Ancaman Komunisme

MENARAnews, Medan (Sumut) – Sejatinya komunisme tidak akan pernah mati dari bumi pertiwi, sebab ia merupakan sebuah ideologi. Setelah sekian lama hilang di era orde baru, sejak jaman reformasi, komunis seakan kembali mendapat tempat di negara demokrasi ini. 

Era keterbukaan dan prinsip penegakan hak asasi manusia yang dijalankan oleh pemerintah saat ini menyebabkan simpatisan ideologi ini berani terang-terangan menunjukkan identitasnya, seperti dr. Ribka Tjiptaning, Bedjo Untung, dan lainnya. Walau tidak sedikit yang hanya berani bermain petak umpet, melakukan sejumlah aksi-aksi menggunakan simbol komunis, aksi vandalisme secara anonim, seperti yang sempat terjadi di Medan, Tebing Tinggi dan beberapa daerah lain di Sumut.

Dari sudut pandang akademis, sebuah ideologi komunis akan terus bertransformasi secara laten dalam perkembangan bangsa.  Pengamat dari Universitas Negeri Medan (UNIMED), DR. Deni Setiawan, M.Si dalam sebuah seminar pernah mengupas perkembangan komunis dari aspek sejarah.

“Ideologi komunis berkembang di Eropa. Hal ini melalui periodisasi sejarah yang memunculkan komunis sebagai salah satu ideologi negara di Uni Sovyet”, terangnya.

Ideologi itu, bersama ideologi liberal dan lainnya masuk ke nusantara dibawa oleh para pemuda Indonesia​ yang pulang setelah belajar dari Eropa.

“Namun, ternyata komunis sangat bertentangan dengan nilai-nilai​ dasar bangsa Indonesia, terutama dengan sila pertama Pancasila yang menekankan pada ketuhanan dan keberagamaan,” jelas Deny.

Menurutnya, nilai-nilai komunis bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan kebangsaan Indonesia, sehingga dalam sejarahnya, suksesi komunisme selalu diwarnai tragedi konflik antar anak bangsa, yang penuh darah. Dalam mengupas ideologi komunis, Deny mengemukakan sejumlah ciri yang meliputi sifat ajaran yang atheis, tidak memanusiakan manusia sebagai makhluk individu, mengutamakan teori perjuangan kelas, menganut sistem politik satu partai, tidak mengenal HAM pada ajaran aslinya, dan identik dengan doktrin revolusi berkelanjutan.

“Sesuai dengan teori Samuel Huntington mengenai ‘The Clash of Civilization’, sebuah ideologi akan terus mengalami pertentangan dalam sejarah suatu bangsa. Maka, bahaya laten komunis ini akan tetap menjadi ancaman dan tantangan bagi ideologi Pancasila di Indonesia,” ungkapnya.

Mencegah tumbuh dan berkembangnya ideologi komunis di Indonesia, Deny menegaskan bahwa perlu terus dilakukan reorientasi ideologi bangsa dalam rangka mempertahankan nilai-nilai asli bangsa Indonesia.

Selain itu, pemerintah harus memperkuat sistem pemerintahan yang menyejahterakan rakyat, sebab kelemahan dalam penyelenggaraan negara dapat menjadi celah ideologi asing merusak Pancasila. (SN)

Comments
Loading...