Hargai Semua Perbedaan, Tingkatkan Toleransi Umat Beragama

Oleh: Herda Nugraha *)

Sekitar dua bulan lagi, umat muslim Indonesia akan memasuki bulan puasa Ramadhan 2017, atau 1438 H. Lazimnya, dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, akan menetapkan tanggal 1 Ramadhan jatuh pada apa. Penetapan awal puasa ini juga akan diputuskan dalam sidang Isbat di kantor Kementerian Agama, yang dipimpin langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Ada dua metode dalam memutuskan awal Ramadhan, setiap tahunnya. Metode hisab hakiki wujudul hilal (perhitungan matematis berdasar posisi geometris benda langit) digunakan oleh Ormas dan Warga Muhammadiyah. Sedangkan metode rukyatul hilal (pengamatan visibilitas hilal secara langsung dengan kasat mata), digunakan oleh Pemerintah, NU dan Warga NU. Sebenarnya 2 metode ini bisa saja mempersatukan umat islam jika perbedaan perbedaan derajatnya bisa disamakan oleh Muhammadiyah dan NU karena Muhammadiyah menetapkan berapapun derajatnya, ketika hilal sudah di atas 0 derajat, maka layak dijadikan bulan baru. Sedangkan untuk NU bulan baru setelah 2 derajat.

Mudah-mudahan penetapan awal Ramadhan dan lebaran tahun ini juga bersamaan, agar kita tidak disibukkan lagi oleh hiruk-pikuk perbedaan.

Awal Ramadhan tahun ini juga diharapkan tidak dikejutkan lagi dengan adanya aksi sweeping-sweeping yang dilakukan oleh ormas-ormas yang menertibkan situasi yang dianggap mengganggu jalannya ibadah puasa. Misalnya melakukan sweeping tempat hiburan, sweeping tempat penjualan makanan dan tempat-tempat lainnya yang dianggap menganggu jalannya aktivitas puasa Ramadhan. Karena perlu diingat, wewenang melakukan sweeping bukan milik organisasi masyarakat, melainkan wewenang aparat dari pemerintah daerah yang dibantu aparat keamanan, jika diperlukan.

Sejumlah kelompok intoleran yang biasanya selama ini melakukan aksi kekerasan dengan mengatasnamakan agama terutama di bulan Ramadhan pastinya meresahkan masyarakat. Di satu sisi, berdasarkan versi mereka, kelompok intoleran ingin mencegah kemungkaran, namun, sayangnya mereka justru melakukan aksi kekerasan. Padahal, intoleransi merupakan komponen yang sangat berbahaya dalam merongrong persatuan di tengah kemajemukan Indonesia.

Islam merupakan agama yang menjamin rasa aman, bukan agama kekerasan. Intoleransi yang menjangkiti Ormas Islam dapat merusak citra Islam yang damai dan harmonis. Apabila intoleransi sudah semakin kronis, maka persatuan dan kesatuan pun rapuh, dan ini merupakan bahaya besar bagi negara.

Islam adalah agama kedamaian. Sehingga mempertautkan agama ini dengan perilaku kekerasan, terorisme, bom bunuh diri atau tindakan lainnya yang merugikan masyarakat adalah suatu hal yang salah dan keliru sama sekali. Islam membawa pesan damai bagi seluruh umat manusia. Dengan mengikuti ajaran Islam maka seluruh umat manusia bisa menikmati kedamaian.

Begitupun umat muslim juga tidak boleh melakukan kekerasan terhadap kelompok masyarakat yang berbeda paham seperti Ahmadiyah yang merasa bagian dari umat muslim dan ingin membangun rumah ibadahnya sebaiknya menyerahkan kepada aparat penegak hukum terkait yang menindaknya apabila melanggar ketentuan rumah ibadah, jangan melakukan kekerasan dan intimidasi terhadap mereka apabila mereka salah dalam melakukan ibadah sesuai dengan ajaran Islam pada umumnya maka dibimbing untuk kembali kepada ajaran Islam sebenarnya.

Dengan keterlibatan semua elemen masyarakat dalam toleransi semoga bisa memperkuat Persatuan dan Kesatuan Umat Islam pada khususnya dan umumnya umat beragama di Indonesia. Jika nantinya penetapan Hari Raya Idul Fitri 2017/1438 H ini tidak bersamaan, maka janganlah digunakan sebagai pemecah persatuan umat Islam di Indonesia. Hargailah semua perbedaan yang ada dan saling menghormati antar sesama umat Islam dan saling tidak menyalahkan.

*) Mahasiswa Universitas Dharmawangsa Medan, tinggal di Deli Serdang

Comments
Loading...