http://yoloxxx.com teen camgirl mit geilen titten kommt live zum orgasmus.
spot_img

WALHI Sumut Adakan Acara Refleksi Akhir Tahun Lingkungan Hidup

MENARAnews, Medan (Sumut) – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumut mengadakan pertemuan bersama dalam rangka Refleksi AKhir Tahun Lingkungan Hidup di Culture Coffee House Ringroad, Jumat (30/12/2016).

Dalam pertemuan tersebut, turut dihadiri oleh Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN) Sumut, Lembaga Studi dan Advokasi Kebijakan (ELSAKA) Sumut, Serikat Hijau Indonesia (SHI) dan beberapa wartawan dari berbagai media.

“Pertemuan kita kali ini adalah sebagai wujud refleksi kita kepada segala permasalahan mengenai lingkungan hidup di Sumut selama 2016. Selain itu, acara ini juga sebagai usaha kami  untuk terus melakukan silaturahmi kepada rekan-rekan wartawan”, ujar Dana Tarigan, Direktur Walhi Sumut.

Dana menjeleskan, selama tahun 2016 sangat banyak permasalahan mengenai lingkungan yang  harus terus diperhatikan. Misalnya terhadap pengelolaan lahan, saat ini pemerintah sudah mencanangkan 12,7 Ha untuk dikelola oleh masyarakat. Di Sumut sendiri,masyarakat  dapat mengelola lahan sekitar 500 ribu Ha.

Namun meski demikian, masyarakat masih mendapat kesulitan dalam proses perizinan pengelolaan lahan tersebut. Padahal menurutnya, masyarakat adalah pihak yang paling mempunyai kompetensi dalam melakukan pengelolaan terhadap lahan itu sendiri, karena pastinya masyarakat telah mengenal betul kondisi lahan didaerahnya.

Permasalahan lainnya yang terjadi di Sumut yaitu mengenai tanah adat atau tanah ulayat. Saat ini belum adanya payung hukum yang jelas mengenai tanah ulayat membuat masyarakat adat seringkali dihadapkan dengan kasus hukum. Masyarakat dianggap menyerobot lahan yang sedang dioperasikan oleh perusahaan tertentu ditanah ulayat mereka sendiri.

Seperti yang dijelaskan Kusnadi, Plt. Ketua SHI, masyarakat sering kali dimarjinalkan didaerah mereka sendiri.

“Kami sering sekali mendapatkan laporan didaerah bahwa ada masyarakat yang ditahan karena dianggap menyerobot lahan”, jelasnya.

Selain permasalahan lingkungan dipedesaan, pertemuan tersebut juga membahas lingkungan yang berada ditengah kota. Seperti yang dipaparkan oleh Bekni Silalahi (Direktur Elsaka), hutan ditengah kota hari ini juga masih sangat terbatas jumlahnya.

“Bayangkan saja, sesuai peraturan harusnya ada sekitar 5000 Ha hutan kota yang ada di Medan. Namun dalam kenyataannya, saat ini hutan kota tersebut hanya tersedia sekitar 108 Ha yang tersebar di 7 kawasan”, papar Bekni.

Bekni menilai jika seharusnya lingkungan disebuah kota juga ikut bertanggung jawab atas polusi yang terjadi saat ini. Karena sebenarnya aktifitas dikota-kota besarlah yang memberikan dampak paling besar terhadap polusi udara.

Oleh sebab itu Bekni berharap jika pemerintah tanggap dengan permasalahan lingkungan perkotaan tersebut. Apalagi di Kota Medan masih punya kawasan yang mampu dioptimalkan lebih dari 1000 Ha yang terdiri dari kawasan hutan bakau di Medan Belawan, lahan rawa di Medan Labuhan dan Medan Marelan, kawasan Danau Sihombak hingga sempadan sungai sepanjang daerah di Medan. Kawasan-kawasan tersebut merupakan milik pemerintah yang dapat dimaksimalkan Kota Medan untuk ikut berperan serta mengurangi isu interasional yaitu penurunan emisi karbon untuk perubahan iklim.

“Ini hanya bicara niat pemerintah saja. Jangan polusi udara di kota malah harus dipertanggungjawabkan kepada lingkungan di desa”, tegas Bekni. (kar)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,699PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles

dirtyhunter.tube unique blonde woman in art erotica.