Dituntut 3 Tahun Penjara, Terdakwa Kasus Perdagangan Satwa Liar Pura-Pura Gila

MENARAnews, Medan (Sumut) – Terdakwa kasus perdagangan kulit hewan pura-pura gila di hadapan jaksa penuntut umum dan majelis hakim Pengadilan Negeri Medan. Hal itu dilakukan Budi alias Akeng saat agar lolis dalam jerat hukuman. 

Sayang sekali, drama pura-pura sakit jiwa itu tidak dipercayai Jaksa Penuntut Umum Sabarita Siahaan. Akeng tetap dituntut hukuman Penjara selama 3 tahun dan 6 bulan.‎

Dalam nota amar tuntutan, terdakwa dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perdagangan satwa liar dilindungi berupa kulit harimau dan trenggiling. ‎

“Meminta kepada majelis hakim yang mengadili dan memeriksa perkara ini, untuk menjatuhkan hukuman kepada terdakwa dengan hukuman penjara selama 3 tahun dan bulan,” sebut Sabarita Cakra VII PN Medan, Selasa (14/03/2017) sore.

Selain hukuman penjara, Jaksa dari Kejati Sumut menuntut terdakwa untuk membayar denda sebesar Rp 50 juta, subsider 3 bulan kurungan penjara.‎ Di hadapan majelis hakim yang diketuai oleh Jhonny Simanjuntak, JPU menilai terdakwa Akeng melanggar Pasal 21 ayat (2) huruf d jo Pasal 40 ayat (2) UU RI No 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Usai mendengarkan tuntutan, majelis hakim menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda pembelaan (pledoi). Kepada wartawan, JPU Sabarita menjelaskan Akeng sempat mengaku pura-pura mengalami gangguan jiwa saat menjalani persidangan. Namun saat diboyong ke Rumah Sakit (RS) Mahoni, Akeng diperiksa di laboratorium, beberapa waktu lalu.

“Dari hasil pemeriksaan laboratorium, Akeng dinyatakan positif mengkonsumsi narkoba jenis sabu. Hasil laboratorium juga dinyatakan dia (Akeng) tidak ada gangguan mental. Makanya hal itulah yang membuat pemberatan dalam tuntutan,” jelasnya.

Sebelumnya, dua terdakwa lain dalam kasus sama yakni Murdani alias Edi dan Sunandar alias Acai divonis oleh majelis hakim selama 2 tahun dan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan. Dalam dakwaan JPU, pada tanggal 10 Oktober 2016, Edi dihubungi Akeng menanyakan apakah ada kulit harimau atau tidak.

Saat itu, Edi menjawab akan melihatnya lebih dulu. Kemudian, pada tanggal 12 Oktober, Edi pergi ke Aceh Jaya dengan menumpang bus untuk menemui Udin.

“Edi menemui Udin untuk membeli kulit harimau dan sisik trenggiling. Edi juga memberikan bayaran kepada Udin sebesar Rp 4 juta setelah mendapatkan satu helain kulit harimau dan tiga kilogram sisik trenggiling,” kata JPU.

Sesampai di Medan pada tanggal 14 Oktober, Edi kembali dihubungi Acai dan menanyakan apakah sudah mendapatkan kulit harimau dan sisik trenggiling. Setelah menjawab ada, Edi diajak Acai untuk menjumpai Akeng yang sudah bersama pembeli di kamar Nomor 415 lantai empat Hotel Madani Jalan SM Raja. Setelah sampai di Hotel Madani, Edi yang membawa kulit harimau dan sisik trenggiling di dalam plastik hitam, bertemu dengan dua petugas kepolisian yang menyaru sebagai pembeli.

Ketiganya langsung digelandang ke Mapolda Sumut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Selain kulit harimau dan sisik trenggiling, barang bukti lain yang disita yakni satu unit mobil Toyota Avanza warna silver (perak) yang digunakan terdakwa untuk membawa kulit harimau dan sisik trenggiling.(yug)

Comments
Loading...