantung penilaian volume sampah,” ujarnya.

Menurut Marliansyah, inovasi atau terobosan sistem jemput sampah yang pihaknya terapkan tersebut, tidak lain untuk memotivasi warga agar tidak membuang atau menumpuk sampah di depan rumah atau dilahan-lahan kosong. Kalaupun warga tidak bersedia untuk mendaftarkan rumah tangganya, tentu harus disiplin membuang sampahnya ke depo yang sudah tersedia.

“Bila dicermati, maka volume sampah di Kelurahan Panarung ini sangat tinggi, terlebih luasan wilayahnya serta jumlah penduduknya yang padat, begitupula pembangunan perumahan yang kian tumbuh. Sementara armada angkutan sampah yang berupa kendaraan roda tiga berasal dari bantuan pemerintah kota, dirasa masih kurang, yakni hanya sebanyak 20 unit untuk mendatangi pemukiman dengan sebanyak 51 RT. Makanya satu armada bisa mendatangi sampai tiga lingkungan RT/RW. Bagusnya kalau ada tambahan armada lagi. Kalau memungkinkan satu RT ada satu armada,” tuturnya.

Dikatakan Marliansyah, upaya penanganan sampah di wilayahnya itu terus dioptimalkan pihaknya, baik menggerakkan kesadaran warga untuk membuang sampah ke depo sampah yang telah tersedia, maupun menggerakkan petugas dan armada pengangkut sampah. Bahkan kata dia, beberapa komunitas atau kumpulan memiliki program pemanfaatan sampah menjadi bernilai ekonomis pun sudah dilakukan, yaitu memilah sampah organik maupun non organik.

“Kini tinggal memacu bagaimana kesadaran warga untuk membuang sampah pada tempatnya,” pungkasnya.(AF)

Editor : Hidayat

Comments
Loading...