Karhutla Berakibat Serius Pada Anak Didik

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) – Tidak dapat dipungkiri Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kerap terjadi pada tahun-tahun sebelumnya berdampak signifikan terhadap lini kehidupan masyarakat. Tak kalah seriusnya dampak karhutla juga berakibat terhadap keberlangsungan kesejahteraan anak didik.

Seperti yang menjadi kajian riset  dari kegiatan workshop yang mengambil tajuk “Analisis Kebijakan Mengenai Karhutla dan Dampaknya terhadap Anak” yang dilaksanakan antara pihak Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya bersama dengan sejumlah lembaga seperti United Nations Emergency Children’s Fund (UNICEF), United Nations Envirnment Programme (UNEP), Resilience Development Initiative (RDI) dan Wahana Visi Indonesia.

Workshop yang digelar di Aula Peteng Karuhei (PK) I kantor Pemko Palangka Raya, Jumat (10/3), menuangkan beberapa hal penting untuk  mengajak pemerintah dalam menganalisis sejumlah regulasi yang berhubungan dengan dampak karhutla yang masif, karena sangat mempengaruhi keberlangsungan hidup masyarakat  terlebih kesejahteraan anak pada usia sekolah.

Ayu Krishna Yuliawati dari perwakilan RDI mengatakan bahaya dari kabut asap bisa mempengaruhi jam belajar anak di sekolah. Misalkan saat kabut asap sudah mencapai index berbahaya maka sekolah akan meliburkan siswanya.  Namun sialnya, ketika libur akibat pengaruh asap tersebut, malah orang tua tidak dapat menjaga anaknya agar tidak bermain di luar rumah.

“Instruksi untuk meliburkan siswa ini menimbulkan dilema karena anak – anak cendrung memilih bermain di luar rumah, bahkan tidak semua rumah memiliki fentilasi yang baik untuk menyaring udara kotor dan asap yang masuk. Belum lagi, warga cenderung reaktif  dalam hal merespon kabut asap. Mereka mengamati ketebalan asap, lalu mencari informasi, baru mengambil keputusan,” kata dosen dari Universitas Pendidikan Bandung ini.

Sementara itu Kepala Fungsional Pengawas  Sekolah Dinas Pendidikan Provinsi Kalteng, Tundun J. Gantih menilai, instruksi untuk meliburkan siswa pada saat bencana kabut asap bagaikan buah simalakama.

Bagi Tundun, sebaiknya sekolah harus membenahi  infrastruktur yang memadai. Misalkan setiap sekolah perlu menyediakan AC dalam ruang belajar sehingga  proses pembelajaran di sekolah tidak terhambat dan mengurangi potensi siswa terkena kabut asap.

Dalam bagian yang sama kata Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pulang Pisau, Salahudin mengatakan, masalah kesejahteraan anak ini sebenarnya masalah hilir.

“Paling tidak masyarakat diberikan pemahaman lebih dahulu bahwa dampak masif dari terjadinya karhutla,’ cetusnya.

Kegiatan yang juga dihadiri oleh sejumlah SKPD kota Palangka Raya ini juga membahas sejumlah regulasi yang mengatur tentang larangan kebakaran hutan dan lahan.

“Pergub larangan pembakaran lahan sudah dicabut, namun perda kota masih tetap mengatur hal itu,” ujar Emi Abriyani dari BPBD Palangka Raya dalam kesempatan tersebut.(AF)

Editor : Hidayat

Comments
Loading...