Ayu Tangkal Hoax dengan Edukasi

MENARAnews, Medan (Sumut) – Maraknya informasi bohong, berita palsu, yang akrab disebut hoax, saat ini telah menjadi hal yang mengkhawatirkan masyarakat. Mirisnya, masyarakat gampang sekali menerima hoax. Bahkan Presiden Jokowi pun menyoroti hal tersebut.

Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan Dewan Pers untuk menyaring media online sehubungan dengan informasi palsu atau hoax yang marak beredar melalui dunia maya. Menurut Dewan Pers ada dua hal yang diperhatikan dalam proses verifikasi media, yakni aspek legalitas -apakah pengelola situs sudah berbadan hukum-dan aspek pemberitaan-apakah telah sesuai dengan kode etik jurnalistik.

Setiap media yang sudah terverifikasi akan diberikan semacam barcode oleh Dewan Pers yang terhubung dengan sistem data. Masalahnya, readership dari masyarakat sejatinya tidak memilah hal tersebut. Masyarakat tetap saja akan menyerap informasi yang muncul tanpa menyoal legalitas media.

Disinilah tampaknya perlu juga pendidikan bagi masyarakat untuk menyerap informasi secara baik dan benar. Karena persoalannya bukan sekadar berita palsu, tapi juga mungkin saja terjadi berita keliru. Maksudnya adalah, si penulis berita, dalam hal ini jurnalis, keliru menginterpretasikan pernyataan narasumber, atau narasumber yang malah keliru mengeluarkan statement. Kerap terjadi, seorang pejabat yang tadinya bicara A, lalu ketika muncul reaksi dari masyarakat, menarik ucapannya, dan kemudian enteng saja berkilah wartawannya salah kutip. Alih-alih harus mempertanggungjawabkan pernyataannya, malah wartawan yang dijadikan kambing hitam.

Sayangnya masyarakat pun percaya saja. Ada adagium bahwa pernyataan yang benar itu adalah yang pertama sedangkan yang kedua adalah dusta. Belum lagi kebiasaan pejabat jika pernyataannya menimbulkan distorsi makna, maka enteng saja bilang telah dipelintir. Di sinilah nampaknya aturan main yang bakal diberlakukan akan semakin elok jika seiring sejalan dengan pematangan kedewasaan masyarakat untuk mampu menyimpulkan informasi yang telah dibacanya.

Di bagian lain, narasumber terutama dari kalangan pemerintah, lebih berhati-hati mengeluarkan pernyataan, jangan sampai kemudian menjadi blunder lantas ketika timbul gejolak melemparkan kesalahan kepada jurnalis atau media dengan menuduh salah kutip atau statement dipelintir. Terlepas dari itu, sesungguhnya, jika masyarakat kita sudah dewasa, tidak perlu ada ketakutan-ketakutan akan pengaruh berita hoax.

Kita harap masyarakat kita seperti yang di negara maju, yang menganggap bertia hoax hanyalah sekadar lucu-lucuan, masyarakat bisa membedakan serta meyakini berita itu tidak benar. Bahkan media gossip bisa menghibur.

Mari sama-sama kita wujudkan hal tersebut dengan memberi edukasi pada lingkungan terdekat kita. Mari kita rubah masyarakat yang sangat rentan termakan isu dan gossip menjadi masyarakat yang lebih mahir menilai informasi berdasarkan logika. Kita percaya manakala nanti aturan main ini dijalankan, bukan hanya media yang berhati-hati menurunkan berita melainkan juga narasumber. Dengan demikian energi masyarakat tidak habis hanya untuk digoreng berita bohong seperti selama ini. (red)

Comments
Loading...